JAKARTA – Remaja merupakan salah satu tahap penting di dalam perkembangan manusia. Remaja dikenal sebagai masa transisi dari kanak-kanak menuju dewasa. Banyak perubahan yang terjadi di masa transisi ini, baik perubahan yang berasal dalam diri sendiri maupun dari luar sekitar remaja tersebut. Perubahan dalam diri meliputi perubahan fisik dan emosi, sedangkan dari luar dirinya meliputi perubahan pada lingkungan sosial. Ini adalah fase penting dalam pembentukan kepribadian, setiap tahap memiliki tugas individu untuk mencapai kematangan fisik dan mental. Salah satu contoh kesulitan yang dialami oleh remaja saat menghadapi perubahan tersebut adalah kesulitan saat mereka memasuki masa transisi menuju sekolah lanjutan. Hal ini terjadi pada remaja yang beralih dari tingkat Sekolah Dasar (SD) menuju tingkat Sekolah Menengah Pertama (SMP), atau remaja yang beralih dari tingkat Sekolah Menengah Pertama (SMP) menuju Sekolah Menengah Atas (SMA). (Crockett, dkk 1989)
Masa Sekolah Menengah Pertama (SMP) adalah fase transisi yang penuh gejolak namun indah, di mana remaja awal berada di persimpangan jalan antara melepaskan kepolosan masa kanak-kanak dan menyambut dunia kedewasaan. Dibalik seragam putih-biru, mereka mengalami metamorphosis emosional yang dinamis, belajar mengelola ruang-ruang baru dalam pikiran mereka, serta mulai mempertanyakan dan mencari jati diri yang sebenarnya. Lingkungan sekolah pun bertransformasi menjadi laboratorium sosial sekaligus rumah kedua, tempat di mana rasa canggung menjadi keberanian dan setiap tantangan menjadi batu pijakan penting dalam membentuk karakter serta kemandirian mereka. Transisi menuju jenjang Sekolah Menengah Pertama (SMP) menandai fase krusial bagi remaja awal untuk mulai meninggalkan cara berpikir sederhana dan beralih ke pola pikir yang lebih kritis. Di ruang-ruang kelas inilah mereka tidak sekadar menghafal teori, melainkan mulai mengeksplorasi literasi digital dan menyuarakan pendapat secara mandiri.
Mengenakan seragam putih-biru bukan sekadar ritual pergantian pakaian, melainkan gerbang awal di mana masa remaja telah tiba dengan segala warna-warninya. Fase transisi di SMP ini berjalan layaknya sebuah jembatan yang berselimut kabut keraguan sekaligus gairah penjelajahan, dimana anak-anak kemarin sore mulai mengeja arti tanggung jawab dan bentuk masa depan. Di koridor-koridor sekolah yang riuh, mereka belajar untuk berdamai dengan perubahan fisik yang asing, menata emosi yang pasang-surut, dan perlahan mengukir narasi baru tentang siapa mereka hari ini dan ingin menjadi apa mereka di kemudian hari. Masa transisi sekolah yang terjadi pada remaja saat mereka belum cukup mengembangkan kemampuan menyelesaikan masalah secara mandiri, menujukkan dampak yang lebih parah dibandingkan masa transisi yang terjadi pada tahun-tahun berikutnya.
Hambatan
Namun, langkah mereka di fase ini sering kali terhambat oleh berbagai faktor. Titik awal dari hambatan tersebut muncul dari sisi psikologis siswa sendiri, berupa:
• Instabilitas Emosional: Lonjakan hormon memicu ketidakstabilan emosi (mood swings). Remaja lebih sensitive, mudah cemas, atau meledak-ledak karena bagian otak yang mengatur emosi dan berkembangan lebih cepat daripada bagian otak yang mengatur logika.
• Distraksi dan Validasi Digital: Kesulitan membatasi diri dalam penggunaan media sosial. Remaja awal rentan terjebak dalam pencarian validasi semu (menilai harga diri dari like atau komentar) yang memicu kecemasan sosial dan penurunan fokus belajar.
Penyebab Menurunnya Motivasi Belajar
Ketika rasa lelah dan jenuh mulai membuatmu kehilangan motivasi untuk belajar, ketahuilah bahwa fase tersebut adalah hal yang manusiawi dalam sebuah proses bertumbuh. Menurunnya semangat bukan tanda bahwa seseorang itu gagal, melainkan alarm bahwa pikiranmu butuh jeda sejenak untuk bernapas sebelum melangkah lagi. Menurunnya motivasi belajar adalah ujian terbesar yang akan memisahkan antara siswa itu untuk menyerah pada keadaan atau memilih untuk menjadi pemenang. Masa depan yang cerah tidak pernah dibangun atas fondasi penundaan, melainkan konsisten untuk tetap melangkah meskipun rasa malas sedang mencengkram.
Motivasi menjadi salah satu faktor penggerak bagi siswa untuk mau melibatkan dan mengarahkan dirinya ke dalam pembelajaran hingga mencapai hasil tertentu (Arianti, 2019). Motivasi siswa dapat digerakkan dari faktor eksternal seperti pemberian materi oleh guru yang disusun secara kreatif, dukungan orang tua, sedangkan motivasi dari faktor internal dapat digerakkan dengan adanya minat belajar dari siswa. Dalam pembelajaran di kelas, guru perlu memotivasi siswa. Memberikan motivasi kepada peserta didik, berarti menggerakkan peserta didik untuk melakukan sesuatu atau ingin melakukan sesuatu (Rumhadi, 2017; Sumiati & Triposa, 2021). Pada tahap awal, peserta didik merasa ada kebutuhan dan ingin melakukan suatu kegiatan belajar. Karena seseorang akan terdorong melakukan sesuatu apabila seseorang tersebut merasa ada suatu kebutuhan. Dalam hubungan motivasi dengan kegiatan belajar, yang penting adalah bagaimana caranya menciptakan kondisi atau suatu proses yang mengarahkan siswa itu melakukan aktivitas belajar (Mustika, 2015). Peran guru dalam hal ini sangat penting melakukan usaha-usaha untuk dapat menumbuhkan dan memberikan motivasi agar peserta didiknya melakukan aktivitas belajar dengan baik.
Faktor Internal:
a. Minat Belajar Siswa
Minat belajar adalah kunci utama yang mengubah ruang kelas dari tempat yang membosankan menjadi panggung petualangan yang penuh ingin rasa tahu. Ketika seorang siswa memiliki ketertarikan yang kuat terhadap ilmu pengetahuan, untaian materi serumit apa pun tidak akan lagi dirasa sebagai beban, melainkan sebuah teka-teki yang menantang untuk dipecahkan. Siswa dengan minat yang kuat akan senang belajar meski ada PR atau ulangan. Berbeda dengan siswa yang terindikasi mengalami penurunan motivasi dalam belajar, mereka tidak mengulang Kembali materi yang disampaikan oleh guru bahkan tidak ada keinginan untuk belajar.
b. Kondisi Jasmani
Diketahui bahwa tidak semua siswa itu mengalami penurunan motivasi belajar yang disebabkan karena masalah aspek jasmani. Namun ada beberapa siswa yang memang Ketika kondisi fisiknya kurang sehat dia memilih tidak masuk sekolah atau memilih tidur di kelas. Aspek jasmani yang sehat adalah salah satu faktor yang penting dalam menjalankan suatu aktivitas, salah satunya aktivitas belajar (Octavia, 2020).
Faktor Eksternal:
a) Lingkungan Keluarga
Perhatian dan bimbingan dari orang tua menjadi faktor penting keberhasilan siswa dalam belajar. Orang tua yang menemani, mengarahkan dan membimbing siswa belajar dirumah merupakan salah satu bentuk perhatian orang tua yang baik. Hal ini sesuai pendapat Islamuddin (2012) yang mengemukakan bahwa lingkungan sosial yang lebih mempengaruhi kegiatan belajar ialah orang tua dan keluarga siswa itu sendiri.
b) Lingkungan Sosial (Teman Sebaya)
Lingkungan teman sebaya sangat mempengaruhi motivasi belajar anak. Lingkungan teman sebaya yang baik tentu akan mempengaruhi proses pembelajaran siswa dengan baik juga, sebaliknya jika lingkungan kurang baik misalnya bermain tanpa ada waktu untuk belajar maka motivasi belajarnya juga kurang baik.
Oleh: Julia Novita Sari , Mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia , Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Muhammadiyah Surakarta
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com - Syarat dan Ketentuan - Kebijakan Privasi - Panduan Komunitas - Disclaimer











































































