Melahirkan memang terdengar penuh perjuangan. Namun, fase sehabis melahirkan justru jauh lebih kompleks.
Pernahkah kalian menyadari? Umumnya, Mental Fog (kabut otak) pada wanita akan jauh lebih rumit. Hal ini biasa diperparah oleh faktor kurang tidur kronis setelah melahirkan.
Pernahkah kalian mendengar banyaknya keluhan pada wanita yang baru saja melewati fase melahirkan?
Banyak dari mereka yang mengeluhkan hal yang sama—ingatan yang kabur dan kerap kali melupakan hal di sekitar mereka.
Entah itu aktivitas yang ingin mereka jalani sebelumnya, pikiran yang terpecah, bahkan sampai melupakan nama seseorang. Bahkan, hampir sebagian besar wanita pengguna kacamata mendapati minus matanya bertambah setelah mereka melahirkan.
Diperkirakan, persentase wanita hamil dan pascamelahirkan yang mengalami kondisi ini mencapai sekitar 50% hingga 80% berdasarkan berbagai studi neurologis dan survei medis global.Hal ini disebabkan oleh proses biologis di mana otak “memotong” atau mengeliminasi koneksi antar-sel saraf (sinapsis) yang jarang digunakan, atau yang biasa dikenal sebagai mommy brain.
Sedangkan, untuk kasus di mana bertambahnya minus bagi para pengguna kacamata terbukti kebenarannya. Hal ini disebabkan akibat fokus cahaya di dalam bola mata bergeser (mengalami perubahan refraksi) akibat kornea dan lensa mata yang menebal karena penumpukan cairan (edema) saat hamil dan menyusui.
Apakah berbahaya?
Penelitian yang dipimpin oleh Elseline Hoekzema dan diterbitkan dalam jurnal Nature Neuroscience pada 2017 menemukan bahwa kehamilan berkaitan dengan perubahan struktur otak, termasuk berkurangnya volume materi abu-abu di sejumlah wilayah otak.
Dalam salah satu wawancara tertulis yang diterbitkan oleh Childbirth Network pada 4 Maret 2025, dirinya mengungkapkan jawaban dari salah satu pertanyaan.
“Apakah perubahan tersebut berbahaya?”
“Dat klinkt misschien zorgwekkend, maar dat is niet iets om van te schrikken.”—“Hal itu mungkin terdengar mengkhawatirkan, tetapi sebenarnya bukan sesuatu yang perlu ditakuti.”
Dalam dunia medis, otak ibu tidak kehilangan neuron, melainkan melakukan “bersih-bersih” pada koneksi sel saraf yang tidak lagi digunakan.
Tujuannya justru berdampak positif. Otak membantu ibu lebih fokus dan memiliki insting perlindungan (maternal bonding). Ini adalah bukti nyata dari adaptasi evolusi manusia.
Terlebih, fenomena ini hanya bersifat sementara. Secara garis besar, ukuran otak akan mulai pulih pada 6 bulan setelah melahirkan.
Dan nyatanya, mengecilnya otak tidak hanya dialami oleh wanita.
Penyusutan volume otak juga terjadi pada seseorang yang sudah menjadi ayah, yang dikenal sebagai dad brain.
Meskipun pria tidak hamil dan melahirkan secara fisik, interaksi dengan bayi dapat memicu perubahan struktur otak yang luar biasa. Peneliti menemukan bahwa pria kehilangan sekitar 1% hingga 2% volume pada korteks otak setelah anak pertama lahir. Lebih kecil dibanding wanita yang mencapai 4% hingga 5%.
Sama halnya seperti ibu, menyusutnya otak pada ayah bukan berarti sel otaknya mengalami gangguan. Justru, menyusutnya salah satu area Default Mode Network (jaringan yang mengatur empati) ini membuat ayah lebih peka dan lebih fokus menjaga bayinya.
Uniknya, perubahan otak pria bergantung pada seberapa terlibatnya sang ayah dalam mengasuh anak. Pria yang aktif merawat bayinya akan mengalami penurunan hormon testosteron yang bertujuan agar sang ayah dapat lebih sabar, serta lonjakan pada hormon oksitosin dan prolaktin—hormon kasih sayang dan kedekatan.
Sementara itu, penelitian yang ditulis oleh Khashayar Mehdizadehkashi dan rekan-rekannya pada 2014 membahas perubahan ketajaman penglihatan setelah persalinan, menunjukkan bahwa perubahan refraksi dapat terjadi selama kehamilan dan cenderung berkurang setelah persalinan.
Bertambahnya minus mata bukan karena kerusakan struktural pada saraf mata, melainkan akibat cairan edema yang menumpuk, sehingga mengubah kelengkungan kornea mata untuk sementara.
Minus mata akan kembali normal saat tubuh mulai kembali seimbang dan sisa cairan kehamilan terbuang sepenuhnya. Biasanya sekitar 2 hingga 6 bulan pascamelahirkan. Dan umumnya, angka minus mata ibu pun akan kembali ke angka sebelum hamil.
Namun, hal ini juga harus diwaspadai bagi pemilik minus tinggi (di atas 6 dioptri). Secara anatomi, ibu dengan minus tinggi memiliki lapisan selaput saraf mata (retina) yang lebih tipis.
Dan harus segera ke dokter spesialis mata jika dirasakan gejala-gejala seperti munculnya banyak bintik atau benang hitam yang melayang-layang di pandangan, serta pandangan gelap sebagian seolah tertutup tirai.
Kedua fenomena itu tidak dibuat untuk menakuti kita, melainkan menyadarkan kita seberapa hebatnya sistem tubuh kita dengan beradaptasi secara natural.
Apa yang terlihat menyeramkan belum tentu membahayakan. Justru, sebagian besar membantu tubuh kita agar tetap produktif.
Lantas, apa yang harus kita lakukan apabila mengalami kedua fenomena tersebut?
Pertama, menghadapi mommy brain atau kabut otak setelah melahirkan. Untuk mengatasinya, ibu dapat berusaha mendapatkan waktu istirahat yang cukup dengan bantuan pasangan atau keluarga, serta mencukupi kebutuhan nutrisi.
Kedua, menghadapi perubahan minus mata selama kehamilan dan setelah melahirkan. Pemeriksaan kepada dokter spesialis mata diperlukan untuk mengetahui penyebab perubahan tersebut. Perlu diingat, perubahan minus mata tidak selalu bersifat sementara atau pasti kembali seperti semula.
Pada akhirnya, memahami kedua fenomena ini membantu kita membedakan proses adaptasi yang umum terjadi dari gejala yang memerlukan perhatian medis. Dengan istirahat yang memadai, dukungan orang terdekat, serta pemeriksaan yang tepat, kesehatan ibu dapat lebih terjaga selama masa pemulihan setelah melahirkan.
Cherryska Nabila Budiyono.
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan, foto, gambar, ilustrasi, apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com - Syarat dan Ketentuan - Kebijakan Privasi - Panduan Komunitas - Disclaimer





































































