SLEMAN — Sekolah Agama Leluhur (SAL) Daerah Istimewa Yogyakarta Angkatan IV yang dilaksanakan selama 3 hari, mendorong lahirnya gerakan berbasis kearifan lokal yang tidak berhenti pada ruang pembelajaran, tetapi diterapkan dalam kehidupan masyarakat. Gagasan itu mengemuka dalam pembukaan SAL Angkatan IV di Sri Tumuwuh, Seyegan, Sleman pada Jumat (21/08).
SAL Angkatan IV mengangkat tema “Memetri Bumi, Nggulawenthah Generasi”. Tema tersebut menempatkan pelestarian lingkungan dan regenerasi nilai-nilai luhur sebagai bagian penting dari pembelajaran agama leluhur.
Direktur Bina Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan Masyarakat Adat pada Kementerian Kebudayaan, Sjamsul Hadi, S.H., M.M., yang hadir membuka kegiatan, mendorong penyelenggara SAL untuk mengembangkan program tersebut menjadi gerakan yang melibatkan masyarakat secara lebih luas.
“Melalui Sekolah Agama Leluhur ini diharapkan bisa membangun sebuah gerakan,” ujar Sjamsul dalam sambutannya.

Ia mendorong pengurus Sri Tumuwuh bersama CRCS UGM dan ICIR Rumah Bersama untuk membangun kerja sama yang lebih luas dengan warga desa. Menurutnya, jejaring tersebut dapat menjadi pintu untuk menemukan kembali berbagai kearifan lokal yang masih hidup di tengah masyarakat.
“Sehingga kita bisa menggandeng warga desa. Kita menemukan kembali kearifan-kearifan lokal yang ada,” katanya.
Menghadapi Krisis Air
Sjamsul menilai isu lingkungan menjadi salah satu persoalan penting yang dapat menjadi ruang aktualisasi nilai-nilai agama leluhur. Salah satunya adalah persoalan air yang terjadi di sejumlah daerah.
Ia menyoroti periode Agustus hingga November sebagai waktu yang perlu mendapat perhatian karena persoalan ketersediaan air mulai dirasakan di berbagai wilayah.
“Ini krisis air. Pemerintah memberikan perhatian khusus karena sudah banyak daerah yang mengalami kekurangan air dan sumber air,” ujarnya.
Selain persoalan air, ia juga menekankan pentingnya program penghijauan sebagai bagian dari upaya menjaga keberlanjutan lingkungan.
Menurut Sjamsul, nilai-nilai yang dipelajari melalui SAL seharusnya tidak berhenti sebagai pengetahuan. Nilai tersebut perlu diterapkan di tengah masyarakat sehingga memberikan manfaat nyata bagi kehidupan bersama.
“Melalui Sekolah Agama Leluhur ini, nilai-nilai atau materi yang sudah disampaikan agar bisa diterapkan ke masyarakat untuk kesejahteraan bersama,” katanya.
Dari Kesadaran Spiritual ke Kehidupan Kolektif
Sementara itu, perwakilan Sri Tumuwuh, Kukuh Tigo Manggala, mengatakan Sekolah Agama Leluhur berangkat dari kesadaran spiritual dan kejernihan batin.
Menurut dia, nilai-nilai yang diperoleh melalui SAL perlu diwujudkan dalam berbagai aspek kehidupan, mulai dari kehidupan sehari-hari, sosial, ekonomi hingga kebudayaan.
“Sekolah Agama Leluhur ini berangkat dari kesadaran rohani, jiwa yang jernih, yang suci, yang murni,” ujar Kukuh.
Kesadaran tersebut, kata dia, selanjutnya perlu diimplementasikan dalam kehidupan nyata sehingga tidak berhenti sebagai pemahaman pribadi.
“Bagaimana sasaran itu akan mengimplikasikan dalam kehidupan sehari-hari, kehidupan sosial, kehidupan ekonomi, dan kehidupan budaya,” katanya.
Kukuh menekankan pentingnya membangun kehidupan kolektif. Menurut dia, nilai-nilai leluhur akan memiliki kekuatan lebih besar ketika diterjemahkan menjadi gerakan bersama masyarakat.
“Menjadi satu kehidupan kolektif bersama untuk bersama-sama kemudian mengajak masyarakat untuk bisa memetri bumi,” ujarnya.
Memetri Bumi, Menyiapkan Generasi
Tema “Memetri Bumi, Nggulawenthah Generasi” menjadi pijakan SAL Angkatan IV untuk mempertemukan dua persoalan sekaligus: bagaimana manusia merawat bumi dan bagaimana nilai-nilai luhur diwariskan kepada generasi berikutnya.
Kukuh mengatakan merawat bumi tidak dapat dipisahkan dari upaya menyiapkan generasi penerus yang memiliki karakter dan nilai luhur.

“Sekaligus dengan memetri bumi kita bisa nggulawenthah generasi berikutnya menjadi generasi-generasi yang unggul dalam nilai-nilai luhurnya,” katanya.
Menurutnya, proses regenerasi tersebut juga menjadi momentum untuk menghidupkan kembali kemampuan dan pengetahuan yang mulai terabaikan.
Ia berharap SAL dapat menjadi ruang untuk mengingat kembali kehidupan kolektif yang menjadi bagian penting dalam tradisi masyarakat.
“Sehingga yang tadinya ada rasa kemampuan terisi lagi, yang selama ini mulai terkembangkan,” ujarnya.
SAL Tidak Berhenti di Ruang Kelas
Pelaksanaan SAL Angkatan IV di Sri Tumuwuh memperlihatkan bahwa pendidikan agama leluhur tidak hanya berbicara mengenai aspek spiritual atau tradisi masa lalu. Pembelajaran juga diarahkan pada persoalan konkret yang dihadapi masyarakat, terutama lingkungan, keberlanjutan sumber daya alam, kehidupan sosial dan regenerasi.
Kolaborasi antara komunitas, lembaga pendidikan dan riset, serta pemerintah diharapkan mampu memperluas manfaat SAL sehingga pengetahuan yang diperoleh peserta dapat diterjemahkan menjadi kegiatan nyata di tengah masyarakat.
Dengan pendekatan tersebut, Sekolah Agama Leluhur tidak sekadar menjadi forum belajar mengenai warisan leluhur. SAL diarahkan menjadi ruang untuk menghidupkan kembali pengetahuan lokal sekaligus menjawab persoalan masa kini.
Dari Sri Tumuwuh, pesan yang muncul cukup jelas: merawat bumi dan merawat generasi merupakan dua hal yang tidak dapat dipisahkan. Nilai leluhur tidak cukup hanya diwariskan melalui cerita, tetapi perlu dihidupkan melalui tindakan bersama dan kehidupan kolektif masyarakat. (Yusuf)
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com - Syarat dan Ketentuan - Kebijakan Privasi - Panduan Komunitas - Disclaimer





































































