Kebijakan atau isu yang menyulitkan masyarakat kini tidak lagi selalu berujung pada aksi turun ke jalan. Di era digital ini, gelombang protes justru kerap meledak lebih dulu di media sosial. Lebih cepat, lebih luas, dan kadang jauh lebih kreatif. Fenomena itulah yang terjadi saat harga Pertamax resmi dinaikkan. Belum sempat berita tersebut meluas, TikTok sudah diramaikan oleh beragam video reaksi, dari kritik tajam yang menggugah pikiran, hingga konten humor yang sukses memancing tawa di tengah keluhan.
Konten Kritik Humor Pertamax. TikTok/dapon
Konten Kritik Humor Pertamax. TikTok/Daffa ariq
Di TikTok, beredar berbagai konten humor yang menanggapi kenaikan harga Pertamax, seperti video yang menggambarkan pengisian Pertamax sebagai sebuah “kemewahan bagi WNI”, menjadikan Pertamax sebagai “parfum mahal”, hingga candaan tentang nongkrong di SPBU sebagai bentuk memenuhi standar perempuan yang menyukai laki-laki yang “nongkrong di tempat mahal”. Konten-konten humor tersebut kemudian viral dan berhasil menarik perhatian publik dengan jumlah tayangan yang mencapai ratusan ribu hingga jutaan kali.
Jika kita memakai kacamata Teori Peluru yang dikembangkan oleh Harold Lasswell, kita mungkin akan menduga bahwa masyarakat langsung “tersuntik” panik begitu berita kenaikan harga keluar, lalu bereaksi seragam dan tanpa daya. Tapi yang terjadi di TikTok justru sebaliknya. Alih-alih pasrah menerima informasi seperti peluru yang ditembakkan ke audiens yang tak berdaya, sebagian warganet justru membalik arah tembakan itu menjadi konten humor.
Fenomena ini menunjukkan bahwa asumsi klasik mengenai audiens yang pasif semakin sulit diterapkan pada era media digital. Menurut saya, media sosial telah mengubah posisi masyarakat dari sekadar penerima pesan menjadi produsen sekaligus pengolah makna. Kenaikan harga yang seharusnya memicu kepanikan massal tidak selalu menghasilkan respons yang seragam, karena setiap individu memiliki cara berbeda dalam menafsirkan dan merespons informasi yang diterimanya.
Inilah yang kemudian lebih tepat dijelaskan oleh teori Uses and Gratifications (Blumler & Katz, 1974). Warganet bukan hal yang dapat ditembus “peluru” tanpa perlawanan, mereka adalah audiens yang secara aktif dapat memilih konten dan media untuk memenuhi kebutuhan mereka. Ketika frustrasi akibat kenaikan harga hampir 32% dalam semalam, konten humor yang tersebar di media sosial menjadi sarana pelepas stress yang paling mudah diakses.
Tidak hanya sebagai sarana pelepas stress, humor juga dapat menjadi kendaraan yang dapat membawa isu tersebut masuk ke ruang yang jauh lebih luas. Konten humor Pertamax yang viral dapat menjangkau orang-orang yang jarang membuka halaman berita ekonomi dan politik. Tapi saat mereka menonton video itu, mereka tertawa, dan tanpa disadari mereka menyerap konteks di baliknya bahwa ada kenaikan harga yang signifikan, bahwa itu terasa di dompet, dan bahwa banyak orang merasakannya bersama-sama.
Ini adalah bukti bahwa demokrasi digital Indonesia sedang berjalan, bising, jenaka, dan penuh dengan energi yang tidak bisa diremehkan. Warganet tidak diam, tidak pasrah, dan tidak mudah dialihkan. Mereka memilih cara mereka sendiri untuk bersuara.
Karena pada akhirnya, kritik yang dikemas dalam tawa bukan berarti kritik yang tidak serius. Ia hanya memilih jalur yang lebih manusiawi. Dan mungkin, karena itu, ia bisa menjangkau lebih banyak telinga.
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com : Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com - Syarat dan Ketentuan - Kebijakan Privasi - Panduan Komunitas - Disclaimer