BANDUNG – Transformasi digital yang melesat cepat acap kali menyisakan sebuah paradoks di tengah masyarakat. Kendati angka penetrasi internet sangat tinggi, mayoritas masyarakat di tingkat akar rumput kerap terjebak hanya sebagai penikmat hiburan pasif dan media sosial. Kondisi ini membuat mereka rentan tergilas oleh fenomena polarisasi kesejahteraan atau M-Shaped Society, di mana distribusi kekayaan semakin menumpuk di atas dan menyusutkan kelompok kelas menengah. Menyadari ancaman ketimpangan ekonomi tersebut, generasi muda dari Karang Taruna 06 Gumuruh, Kecamatan Batununggal, Kota Bandung, kini mengambil langkah terobosan untuk mentransformasi fungsi gawai mereka dari sekadar alat hiburan menjadi mesin penggerak kemandirian ekonomi kewilayahan.
Di bawah komando sang ketua, Kokom Komariah, Karang Taruna 06 sejatinya memiliki rekam jejak program komunitas yang luar biasa, salah satunya adalah inisiatif sirkular ekonomi “Babe” (Barang Bekas) yang berfokus pada daur ulang sampah bernilai ekonomis. Namun, potensi brilian ini sering kali tenggelam tanpa sorotan publik akibat minimnya literasi administratif pengurus dan lemahnya strategi digital marketing di dunia maya. Untuk meretas kebuntuan tersebut, tim Pengabdian kepada Masyarakat (Abdimas) mengintervensi langsung dengan menggelar lokakarya intensif di Laboratorium Fotografi Fakultas Komunikasi dan Ilmu Sosial pada Rabu (24/6).
Dalam lokakarya tersebut, para pemuda tidak diajarkan teori usang, melainkan langsung dipersenjatai dengan teknologi kecerdasan buatan (Generative AI). Hasilnya luar biasa, hanya dalam hitungan detik, mesin komputasi mampu membantu mereka menyusun draf proposal pendanaan, surat resmi, hingga naskah kampanye digital marketing yang relevan secara kultural. AI di sini tidak diposisikan sebagai pengganti manusia, melainkan sebagai asisten cerdas untuk memacu produktivitas harian dengan tetap mengedepankan prinsip penggunaan teknologi yang bertanggung jawab.
Lebih jauh lagi, kecakapan komputasi tersebut dikawinkan dengan keahlian Public Relations melalui strategi komunikasi psikodinamik (The Art of Persuasion). Pemuda Gumuruh dibimbing untuk meramu narasi yang mampu “menyentuh logika” audiens, sehingga upaya menarik sponsor atau kemitraan publik tidak lagi terkesan memaksa, melainkan mengundang persetujuan secara sukarela. Guna menyempurnakan portofolio digital mereka, peserta juga dibekali teknik fotografi gawai pintar komersial yang mencakup estetika tata cahaya dan hukum komposisi visual untuk memoles citra program komunitas mereka di kancah siber.
Pendekatan hibrida partisipatif ini terbukti membuahkan hasil yang sangat masif. Para anggota Karang Taruna 06 Gumuruh kini sukses bermigrasi dari status konsumen pasif menjadi produsen konten digital yang strategis. Melalui kemampuan menyusun dokumentasi visual dan strategi digital marketing yang tajam, mereka diproyeksikan segera berevolusi menjadi purwarupa organisasi kepemudaan akar rumput yang inovatif, produktif, dan siap menavigasi kompleksitas tantangan ekonomi global.
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com - Syarat dan Ketentuan - Kebijakan Privasi - Panduan Komunitas - Disclaimer










































































