Aroma asap knalpot bercampur sisa gerimis pagi itu tidak lagi terasa mencekam. Bagi siapa saja yang pernah menginjakkan kaki di Medan beberapa tahun lalu, nama “Amplas” bukan sekadar menunjuk pada sebuah wilayah atau terminal. Amplas adalah sinonim dari sebuah ketakutan yang tidak tertulis: deru mesin bus yang bising, klakson yang saling bersahutan, debu jalanan yang pekat, dan yang paling membekas tatapan intimidatif dari para calo dan preman yang menguasai sudut-sudutnya.
Namun pagi ini, Pak joko (54), seorang sopir bus AKAP (Antar Kota Antar Provinsi) yang telah menarik tuas kemudi selama tiga dekade, tersenyum renyah sambil menyodorkan selembar kartu elektronik ke mesin pemindai.
“Dulu, tangan kami ini sibuk meraba kantong, nyiapin uang receh buat ‘uang rokok’ di setiap kelokan terminal supaya aman,” kenang Joko, matanya menerawang menatap aspal terminal yang kini bersih dan tertata. “Sekarang, tangan kami megang kartu. Semua terekam di mesin. Nggak ada lagi yang berani ngetok kaca bus minta jatah.”
Transformasi Fisik dan Mental
Terminal Terpadu Amplas kini telah bersolek total. Bangunan kumuh beratap seng yang dulu menjadi sarang kecemasan, berganti menjadi arsitektur modern berlantai dua yang megah, mirip dengan bandar udara. Ruang tunggunya sejuk oleh pendingin udara, deretan kursi tertata rapi, dan lantai keramiknya mengilat memantulkan cahaya lampu.
Namun, perubahan terbesar Amplas bukan terletak pada dinding kaca atau betonnya, melainkan pada ekosistem manusianya.
Mengikis premanisme yang telah mengakar selama puluhan tahun jelas bukan perkara membalikkan telapak tangan. Ia adalah perang melawan kebiasaan lama. Pemerintah tidak hanya mengusir, tetapi merangkul dan merombak sistem kerja. Terminal tidak lagi dibiarkan menjadi “hutan rimba” tempat yang kuat memangsa yang lemah. Kehadiran petugas keamanan yang sigap, kamera pengawas (CCTV) di setiap sudut, dan penerapan sistem satu pintu (one-gate system) perlahan tapi pasti membuat ruang gerak praktik pungutan liar menyempit hingga habis.
“Kuncinya adalah transparansi. Ketika sistem dibuat terbuka, ruang untuk ‘main belakang’ otomatis hilang,” ujar salah satu petugas dinas perhubungan yang berjaga di lokasi.
Mengejar Deru Digitalisasi
Jika hilangnya premanisme adalah fondasi kenyamanan, maka digitalisasi adalah motor penggeraknya. Amplas kini sedang berlari mengejar ketertinggalan, melompat menuju masa depan transportasi publik.
Di loket-loket digital, para penumpang tidak perlu lagi adu urat leher dengan calo tiket yang memesan harga seenak jidat. Semua jadwal keberangkatan, nama otobus (PO), hingga harga tiket terpampang nyata di layar digital. Pembayaran pun kini beralih ke ranah nirkas (cashless) mulai dari QRIS, e-money, hingga aplikasi pemesanan tiket daring.
Bagi generasi muda seperti Rini (22), seorang mahasiswi yang rutin pulang ke kampung halamannya di Penyabungan, perubahan ini adalah sebuah berkah.
Dulu: “Saya selalu minta diantar abang atau ayah sampai ke pintu bus karena takut ditarik-tarik calo.”
Sekarang: “Saya tinggal datang membawa e-ticket di ponsel, masuk, lalu duduk manis di ruang tunggu ber-AC sambil mengisi daya baterai HP.”
Digitalisasi di Amplas bukan sekadar gaya-gayaan teknologi. Ini adalah bentuk pemuliaan terhadap martabat penumpang. Penumpang tidak lagi ditempatkan sebagai “mangsa”, melainkan sebagai konsumen yang dihormati hak-haknya.
Asa Baru dari Balik Kaca Terminal
Matahari mulai meninggi di langit Medan, menyinari fasad megah Terminal Amplas yang baru. Di salah satu sudut ruang tunggu, Pak Joko tampak bersiap memasuki busnya. Ia merapikan seragamnya dengan bangga.
Amplas kini bukan lagi tempat yang ingin cepat-cepat ditinggalkan orang karena ngeri. Ia telah bertransformasi menjadi sebuah gerbang yang ramah, yang menyambut siapa saja dengan kepastian teknologi dan kehangatan manusiawi.
Debu-debu premanisme masa lalu itu kini telah terkikis, tergantikan oleh deru digitalisasi yang membawa angin perubahan. Dari Amplas kita belajar, bahwa sekeras apa pun citra sebuah tempat di masa lalu, ia selalu punya kesempatan untuk lahir kembali dengan wajah yang jauh lebih humanis.
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com - Syarat dan Ketentuan - Kebijakan Privasi - Panduan Komunitas - Disclaimer






































































