Semarang, 18 Juni 2026 – Bagi sebagian mahasiswa Universitas Negeri Semarang (UNNES), menunggu Bus Rapid Transit (BRT) Trans Semarang di halte asrama telah menjadi bagian dari rutinitas sebelum perkuliahan dimulai. Meski kepadatan penumpang masih kerap terjadi pada jam sibuk, tarif yang terjangkau dan kemudahan akses membuat layanan ini tetap menjadi pilihan utama bagi banyak mahasiswa yang tidak memiliki kendaraan pribadi.
Halte di depan Asrama Putri 1 UNNES menjadi salah satu titik yang ramai setiap hari. Pada hari-hari perkuliahan, antrean pengguna mulai terlihat sejak pukul 06.30 WIB. Banyak mahasiswa memanfaatkan aplikasi Trans Semarang untuk memantau posisi bus dan menyesuaikan waktu keberangkatan. Tidak sedikit pula yang memilih datang lebih awal untuk menghindari kepadatan penumpang.
Via, mahasiswa Ilmu Politik angkatan 2024, mengaku hampir setiap hari menggunakan BRT karena tidak membawa kendaraan pribadi ke Semarang. Menurutnya, tarif yang murah menjadi alasan utama memilih transportasi tersebut dibandingkan layanan transportasi daring.
“Kalau pagi kadang sampai jalan ke halte sebelumnya karena halte asrama penuh orang. Pernah juga tidak kebagian bus saat kelas pagi, jadi hampir telat masuk kuliah,” ujarnya.
Ia mengatakan kondisi halte biasanya paling ramai pada pagi hari ketika banyak mahasiswa berangkat kuliah. Jika armada yang datang sudah penuh, ia harus menunggu bus berikutnya atau menggunakan transportasi daring apabila waktu perkuliahan sudah terlalu mepet.
Pengalaman serupa dirasakan Istahwa, mahasiswa Pendidikan Geografi angkatan 2023. Ia mengaku telah menggunakan BRT sejak awal masa perkuliahan dan masih mengandalkannya hingga saat ini.
“Kalau Senin pagi biasanya penuh karena banyak yang kelas pagi. Pernah beberapa kali harus menunggu bus berikutnya,” katanya.
Menurut Istahwa, keberadaan BRT sangat membantu pengguna yang tidak memiliki kendaraan pribadi. Selain biaya yang terjangkau, fasilitas pendingin udara membuat perjalanan menuju kampus terasa lebih nyaman.
Sementara itu, Meida, mahasiswa Teknik Elektro angkatan 2024, menilai BRT menjadi pilihan transportasi yang aman dan ekonomis. Ia mengatakan layanan tersebut cukup membantu, terutama saat cuaca tidak mendukung untuk menggunakan kendaraan roda dua.
“BRT menurut aku aman karena terlindung dari cuaca. Harganya juga murah, jadi lebih hemat,” ujarnya.
Meski demikian, Meida berharap fasilitas dan pelayanan dapat terus ditingkatkan. Ia menyoroti kondisi armada yang terkadang kurang nyaman dan pengalaman penumpang yang harus menunggu armada berikutnya ketika bus penuh pada waktu-waktu tertentu.
Tarif khusus sebesar Rp1.000 bagi pelajar dan mahasiswa menjadi salah satu alasan tingginya minat penggunaan BRT di kalangan mahasiswa. Sementara itu, penumpang umum dikenakan tarif reguler sesuai metode pembayaran yang digunakan. Selain untuk menuju kampus, BRT juga dimanfaatkan mahasiswa untuk berbagai keperluan sehari-hari. Akses yang menjangkau berbagai wilayah Kota Semarang membuat layanan ini cukup diminati.
Bagi sebagian mahasiswa UNNES, khususnya penghuni asrama dan perantau yang tidak membawa kendaraan pribadi, menunggu BRT di halte telah menjadi bagian dari rutinitas harian. Di tengah kepadatan penumpang pada jam sibuk, layanan ini tetap menjadi andalan mahasiswa untuk menjangkau kampus dengan biaya yang terjangkau dan akses yang mudah.
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com - Syarat dan Ketentuan - Kebijakan Privasi - Panduan Komunitas - Disclaimer











































































