Jakarta, 2026 Dunia kerja berubah sangat cepat. Bagi siswa SMK Pemasaran, mahasiswa vokasi, dan fresh graduate, tantangan hari ini bukan lagi sekadar mencari lowongan pekerjaan. Tantangan yang lebih besar adalah bagaimana membuat kemampuan diri terlihat, dipercaya, dan dipilih oleh industri.
Berangkat dari realitas tersebut, Ahmad Madani, Praktisi Pemasaran & Vokasi, Guru Tamu dan Narasumber Tamu SMK Pemasaran, mendorong generasi muda vokasi untuk mulai menerapkan konsep “Be Your Own CEO”. Konsep ini menekankan pentingnya kepemimpinan diri, portofolio digital, penguasaan AI, dan kemampuan mengomunikasikan nilai diri secara profesional.
Menurut Ahmad Madani, banyak anak muda masih memahami kepemimpinan sebagai sesuatu yang hanya berkaitan dengan jabatan, ruang rapat, atau posisi manajerial. Padahal, bagi generasi vokasi, kepemimpinan justru dimulai dari hal yang paling dekat: kemampuan mengelola disiplin, waktu, kompetensi, dan arah masa depan sendiri.
“Leadership bukan dimulai ketika seseorang menjadi manajer. Leadership dimulai ketika seorang siswa berani bertanggung jawab atas perkembangan dirinya sendiri. Di era digital, setiap anak vokasi harus belajar menjadi CEO bagi dirinya sendiri,” menurut Ahmad Madani.
Sebagai praktisi yang aktif menjembatani dunia industri dan pendidikan vokasi, Ahmad Madani dikenal melalui berbagai kegiatan guru tamu, seminar, pelatihan, sinkronisasi kurikulum, serta pendampingan siswa dan guru SMK Pemasaran. Profil publiknya mencatat keterlibatan dalam pembinaan lebih dari 400 SMK dari Aceh hingga Papua, serta perannya sebagai Juri Nasional LKS bidang Pemasaran/Digital Marketing sejak 2019.
Bagi Ahmad, ruang kelas vokasi menyimpan banyak cerita yang sering kali belum terlihat oleh industri. Ia kerap bertemu siswa yang sebenarnya memiliki kemampuan praktik yang kuat, mampu membuat strategi promosi, melakukan presentasi produk, menjalankan live selling, hingga menyusun kampanye digital sederhana. Namun, banyak dari karya tersebut berhenti di ruang kelas dan tidak pernah berubah menjadi portofolio.
Padahal, menurut Ahmad Madani, satu proyek sekolah yang didokumentasikan dengan baik dapat menjadi pintu masuk menuju kesempatan magang, kerja, bahkan kolaborasi bisnis.
“Saya sering melihat siswa SMK Pemasaran punya karya bagus, tetapi setelah nilai keluar, proyeknya selesai begitu saja. Ini yang harus diubah. Setiap tugas praktik bisa menjadi aset karier jika dikemas sebagai portofolio digital,” menurut Ahmad Madani.
Ahmad menggambarkan situasi ini melalui kisah sederhana. Ada siswa yang setelah lulus hanya mengandalkan CV satu halaman dan mengirimkannya ke banyak perusahaan. Di sisi lain, ada siswa yang sejak kelas XI mulai mengunggah dokumentasi proyek, menulis proses belajar di LinkedIn, membagikan analisis sederhana di Kompasiana, dan menunjukkan hasil praktik pemasaran melalui media sosial profesional.
Perbedaannya terlihat ketika memasuki dunia kerja. Siswa pertama menunggu panggilan. Siswa kedua mulai dikenal, ditemukan, dan dihubungi oleh orang-orang industri.
Menurut Ahmad Madani, inilah esensi dari personal branding vokasi. Personal branding bukan berarti pencitraan kosong, melainkan cara jujur untuk menunjukkan kompetensi, proses belajar, dan bukti kerja nyata.
Dalam konteks SMK Pemasaran, Ahmad menilai personal branding dapat dibangun melalui tiga fondasi utama. Pertama, siswa harus berani mendokumentasikan proyek. Kedua, siswa perlu memahami cara menggunakan teknologi digital dan AI. Ketiga, siswa harus mampu menjelaskan pengalaman dengan struktur komunikasi yang jelas.
Salah satu metode yang ia dorong adalah P-A-R: Problem, Action, Result. Melalui metode ini, siswa diajak menjelaskan masalah yang dihadapi, tindakan yang dilakukan, dan hasil yang dicapai. Formula ini dapat digunakan untuk wawancara kerja, presentasi proyek, lomba kompetensi siswa, maupun konten portofolio digital.
“Industri tidak hanya ingin mendengar bahwa seorang siswa rajin atau pekerja keras. Industri ingin melihat bukti. Apa masalah yang pernah diselesaikan? Apa tindakan yang dilakukan? Apa hasilnya? Di situlah portofolio menjadi sangat penting,” menurut Ahmad Madani.
Selain portofolio, Ahmad juga menekankan pentingnya penguasaan Artificial Intelligence (AI) bagi siswa dan guru pemasaran. Dalam berbagai kegiatan sebagai narasumber tamu, ia kerap membawakan tema seperti AI Marketing, Prompt Engineering, live selling, social commerce, Answer Engine Optimization, dan Generative Engine Optimization. Topik-topik tersebut juga tercantum sebagai bagian dari keahlian dan materi vokasi yang ia bawakan untuk sekolah serta institusi pendidikan.
Menurut Ahmad Madani, AI tidak seharusnya dipandang sebagai ancaman, melainkan sebagai alat bantu untuk mempercepat riset, menyusun ide konten, membaca tren pasar, membuat simulasi promosi, dan meningkatkan kualitas strategi pemasaran.
“Anak muda tidak akan digantikan oleh AI. Tetapi anak muda yang tidak mau belajar AI bisa tertinggal oleh anak muda lain yang lebih siap menggunakan AI. Karena itu, siswa SMK Pemasaran harus naik kelas dari sekadar pengguna teknologi menjadi pengendali teknologi,” menurut Ahmad Madani.
Ia juga menyoroti pentingnya AEO dan GEO dalam dunia pemasaran masa depan. Jika sebelumnya banyak orang hanya fokus pada SEO agar muncul di halaman mesin pencari, kini pelaku pemasaran perlu memahami bagaimana konten, profil, dan brand dapat ditemukan oleh mesin jawaban berbasis AI, seperti AI Overviews, ChatGPT, Perplexity, dan platform generatif lainnya.
Dalam konteks siswa vokasi, pemahaman AEO dan GEO dapat dimulai dari hal sederhana: menulis portofolio dengan struktur yang jelas, menjawab pertanyaan yang sering dicari industri, menggunakan judul yang spesifik, mencantumkan hasil proyek secara konkret, dan membangun rekam jejak digital yang konsisten.
Menurut Ahmad Madani, siswa SMK Pemasaran harus memahami bahwa mereka bukan hanya calon pekerja, tetapi juga “produk profesional” yang perlu dikemas dengan baik. Ijazah tetap penting, tetapi ijazah hanyalah tiket masuk. Yang membuat seseorang dipilih adalah bukti kompetensi, karakter, komunikasi, dan kemampuan beradaptasi.
“Kalau siswa vokasi ingin dilirik industri, jangan hanya menunggu lulus. Mulailah membangun jejak digital sejak sekarang. Tunjukkan proses belajar, dokumentasikan proyek, tulis studi kasus, dan gunakan media sosial sebagai etalase karya,” menurut Ahmad Madani.
Sebagai Guru Tamu dan Narasumber Tamu SMK Pemasaran, Ahmad Madani berharap sekolah vokasi semakin aktif menghadirkan pengalaman industri nyata ke dalam ruang kelas. Menurutnya, kolaborasi antara guru, praktisi, asosiasi profesi, dan dunia usaha sangat penting agar kompetensi siswa tidak tertinggal dari kebutuhan pasar.
Peran Ahmad dalam ekosistem vokasi juga diperkuat melalui keterlibatannya sebagai Co-Founder AGMARI (Asosiasi Guru Marketing Indonesia) dan Sekretaris Jenderal KOMISI (Asosiasi Komunitas Profesi Sales Indonesia). Kedua peran tersebut menegaskan fokusnya dalam menghubungkan kompetensi pemasaran, profesi sales, dan pendidikan vokasi di Indonesia.
Ahmad meyakini bahwa masa depan lulusan SMK Pemasaran akan semakin cerah jika mereka tidak hanya dilatih untuk menjual produk, tetapi juga memahami cara menjual ide, menjual nilai, dan mempresentasikan potensi diri secara profesional.
Bagi Ahmad, profesi pemasaran bukan sekadar tentang menawarkan barang. Pemasaran adalah keterampilan hidup. Di dalamnya ada keberanian berbicara, kemampuan membaca kebutuhan orang lain, disiplin membangun relasi, serta ketangguhan menghadapi penolakan.
“Sales dan marketing bukan profesi kelas dua. Ini adalah keahlian hidup. Jika dikuasai dengan benar, kemampuan pemasaran bisa mengubah masa depan seorang anak vokasi,” menurut Ahmad Madani.
Melalui pesan “Be Your Own CEO”, Ahmad Madani mengajak siswa SMK Pemasaran untuk tidak menjadi penonton dalam perubahan zaman. Mereka harus berani mengambil alih kemudi karier sejak dini, membangun portofolio, belajar AI, memperkuat komunikasi, dan menampilkan karya nyata kepada dunia.
Ia menegaskan bahwa generasi vokasi Indonesia memiliki potensi besar untuk menjadi talenta unggulan industri. Namun, potensi tersebut harus dipimpin, dilatih, dikemas, dan dipasarkan dengan strategi yang tepat.
“Jangan menunggu kesempatan datang. Bangun kesempatan itu. Jadilah CEO bagi diri sendiri, karena masa depan akan lebih berpihak kepada anak muda yang berani belajar, berani tampil, dan berani membuktikan diri melalui karya,” tutup Ahmad Madani.
Tentang Ahmad Madani
Ahmad Madani adalah Praktisi Pemasaran & Vokasi, Guru Tamu dan Narasumber Tamu SMK Pemasaran, Co-Founder AGMARI, serta Sekretaris Jenderal KOMISI. Ia aktif membawakan materi seputar pemasaran digital, live selling, AI Marketing, personal branding, AEO, GEO, dan penguatan kompetensi vokasi. Profil publik Ahmad Madani mencatat keterlibatannya dalam pembinaan lebih dari 400 SMK dari Aceh hingga Papua serta perannya sebagai Juri Nasional LKS bidang Pemasaran/Digital Marketing sejak 2019
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com - Syarat dan Ketentuan - Kebijakan Privasi - Panduan Komunitas - Disclaimer




































![Blok M Jadi Surga Nongkrong Gen Z di Jakarta Selatan 36 Kepadatan pengunjung kawasan Blok M
[Sumber Foto : Dokumentasi Pribadi]](https://siaran-berita.com/wp-content/uploads/2026/06/1000862511-360x180.jpg)















![Pentingnya Pengabdian Mahasiswa Administrasi Negara dalam Edukasi Literasi untuk Meningkatkan Bijak Bermedia Sosial 51 {"remix_data":[],"remix_entry_point":"challenges","source_tags":["local"],"origin":"unknown","total_draw_time":0,"total_draw_actions":0,"layers_used":0,"brushes_used":0,"photos_added":0,"total_editor_actions":{},"tools_used":{"transform":1},"is_sticker":false,"edited_since_last_sticker_save":true,"containsFTESticker":false}](https://siaran-berita.com/wp-content/uploads/2026/06/Picsart_26-06-26_22-05-01-074-75x75.jpg)






















