Dalam beberapa waktu terakhir, kita kembali dihadapkan pada kenyataan yang tidak ringan. Nilai tukar rupiah mengalami tekanan, harga kebutuhan pokok cenderung meningkat, dan kenaikan harga BBM berdampak pada hampir seluruh sektor kehidupan. Biaya transportasi naik, harga barang ikut merangkak, sementara penghasilan sebagian masyarakat tidak bertambah secara signifikan.
Di tengah kondisi seperti ini, Al-Qur’an mengajarkan agar seorang mukmin tidak hanya melihat persoalan dari sisi ekonomi, tetapi juga menjadikannya sebagai sarana muhasabah (introspeksi) dan penguatan spiritual.
Allah Ta’ala berfirman:
وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِّنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِّنَ الْأَمْوَالِ وَالْأَنْفُسِ وَالثَّمَرَاتِ ۗ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ
“Sungguh Kami akan menguji kalian dengan sedikit rasa takut, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Baqarah: 155)
Ayat ini menunjukkan bahwa gejolak ekonomi bukanlah fenomena baru dalam kehidupan manusia. Berkurangnya daya beli, menurunnya nilai kekayaan, atau sulitnya memenuhi kebutuhan hidup merupakan bagian dari ujian yang Allah tetapkan untuk mengukur kualitas keimanan hamba-Nya. Namun Al-Qur’an juga mengajarkan bahwa krisis tidak selalu semata-mata disebabkan oleh faktor eksternal. Ada kalanya berbagai kesulitan merupakan cermin dari perilaku manusia sendiri.
Allah berfirman:
ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ
“Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia.” (QS. Ar-Rum: 41)
Imam Ibnu Katsir menjelaskan bahwa berbagai bentuk kerusakan yang terjadi di muka bumi merupakan akibat dari dosa dan penyimpangan manusia dari petunjuk Allah. (Tafsir Ibnu Katsir, tafsir QS. Ar-Rum: 41, Juz 6, hlm. 320, Dar Thayyibah).
Karena itu, ketika ekonomi sedang sulit, seorang muslim tidak hanya sibuk menyalahkan keadaan, pemerintah, pasar global, atau pihak lain. Ia juga bertanya kepada dirinya sendiri, “Sudahkah hartanya bersih dari riba? Sudahkah zakat dan sedekah ditunaikan? Sudahkah amanah dan kejujuran ditegakkan dalam pekerjaan dan usaha?”.
Krisis ekonomi sejatinya juga menguji gaya hidup manusia. Selama masa lapang, tidak sedikit yang terjebak dalam budaya konsumtif, berlebihan dalam belanja, dan menjadikan gengsi sebagai kebutuhan. Ketika kondisi ekonomi berubah, barulah terasa betapa rapuhnya fondasi kehidupan yang dibangun di atas kemewahan semu.
Padahal Allah mengingatkan:
وَلَا تُسْرِفُوا ۚ إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الْمُسْرِفِينَ
“Janganlah kalian berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan.” (QS. Al-An’am: 141)
Dalam perspektif sosial, kondisi ekonomi yang sulit seharusnya melahirkan solidaritas, bukan individualisme. Saat sebagian orang kesulitan membeli kebutuhan pokok, Islam mengajarkan agar yang memiliki kelebihan membantu saudaranya.
Rasulullah ﷺ bersabda:
مَنْ كَانَ مَعَهُ فَضْلُ زَادٍ فَلْيَعُدْ بِهِ عَلَى مَنْ لَا زَادَ لَهُ
“Barang siapa memiliki kelebihan bekal, hendaklah ia memberikannya kepada orang yang tidak memiliki bekal.” (HR. Muslim no. 1728)
Imam An-Nawawi menjelaskan bahwa hadis ini menunjukkan besarnya anjuran untuk membantu kebutuhan kaum muslimin dan meringankan kesulitan mereka. (Syarh Shahih Muslim, Juz 12, hlm. 170, Dar Ihya’ At-Turats Al-‘Arabi).
Di saat yang sama, seorang mukmin tidak boleh kehilangan optimisme. Sebab rezeki tidak semata-mata ditentukan oleh kurs mata uang, harga minyak dunia, atau kondisi pasar. Semua itu hanyalah sebab, sedangkan pemberi rezeki yang sesungguhnya adalah Allah.
Allah berfirman:
وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ
“Barang siapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan memberinya jalan keluar dan memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka.” (QS. Ath-Thalaq: 2-3)
Ibnu Rajab Al-Hanbali menegaskan bahwa ketakwaan merupakan sebab terbesar datangnya jalan keluar dari berbagai kesempitan dunia maupun akhirat. (Jāmi’ al-‘Ulūm wa al-Hikam, hlm. 430, Muassasah Ar-Risalah).
Karena itu, ketika rupiah melemah dan kehidupan terasa semakin berat, jangan sampai yang melemah adalah iman kita. Justru saat seperti inilah kesabaran diuji, solidaritas dibutuhkan, gaya hidup harus diperbaiki, dan ketergantungan kepada Allah harus semakin dikuatkan. Krisis ekonomi boleh datang silih berganti, tetapi seorang mukmin selalu memiliki pegangan yang tidak pernah mengalami inflasi, yaitu iman, takwa, dan tawakal kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Wallahu A’lam.
Penulis: Hilman Abdullah, S.Hum (Guru MAN 1 Yogyakarta)
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com - Syarat dan Ketentuan - Kebijakan Privasi - Panduan Komunitas - Disclaimer










































































