Pemandangan mahasiswa mengerjakan tugas di kafe sudah menjadi hal yang biasa. Hampir setiap sore atau akhir pekan, banyak kafe dipenuhi mahasiswa yang membawa laptop, buku, dan charger. Ada yang datang untuk mengerjakan tugas individu, ada pula yang berdiskusi dengan teman kelompok. Suasana yang nyaman, tersedia Wi-Fi, dan desain tempat yang menarik membuat kafe menjadi pilihan untuk belajar di luar kampus.
Tidak bisa dipungkiri, suasana memang memengaruhi semangat belajar. Banyak mahasiswa merasa lebih fokus ketika berada di tempat yang tenang dibandingkan di kos atau rumah. Ada yang mengaku lebih mudah mendapatkan ide saat ditemani secangkir kopi. Ada juga yang memilih kafe karena sulit berkonsentrasi jika belajar di kamar. Alasan-alasan tersebut tentu bisa dipahami.
Namun, di balik kenyamanan itu ada kebiasaan lain yang mulai muncul, yaitu pengeluaran yang semakin besar. Sebagian mahasiswa tanpa sadar menghabiskan cukup banyak uang hanya untuk mengerjakan tugas. Sekali datang ke kafe, mereka biasanya membeli minuman, makanan ringan, bahkan makanan berat. Jika dihitung, biaya yang dikeluarkan bisa mencapai puluhan ribu rupiah dalam satu kali kunjungan.
Mungkin jumlah itu terlihat kecil jika hanya dilakukan sesekali. Masalahnya, banyak mahasiswa yang menjadikan kafe sebagai tempat belajar hampir setiap minggu, bahkan beberapa kali dalam seminggu. Jika satu kali datang menghabiskan sekitar Rp40.000 hingga Rp60.000, maka dalam sebulan pengeluarannya bisa mencapai ratusan ribu rupiah. Uang tersebut sebenarnya dapat digunakan untuk kebutuhan lain yang lebih penting, seperti membeli buku, mencetak tugas, atau menambah biaya transportasi.
Menurut saya, kebiasaan ini perlu disikapi dengan lebih bijak. Tidak semua mahasiswa memiliki kondisi ekonomi yang sama. Ada yang masih bergantung pada uang saku dari orang tua. Ada juga yang harus bekerja sambil kuliah agar kebutuhan sehari-hari tetap terpenuhi. Ketika gaya belajar di kafe mulai dianggap sebagai kebiasaan yang harus diikuti, sebagian mahasiswa bisa merasa terpaksa ikut meskipun kondisi keuangannya tidak memungkinkan.
Selain faktor kenyamanan, media sosial juga ikut memengaruhi kebiasaan tersebut. Banyak unggahan yang memperlihatkan suasana belajar di kafe lengkap dengan minuman, laptop, dan meja yang estetik. Lama-kelamaan muncul anggapan bahwa belajar akan lebih produktif jika dilakukan di tempat seperti itu. Padahal, yang menentukan hasil belajar bukan lokasi, melainkan kedisiplinan dan kemauan untuk menyelesaikan tugas.
Bukan berarti mengerjakan tugas di kafe adalah hal yang salah. Sesekali mencari suasana baru justru bisa membantu mengurangi rasa jenuh. Berdiskusi bersama teman di tempat yang nyaman juga dapat membuat pekerjaan kelompok menjadi lebih efektif. Yang perlu diperhatikan adalah frekuensinya. Jangan sampai kebiasaan tersebut berubah menjadi gaya hidup yang menguras uang setiap bulan.
Mahasiswa seharusnya mulai mempertimbangkan pilihan tempat belajar yang lebih hemat. Perpustakaan kampus, ruang diskusi, atau area belajar yang disediakan kampus bisa menjadi alternatif yang tidak kalah nyaman. Selain tidak mengeluarkan biaya tambahan, fasilitas tersebut memang disediakan untuk mendukung kegiatan akademik mahasiswa. Jika ingin belajar di luar kampus, taman kota atau ruang publik yang memiliki akses internet juga bisa menjadi pilihan.
Kampus juga memiliki peran dalam mendukung kebiasaan belajar mahasiswa. Penyediaan ruang belajar yang nyaman, stop kontak yang cukup, akses internet yang stabil, dan jam operasional perpustakaan yang lebih fleksibel dapat mengurangi ketergantungan mahasiswa pada kafe. Dengan fasilitas yang memadai, mahasiswa tidak perlu mengeluarkan biaya tambahan hanya untuk mencari tempat belajar.
Pada akhirnya, produktif tidak selalu berarti harus mengerjakan tugas di kafe. Tempat yang nyaman memang dapat membantu meningkatkan semangat belajar, tetapi kemampuan mengatur waktu dan mengelola keuangan jauh lebih penting. Mahasiswa perlu membiasakan diri membedakan antara kebutuhan dan keinginan. Jangan sampai kebiasaan yang awalnya bertujuan menyelesaikan tugas justru membuat pengeluaran membengkak setiap bulan. Belajar bisa dilakukan di mana saja selama ada niat, fokus, dan rasa tanggung jawab terhadap tugas yang harus diselesaikan.
Ditulis Oleh: Haeva Nurussama
Prodi : Ilmu Pemerintahan
Mahasiswa Universitas Pamulang
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com - Syarat dan Ketentuan - Kebijakan Privasi - Panduan Komunitas - Disclaimer




































![Blok M Jadi Surga Nongkrong Gen Z di Jakarta Selatan 36 Kepadatan pengunjung kawasan Blok M
[Sumber Foto : Dokumentasi Pribadi]](https://siaran-berita.com/wp-content/uploads/2026/06/1000862511-360x180.jpg)






































