Mahasiswa KKN UINSA Uji Coba Maggot BSF untuk Urai Sampah Organik di RW 6 Sidosermo
Surabaya – Kelompok Kuliah Kerja Nyata (KKN) UIN Sunan Ampel Surabaya yang bertugas di RW 6 Sidosermo menggelar uji coba pengolahan sampah organik menggunakan larva maggot Black Soldier Fly (BSF) pada Senin, 29 Juli 2026. Program ini menyasar sampah sisa makanan warga sebagai bahan pakan maggot, dengan tujuan mengurangi volume sampah organik yang selama ini menumpuk di lingkungan permukiman padat penduduk tersebut.
Sebelum melaksanakan uji coba, mahasiswa KKN terlebih dahulu melakukan survei ke tempat budidaya maggot BSF. Langkah ini dilakukan untuk mempelajari teknis budidaya, manajemen pakan, serta pemanfaatan hasil olahan maggot. Dengan bekal pengetahuan dari survei tersebut, mahasiswa merasa lebih siap dalam mengaplikasikan metode biokonversi di lingkungan RW 6 Sidosermo.
Kegiatan ini merupakan bagian dari program kerja KKN Sidosermo RW 6 yang berfokus pada isu pengelolaan sampah rumah tangga. Wilayah RW 6 Sidosermo dikenal memiliki volume sampah organik cukup tinggi setiap harinya, sementara pengelolaannya masih terbatas pada pengangkutan ke tempat pembuangan tanpa pemilahan lebih lanjut.
Melihat kondisi tersebut, mahasiswa KKN berinisiatif memperkenalkan metode biokonversi menggunakan maggot BSF, yang dikenal luas sebagai salah satu solusi pengurai sampah organik yang ramah lingkungan.
Pada pelaksanaannya, kegiatan ini masih berada pada tahap percobaan awal. Maggot BSF diberi makan menggunakan sampah organik yang dikumpulkan dari sisa-sisa makanan warga sekitar. Proses ini kemudian diamati langsung oleh mahasiswa untuk melihat efektivitas maggot dalam mengurai sampah tersebut.
Sampah organik yang telah diurai oleh maggot nantinya menghasilkan residu (kasgot) yang dapat dimanfaatkan sebagai pupuk organik. Dengan begitu, program ini tidak hanya berfokus pada pengurangan volume sampah, tetapi juga membuka peluang pemanfaatan hasil olahan untuk kebutuhan lain, seperti penyuburan tanaman.
Mahasiswa KKN menegaskan bahwa uji coba ini merupakan tahap percontohan yang nantinya diharapkan dapat dilanjutkan oleh petugas kebersihan atau pengelola sampah setempat, bukan program yang berhenti hanya pada masa KKN berlangsung.
Berbeda dari program sosialisasi pada umumnya, kegiatan ini tidak menyasar masyarakat secara luas sebagai peserta aktif. Uji coba maggot BSF ini lebih difungsikan sebagai media percontohan yang hasilnya akan dievaluasi terlebih dahulu sebelum diteruskan dan dikelola oleh petugas terkait di lingkungan RW 6 Sidosermo.
Pendekatan ini dipilih agar proses pengolahan sampah menggunakan maggot dapat dipastikan berjalan efektif sebelum diterapkan secara berkelanjutan. Dengan demikian, ketika program ini diserahkan kepada petugas, pengelolaannya sudah memiliki gambaran teknis yang jelas berdasarkan hasil uji coba mahasiswa.
Dari hasil pengamatan selama uji coba berlangsung, mahasiswa KKN menyimpulkan bahwa maggot BSF merupakan salah satu metode pengurai sampah organik yang aman dan efektif untuk diterapkan. Selama proses biokonversi, bau tetap muncul sebagai bagian dari proses penguraian bahan organik.
Namun, intensitas bau cenderung tidak terlalu menyengat dan sangat dipengaruhi oleh jenis sampah organik yang diberikan sebagai pakan maggot serta pengelolaannya. Dibandingkan dengan metode pembusukan sampah organik secara konvensional, proses biokonversi menggunakan maggot BSF dinilai lebih mudah dikendalikan sehingga potensi bau dapat diminimalkan melalui pengelolaan pakan dan media yang tepat.
Ketua Kelompok KKN Sidosermo RW 6, [isi sesuai nama ketua kelompok KKN], menyampaikan bahwa uji coba ini menjadi langkah awal untuk melihat potensi maggot BSF di lingkungan RW 6.
“Kami ingin memastikan dulu bahwa metode ini benar-benar cocok diterapkan di sini, mulai dari jenis sampahnya sampai cara perawatan maggotnya. Kalau hasilnya baik, harapannya bisa langsung dilanjutkan oleh petugas yang menangani sampah di RW ini,” ujarnya.
Program pengolahan sampah organik menggunakan maggot BSF ini diharapkan dapat memberikan dampak positif dalam jangka panjang, khususnya dalam mengurangi beban sampah organik yang selama ini dibuang tanpa pengolahan lebih lanjut. Selain berpotensi menekan volume sampah, metode ini juga membuka peluang pemanfaatan hasil olahan sebagai pupuk yang dapat digunakan kembali oleh warga.
Keberhasilan uji coba ini turut bergantung pada kesiapan pihak yang akan melanjutkan program setelah masa KKN berakhir. Oleh karena itu, dokumentasi proses dan hasil uji coba menjadi bagian penting yang disiapkan mahasiswa sebagai bahan evaluasi sekaligus panduan bagi petugas yang akan meneruskan program ini.
Mahasiswa KKN Sidosermo RW 6 berharap uji coba pengolahan sampah organik menggunakan maggot BSF ini tidak berhenti begitu saja setelah masa KKN selesai. Ke depan, program ini diharapkan dapat diadopsi secara berkelanjutan oleh petugas kebersihan setempat sebagai salah satu solusi pengelolaan sampah organik di lingkungan RW 6 Sidosermo.
Dengan adanya pendampingan lebih lanjut, metode biokonversi menggunakan maggot BSF berpotensi menjadi alternatif pengelolaan sampah yang efektif dan berkelanjutan, sekaligus mendukung upaya pengurangan sampah organik di tingkat rukun warga.
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com - Syarat dan Ketentuan - Kebijakan Privasi - Panduan Komunitas - Disclaimer











































































