Keluhan itu muncul hampir di setiap perbincangan: yaitu hama serangga yang menyerang tanaman padi tiap musim, membuat hasil panen menurun dan kualitasnya ikut terganggu. Begitulah gambaran yang didapati mahasiswa pengabdian masyarakat R29 Sub Kelompok 5 Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) Surabaya ketika turun langsung menemui kelompok tani di Desa Lasem, Kecamatan Sidayu, Kabupaten Gresik.
Selama ini, cara yang paling banyak diandalkan petani setempat untuk mengusir hama adalah pestisida kimia. Cara ini memang terasa cepat hasilnya, tetapi kalau dipakai terus-menerus justru membuat biaya produksi membengkak dan lambat laun berdampak pada kesuburan tanah serta ekosistem sawah.
Dari persoalan itu, mahasiswa pemberdayaan masyarakat merancang program pengabdian masyarakat dengan memperkenalkan teknologi tepat guna bernama light trap atau perangkap serangga bertenaga surya. Prinsip kerja alat ini sederhana: yaitu lampu LED menyala otomatis begitu hari gelap dan menarik perhatian serangga hama, lalu serangga tersebut jatuh ke wadah berisi campuran air dan deterjen sehingga tidak bisa keluar lagi.
Mengenal Komponen, Alat Dipasang di Sawah
Program ini dijalankan dalam beberapa tahap: yaitu sosialisasi, pelatihan sekaligus penerapan alat, pendampingan dan evaluasi, hingga upaya keberlanjutan program. Pada sesi sosialisasi, tim menjelaskan keunggulan dan berlebihan dari alat ligh trap sekaligus membuka ruang diskusi dan tanya jawab agar warga bisa langsung menyampaikan pertanyaan.
Antusiasme warga terlihat cukup tinggi. Salah satu pertanyaan yang mengemuka dalam sesi diskusi adalah apakah alat serupa bisa dibuat dalam ukuran lebih kecil untuk dipasang di rumah guna menarik nyamuk, tanda bahwa masyarakat tertarik untuk mencoba potensi teknologi ini dalam kehidupan sehari-hari. Setelah sosialisasi, kegiatan berlanjut ke tahap pelatihan. Pada tahap ini, warga dan kelompok tani tidak diajak merakit alat dari nol, melainkan diberi penjelasan mendetail mengenai setiap komponen light trap, mulai dari fungsi panel surya 6 volt, sensor LDR yang membuat lampu menyala otomatis saat gelap, lampu LED ultraviolet, rangka pipa PVC, kap pelindung, hingga wadah penampung berisi air dan deterjen. Proses pemasangan alat di lahan sawah sendiri dilakukan langsung oleh tim mahasiswa.
Dari sisi lain, untuk satu unit light trap diperkirakan dapat melindungi lahan sawah seluas 0,25 hingga 0,5 hektare. Untuk lahan yang lebih luas, petani cukup menambah unit dengan jarak sekitar 20 sampai 30 meter antaralat. Karena mengandalkan panel surya, alat ini tidak membutuhkan sambungan listrik PLN maupun biaya operasional harian, dan seluruh komponennya bisa dibeli di toko-toko lokal.
Bukan Tanpa Tantanga
Dari kelompok mahasiswa mengakui pelaksanaan program tidak sepenuhnya mulus. Jumlah peserta yang hadir pada sesi sosialisasi lebih sedikit dari target awal karena banyak petani masih disibukkan urusan sawah yang tidak bisa ditinggalkan begitu saja. Jadwal kegiatan pun sempat mundur dari rencana karena koordinasi lapangan membutuhkan waktu lebih panjang dari perkiraan.
Menghadapi kendala tersebut, tim memilih menyesuaikan jadwal secara fleksibel serta menjalin komunikasi lebih intens dengan perangkat desa dan ketua Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) setempat, yang dinilai lebih dipercaya warga. Pendekatan personal semacam ini akhirnya membantu program tetap berjalan hingga tuntas.
Hasil dan Harapan ke Depan
Kelompok mahasiswa menetapkan dua target utama pada program ini, yakni minimal 80 persen peserta sosialisasi memahami materi yang disampaikan, dan minimal 70 persen peserta memahami komponen serta cara kerja alat sehingga mampu mengoperasikan dan merawatnya secara mandiri. Diharapkan dari hasil pendampingan, tingkat pemahaman kelompok tani terhadap pengendalian hama diharap dapat meningkat, dan peserta yang mengikuti pelatihan mampu mengoperasikan serta merawat light trap.
Light trap diharap dapat menjadi alat yang efektif untuk menjebak serangga hama yang aktif pada malam hari, sehingga ketergantungan petani terhadap pestisida kimia dapat mulai berkurang secara bertahap. Sebagai bentuk keberlanjutan, tim membekali kelompok tani dengan panduan perawatan sederhana agar alat tetap bisa dimanfaatkan secara mandiri pada musim tanam berikutnya, bahkan berpotensi dikembangkan lebih lanjut, misalnya dengan mengganti jenis lampu yang lebih terang atau menambah jumlah unit untuk area yang lebih luas.
Kelompok mahasiswa berharap model program semacam ini dapat direplikasi di desa-desa pertanian lain di sekitar Kabupaten Gresik, sebagai salah satu upaya mendorong pertanian yang lebih sehat dan ramah lingkungan.
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com - Syarat dan Ketentuan - Kebijakan Privasi - Panduan Komunitas - Disclaimer











































































