Setiap pagi, ribuan warga Walantaka dan sekitarnya tumpah ke jalan. Tujuannya sama: ke Kota Serang atau Cilegon untuk kerja, sekolah, dan belanja. Walantaka jadi kota transit. Tempat tidur saja, tapi denyut ekonominya ada di kota lain.
Padahal, potensi Walantaka sangat besar. Kita punya Pasar Rau cabang, akses tol Serang Timur, lahan yang masih luas, dan populasi usia produktif yang padat. Yang belum ada adalah pusat ekonomi baru yang bisa menahan uang warga agar berputar di wilayah sendiri.
Selama ini, UMKM Walantaka hanya jadi penopang. Warung kopi, konveksi, dan kuliner tumbuh, tapi skalanya mikro. Mereka sulit naik kelas karena tidak ada ekosistem. Tidak ada coworking space, inkubator, atau sentra kuliner yang bisa jadi magnet. Akibatnya, anak muda kreatif memilih hijrah.
Pemerintah Kota Serang perlu memecah konsentrasi pembangunan yang selama ini hanya di pusat kota. Walantaka bisa jadi mini CBD Serang Barat. Kuncinya ada 3.
Pertama, bangun infrastruktur penunjang. Bukan mal besar, tapi pasar digital, taman UMKM, dan akses jalan yang tidak macet. Kedua, dorong kolaborasi kampus. UNPAM yang berada di Serang bisa jadi jembatan riset dan pendampingan UMKM. Mahasiswa bisnis, IT, dan desain bisa turun langsung.
Ketiga, beri keberpihakan regulasi. Mudahkan perizinan untuk UMKM naik kelas. Beri ruang bagi UMKM kuliner dan kriya untuk mengisi ruang publik.
Jika hanya mengandalkan Kota Serang sebagai pusat, kemacetan dan kesenjangan akan terus terjadi. Walantaka harus punya identitas ekonomi sendiri. Sudah saatnya kita berhenti jadi kota transit, dan mulai jadi kota tujuan.
Ditulis oleh : Wardah Suhailah, Mahasiswa Prodi Ilmu Pemerintahan, Universitas Pamulang
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com - Syarat dan Ketentuan - Kebijakan Privasi - Panduan Komunitas - Disclaimer







































































