Coba perhatikan sekeliling di kampus. Banyak mahasiswa yang begitu percaya diri berbicara dalam bahasa Inggris saat presentasi, tetapi tiba-tiba kikuk ketika harus menulis skripsi dengan bahasa Indonesia yang baik dan benar. Aneh, bukan? Padahal bahasa Indonesia adalah bahasa yang mereka pakai setiap hari, sejak kecil, bahkan sebelum mengenal huruf alfabet dalam bahasa asing sekalipun.
Fenomena ini ternyata bukan sekadar perbincangan yang beredar di ruang dosen. Di berbagai perguruan tinggi, cukup banyak mahasiswa yang lancar menyelipkan istilah-istilah asing dalam percakapan sehari-hari, tetapi kesulitan menyusun kalimat yang runtut saat menulis. Ironisnya, hal ini terjadi di negeri yang bahasa nasionalnya justru menjadi pemersatu lebih dari tujuh ratus bahasa daerah.
Ketika Bahasa Sendiri Dianggap Kelas Dua
Selama ini, mata kuliah Bahasa Indonesia di perguruan tinggi kerap dipandang sebelah mata. Banyak yang menganggapnya sekadar pelengkap kurikulum, bukan mata kuliah yang benar-benar menentukan kualitas lulusan. Padahal, kemampuan berbahasa Indonesia yang baik adalah dasar dalam dunia akademik, mulai dari menulis karya ilmiah, menyusun argumen, hingga berkomunikasi secara formal dengan dosen, atasan, maupun rekan kerja.
Sejumlah dosen bahkan sering mengeluhkan hal serupa. Tidak sedikit mahasiswa yang masih kebingungan membedakan kalimat efektif dan kalimat yang bertele-tele, keliru menempatkan tanda baca, atau tidak yakin mana kata baku dan mana yang tidak. Bukan karena mereka kurang cerdas, melainkan karena pembelajaran bahasa Indonesia sejak jenjang sebelumnya memang sering kali hanya formalitas semata. Sayangnya, di bangku kuliah pun pembelajaranya justru semakin dipangkas, seolah dianggap sudah cukup dikuasai sejak sekolah menengah.
Bukan Sekadar Soal Rasa Cinta Tanah Air
Menariknya, kepentingan pengajaran bahasa Indonesia di perguruan tinggi sebenarnya jauh lebih praktis disini bermakna, bagaimana penggunaan bahasa Indonesia di dunia perkuliahan daripada sekadar slogan cinta tanah air yang sering kita dengar. Kemampuan berbahasa yang baik ternyata berkaitan erat dengan kualitas berpikir seseorang. Mahasiswa yang mampu menyusun kalimat dengan jelas dan runtut, biasanya juga terbiasa berpikir secara sistematis dan logis. Sebaliknya, tulisan yang berbelit-belit sering kali mencerminkan gagasan yang belum matang dari penulisnya.
Di dunia kerja, keterampilan ini juga tidak kalah penting. Proses rekrutmen di berbagai perusahaan kini kerap menyaring kandidat dari kemampuan mereka menulis laporan, menyusun proposal, atau sekadar mengirim surel dengan bahasa yang jelas dan sopan. Sehebat apa pun sebuah ide, jika disampaikan dengan bahasa yang berantakan, gagasan itu bisa saja gagal dipahami, bahkan diabaikan begitu saja.
Cermin dari Ruang Kelas
Gambaran ini semakin terasa nyata bila kita menengok kembali ke ruang-ruang kuliah. Tidak jarang, mahasiswa yang tampil percaya diri saat berdiskusi dalam bahasa Inggris justru terlihat gugup ketika diminta menyampaikan gagasan yang sama dalam bahasa Indonesia secara runtut dan sistematis. Ada semacam anggapan keliru bahwa berbahasa Indonesia dengan baik itu “sudah pasti bisa”, sementara berbahasa asing dengan baik dianggap sebagai pencapaian yang lebih tinggi dan lebih layak diperjuangkan.
Padahal, jika ditelusuri lebih jauh, kesalahan berbahasa yang sering muncul dalam tugas akhir mahasiswa bukan hanya soal ejaan atau tanda baca yang keliru. Persoalannya lebih dalam, yaitu ketidakmampuan menyusun alur berpikir secara runtut dalam bentuk tulisan. Satu paragraf bisa memuat tiga gagasan berbeda sekaligus, transisi antaride terasa dipaksakan, dan kesimpulan sering kali tidak sinkron dengan pembahasan sebelumnya. Semua ini bukan sekadar persoalan tata bahasa, melainkan cerminan dari lemahnya latihan berpikir kritis yang semestinya dibangun sejak dini melalui pembelajaran bahasa yang serius.
Kondisi ini diperparah oleh minimnya kebiasaan membaca di kalangan mahasiswa. Ketika kebiasaan membaca teks-teks berbahasa Indonesia yang berkualitas berkurang, secara alami kemampuan menulis pun ikut menurun. Bahasa, pada akhirnya, adalah keterampilan yang terbentuk dari kebiasaan, bukan sekadar hafalan aturan tata bahasa yang diujikan di atas kertas.
Saatnya Kampus Mulai Berbenah
Sejumlah kalangan akademisi mulai menyuarakan perlunya perubahan cara pandang terhadap pengajaran bahasa Indonesia di perguruan tinggi. Mata kuliah ini semestinya tidak lagi dijalani sekadar sebagai formalitas dua satuan kredit semester (SKS) yang dilewati tanpa semangat. Diperlukan pendekatan yang lebih relevan dengan kebutuhan mahasiswa masa kini, misalnya dengan mengaitkan materi penulisan karya ilmiah, literasi digital, dan keterampilan komunikasi publik ke dalam satu kesatuan pembelajaran yang lebih hidup.
Beberapa kampus bahkan sudah mulai mencoba pendekatan baru, seperti mengganti tugas menulis esai konvensional dengan proyek menulis artikel populer, membuat konten edukatif, atau menyusun laporan berbasis riset yang lebih dekat dengan realitas dunia kerja. Langkah semacam ini patut diapresiasi, sebab pembelajaran bahasa yang relevan dan kontekstual jauh lebih mudah melekat dibandingkan sekadar menghafal kaidah tata bahasa dari buku teks.
Bahasa yang Terlihat Sepele, tetapi Berdampak Besar
Jika kondisi ini dibiarkan berlarut-larut, bukan tidak mungkin generasi mendatang akan semakin jauh dari kemampuan berbahasa Indonesia yang mumpuni. Sebuah permasalahan besar, mengingat bangsa ini tengah berupaya memperkuat identitas dan daya saingnya di kancah global. Bagaimana mungkin kita berbicara tentang daya saing internasional, jika untuk menyampaikan gagasan dalam bahasa sendiri saja kita masih tertatih-tatih?
Pengajaran bahasa Indonesia di perguruan tinggi sesungguhnya bukan sekadar soal nilai akademik. Ia adalah investasi jangka panjang bagi kemampuan berpikir, menulis, dan berkomunikasi mahasiswa, kompetensi yang akan terus mereka bawa jauh setelah lulus dan meninggalkan bangku kuliah.
Pertanyaannya kini kembali kepada kita semua: masihkah pantas menganggap bahasa sendiri sebagai hal yang sepele?
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com - Syarat dan Ketentuan - Kebijakan Privasi - Panduan Komunitas - Disclaimer







































































