GRESIK — Pelaksanaan program Kuliah Kerja Nyata (KKN) individu yang mandiri dan berorientasi pada pemecahan masalah riil masyarakat kembali menunjukkan hasil nyata. Hesti Nurul Aini, seorang mahasiswa program studi S1 Psikologi dari Universitas 17 Agustus 1945 (UNTAG) Surabaya, berhasil menciptakan sebuah inovasi Teknologi Tepat Guna (TTG) non-listrik yang diberi nama SEMAR TEMPE. Inovasi ini dihadirkan secara khusus untuk membantu optimalisasi proses produksi pada Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) pembuatan tempe rumahan milik Pak Yudi yang berlokasi di Kecamatan Bungah, Kabupaten Gresik.
Langkah pengabdian ini bermula dari pengamatan mendalam terhadap dinamika operasional di tempat produksi, di mana proses pengemasan hilir dinilai tidak efisien karena para pekerja harus menghabiskan waktu hingga empat sampai lima jam setiap harinya hanya untuk membungkus stok tempe. Menggunakan metode tradisional dengan mendekatkan plastik ke nyala api lilin terbuka satu per satu, proses tersebut tidak hanya memicu kelelahan fisik (fatigue) yang tinggi bagi pekerja yang harus duduk lesehan berjam-jam, tetapi juga menimbulkan risiko kesehatan kerja seperti mata perih akibat kepulan asap serta tangan melepuh karena tetesan lilin. Ditambah lagi, suhu api lilin yang tidak stabil sering kali menyebabkan sekitar lima belas persen kemasan mengalami kecacatan atau kebocoran, serta meninggalkan jelaga hitam yang merusak estetika produk saat dipasarkan.

Guna mengatasi keterbatasan daya listrik rumahan dan menjaga margin keuntungan usaha agar tidak tercekik oleh biaya operasional, inovasi SEMAR TEMPE dirancang sebagai solusi humanis berbentuk meja kerja mini berdimensi praktis dua puluh sentimeter kubik. Sistem kerja alat ini mengandalkan konduksi panas presisi yang bersumber dari lampu ublik tradisional di dalam kolong meja berlapis seng penahan api, lalu dialirkan menuju lempengan besi baja tipis di permukaan meja. Melalui tuas penekan berbahan kayu isolator, pekerja cukup menjepit plastik kemasan tempe di atas plat panas tersebut selama satu hingga dua detik untuk menghasilkan perekatan menyeluruh (full-seal) yang kuat dan rapi.
Sejak diimplementasikan di tempat produksi Pak Yudi, alat non-elektrik ini terbukti mampu memangkas waktu pembungkusan secara drastis menjadi hanya satu setengah hingga dua jam saja per hari, sekaligus menekan angka kebocoran kemasan hingga di bawah dua persen. Selain mengeliminasi masalah jelaga hitam sehingga tampilan visual tempe menjadi lebih higienis, alat ini juga sangat ekonomis karena dapat memanfaatkan limbah domestik berupa minyak jelantah sebagai bahan bakar alternatif yang murah dan tahan lama. Melalui pendekatan desain yang tetap mempertahankan posisi duduk lesehan alami para pekerja, inovasi ini membuktikan bahwa intervensi teknologi di tingkat akar rumput tidak harus selalu berbasis elektrik, melainkan harus sensitif dan adaptif terhadap realitas psikososial serta kemampuan finansial masyarakat lokal.
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com - Syarat dan Ketentuan - Kebijakan Privasi - Panduan Komunitas - Disclaimer










































































