Ijazah SMK sekarang bukan lagi jaminan gampang dapat kerja. Data BPS per Agustus 2025 memperlihatkan kelulusan SMK justru menyumbang tingkat pengangguran tertinggi di antara semua jenjang pendidikan, yaitu 8,63%, dan angka ini konsisten bertahan di posisi puncak selama beberapa periode survei terakhir. Ironisnya, SMK dirancang khusus supaya lulusannya “siap kerja”. Kenyataannya, banyak dari mereka justru terjebak dalam masa tunggu yang panjang sebelum hi akhirnya terserap ke pasar kerja, itupun kalau memang terserap.
Sejumlah pengamat menyebut ini sebagai persoalan mismatch: kompetensi yang diajarkan di sekolah belum sepenuhnya nyambung dengan kebutuhan industri, apalagi jurusan-jurusan tertentu seperti maritime, energy dan pertambangan, hingga teknologi informasi bahkan mencatat tingkat pengangguran jauh di atas rata-rata nasional. Kondisi ini mau tidak mau mengubah cara pandang banyak pihak, SMK tidak bisa lagi hanya mencetak calon karyawan tapi juga harus melahirkan calon pencipta lapangan kerja. Di titik inilah pertanyaan bergeser bukan sekedar “udah siap kerja belum?” tapi “berani nggak menciptakan kerjaan sendiri?”
Kenapa Jiwa Wirausaha Perlu Ditanam Sejak di Bangku SMK
Menumbuhkan mental wirausaha bukan perkara yang instan muncul begitu seseorang lulus dan bingung mencari kerja. Justru sebaliknya, semangat itu perlu dipupuk jauh-jauh hari, termasuk sejak masih menjadi siswa SMK. Ada beberapa alasan kenapa momentum ini penting.
Pertama, soal angka. Rasio kewirausahaan nasional pada 2025 baru mencapai 3,29% dari total angkatan kerja, sedikit di atas target pemerintah tapi masih jauh tertinggal dibanding negara tetangga seperti Malaysia dan Thailand yang sudah 4%, apalagi Singapura yang tembus 8,6%. Padahal, negara maju umumnya punya rasio wirausaha jauh lebih tinggi lagi. Artinya, ruang buat anak muda Indonesia terjun jadi pengusaha itu masih terbuka lebar, tinggal siapa yang berani mengisi.
Kedua, perkembangan teknologi bikin hambatan untuk memulai usaha semakin tipis. Dulu, buka usaha identik dengan modal besar, sewa toko, dan urusan birokrasi yang ribet. Sekarang, bermodalkan HP dan koneksi internet saja, siswa sudah bisa mulai berjualan, promosi, sampai transaksi. Ketiga, faktor kreativitas dan kebutuhan pasar yang terus bergerak juga membuka celah usaha baru tiap saat. Mulai dari jasa desain, konten kreator, kuliner rumahan, sampai reparasi elektronik, semuanya bisa jadi ladang cuan kalau jeli membaca peluang.
Yang menarik, riset dari World Economic Forum bahkan pernah mencatat bahwa lebih dari sepertiga anak muda Indonesia usia 15-35 tahun punya keinginan menjadi pengusaha, sebuah indeks yang tergolong tinggi dibanding negara-negara ASEAN lain. Modal keinginan ini sebenarnya sudah ada, tinggal bagaimana sekolah dan lingkungan sekitar mengarahkannya jadi aksi nyata, bukan cuma wacana di kepala.
Mengenali dan Menciptakan Peluang dari yang Sudah Ada
Enaknya jadi siswa SMK, keterampilan teknis sudah dilatih sejak awal, entah itu di jurusan tata boga, otomotif, tata busana, multimedia, atau akuntansi, modal itu sebenarnya sudah cukup jadi pijakan buat mulai usaha kecil-kecilan, asal berani mengubah sudut pandang dari “keterampilan ini buat cari kerja” menjadi “keterampilan ini bisa jadi produk atau jasa yang dijual”.
Contohnya sederhana, anak jurusan tata boga bisa mulai dari jualan cemilan atau ketering kecil buat tetangga dan teman sekolah. Anak jurusan multimedia bisa menawarkan jasa desain untuk UMKM di sekitar rumah yang belum punya logo atau konten media sosial yang layak. Kuncinya bukan menunggu ide besar dan sempurna, tapi mulai dari apa yang paling dekat dan paling dikuasai dulu.
Lingkungan sekitar juga sering jadi sumber peluang yang luput diperhatikan. Seperti kebutuhan warga sekitar sekolah atau rumah, kebiasaan konsumsi di lingkungan tempat tinggal, sampai masalah sehari-hari yang belum ada solusinya, semua itu bisa jadi titik awal ide usaha. Tidak jarang usaha yang paling bertahan lama justru lahir dari pengamatan sederhana terhadap masalah di sekitar, bukan dari ide yang muluk-muluk.
Belum lagi media digital yang sekarang jadi etalase gratis buat siapa saja. Marketplace, media sosial, sampai live shopping membuat siswa bisa mulai berjualan tanpa harus punya toko fisik atau modal besar di awal. Pemerintah sendiri lewat Kementerian UMKM terus mendorong digitalisasi sebagai kunci daya saing wirausaha, termasuk lewat program-program pendampingan yang menyasar wirausaha pemula. Modal utamanya bukan lagi uang, tapi konsistensi, jam terbang membangun kepercayaan calon membeli, dan kemauan belajar algoritma platform yang terus berubah.
Bukan Jalan Instan, Tapi Proses yang Harus Dilalui
Meski peluangnya terbuka lebar, jujur saja, jadi wirausaha muda itu bukan jalan pintas yang bebas dari kerikil. Ada proses panjang yang harus dilewati, dan tidak sedikit yang berhenti di tengah jalan karena kaget dengan kenyataan bahwa usaha tidak langsung untung di bulan pertama.
Keberanian menghadapi risiko jadi salah satu tantangan terbesar. Modal bisa saja habis tanpa hasil, produk bisa saja tidak laku, atau usaha yang sudah dirintis harus tutup karena kalah bersaing. Di sinilah pentingnya membedakan antara nekat dan berani yang terukur, berani mencoba perlu dibarengi perhitungan, bukan asal jalan tanpa persiapan.
Kegagalan pun bukan akhir cerita, melainkan bagian dari proses belajar yang justru sering jadi bekal paling berharga. Banyak pengusaha yang sukses hari ini pernah gagal berkali-kali sebelum akhirnya menemukan formula yang tepat. Yang membedakan mereka yang bertahan dengan yang menyerah biasanya bukan soal siapa yang paling pintar, tapi siapa yang mau evaluasi, coba lagi, dan tidak berhenti belajar.
Selain itu, komitmen jangka panjang juga jadi kunci. Berwirausaha bukan proyek sekali jadi yang bisa ditinggal begitu saja kalau sedang malas atau cape. Perlu konsisten menjaga kualitas produk, merawat hubungan dengan pelanggan, sampai terus beradaptasi dengan perubahan trend dan kebutuhan pasar. Pemerintah lewat berbagai program pendampingan kewirausahaan sebenarnya sudah menyediakan banyak jalan, mulai dari kemudahan perizinan usaha, akses pembiayaan, sampai pelatihan digital. Tapi pada akhirnya, yang menentukan usaha itu jalan atau berhenti tetap ada di tangan siswa itu sendiri.
Menjadi wirausaha muda memang tidak menjanjikan hasil instan, apalagi buat siswa SMK yang baru mulai merintis. Tapi di tengah pasar kerja yang makin ketat dan tidak selalu ramah pada lulusan vokasi, keberanian menciptakan peluang usaha sendiri bisa jadi jalan yang realistis untuk ditempuh sejak dini, asal dijalani dengan proses yang jujur, bukan sekedar ikut trend.
Azkia Fajriah Mecca
Jihan Khairunisa
Liska Tri Puspita
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com - Syarat dan Ketentuan - Kebijakan Privasi - Panduan Komunitas - Disclaimer







































































