Menjadi mahasiswa identik dengan kehidupan yang penuh aktivitas. Kuliah, mengerjakan tugas, mengikuti organisasi, berkumpul bersama teman, hingga menikmati berbagai hiburan menjadi bagian dari keseharian. Di tengah banyaknya aktivitas tersebut, ada satu hal yang sering kali dianggap sepele, yaitu bagaimana mengelola uang. Banyak mahasiswa merasa bahwa urusan keuangan belum terlalu penting karena belum memiliki penghasilan sendiri. Padahal, masa kuliah justru menjadi waktu yang tepat untuk mulai belajar mengatur keuangan.
Memiliki uang yang terbatas sebenarnya bukan satu-satunya penyebab seseorang mengalami masalah keuangan. Cara menggunakan uang memiliki peran yang tidak kalah penting. Mahasiswa dengan uang saku yang cukup besar tetap dapat kehabisan uang sebelum akhir bulan jika tidak memiliki perencanaan. Sebaliknya, mahasiswa dengan uang yang lebih terbatas masih dapat memenuhi kebutuhannya apabila mampu menentukan prioritas.
Kondisi tersebut semakin terasa di era digital. Teknologi membuat berbagai transaksi menjadi sangat mudah. Membeli makanan, pakaian, skincare, tiket, hingga berbagai kebutuhan lainnya dapat dilakukan hanya melalui smartphone. Dompet digital dan berbagai metode pembayaran juga membuat proses transaksi semakin praktis. Namun, kemudahan tersebut dapat membuat seseorang mengeluarkan uang tanpa benar-benar menyadari jumlah yang telah dibelanjakan.
Salah satu persoalan yang sering terjadi adalah kebiasaan mengeluarkan uang untuk hal-hal kecil. Membeli minuman setelah kuliah, memesan makanan melalui aplikasi karena malas mencari makan, membeli barang karena sedang diskon, atau nongkrong bersama teman mungkin terlihat sebagai pengeluaran sederhana. Namun, ketika dilakukan berulang kali, pengeluaran tersebut dapat memberikan dampak yang cukup besar terhadap kondisi keuangan.
Sebagai contoh, seseorang menghabiskan Rp20.000 untuk membeli minuman setiap hari. Jika dilakukan selama 20 hari, pengeluaran tersebut sudah mencapai Rp400.000. Satu kali pembelian memang tidak terasa berat, tetapi akumulasinya dalam satu bulan dapat menjadi jumlah yang cukup besar. Dari sini terlihat bahwa uang tidak selalu habis karena satu pengeluaran besar. Pengeluaran kecil yang dilakukan terus-menerus juga dapat menjadi penyebabnya.
Selain kebiasaan konsumtif, media sosial turut memengaruhi cara mahasiswa memandang gaya hidup. Setiap hari, berbagai platform media sosial menampilkan orang-orang yang sedang bepergian, membeli barang baru, makan di restoran, atau mengunjungi tempat tertentu. Paparan tersebut dapat membuat gaya hidup tertentu terlihat seperti sesuatu yang harus diikuti agar tidak merasa tertinggal.
Padahal, kondisi keuangan setiap orang berbeda. Apa yang terlihat di media sosial hanyalah sebagian kecil dari kehidupan seseorang. Kita tidak mengetahui bagaimana mereka mengatur pendapatan, tabungan, maupun pengeluarannya. Menjadikan gaya hidup orang lain sebagai standar justru dapat mendorong seseorang melakukan pengeluaran yang sebenarnya berada di luar kemampuan.
Fenomena tersebut menunjukkan bahwa literasi keuangan tidak hanya berkaitan dengan kemampuan menghitung uang. Ada aspek pengendalian diri dan kemampuan menentukan prioritas di dalamnya. Seseorang perlu memahami perbedaan antara kebutuhan dan keinginan sebelum memutuskan untuk membeli sesuatu.
Kebutuhan merupakan sesuatu yang harus dipenuhi untuk menunjang kehidupan dan aktivitas sehari-hari, seperti makanan, transportasi, biaya pendidikan, dan kebutuhan kesehatan. Sementara itu, keinginan lebih berkaitan dengan sesuatu yang ingin dimiliki atau dinikmati meskipun tanpa hal tersebut kehidupan tetap dapat berjalan. Perbedaan sederhana ini penting dipahami karena tidak semua hal yang diinginkan harus langsung dibeli.
Masalah lain yang perlu diperhatikan adalah semakin mudahnya akses terhadap sistem pembayaran seperti paylater. Fasilitas tersebut memang dapat memberikan kemudahan dalam kondisi tertentu, tetapi juga membuat seseorang dapat membeli sesuatu sebelum benar-benar memiliki uang untuk membayarnya. Jika digunakan tanpa perencanaan, kewajiban pembayaran pada bulan berikutnya dapat menumpuk dan mengurangi kemampuan untuk memenuhi kebutuhan lainnya.
Karena itu, mahasiswa perlu mulai membangun kebiasaan keuangan yang sederhana. Salah satunya adalah membuat anggaran bulanan. Tidak perlu menggunakan metode yang rumit. Uang yang diterima dapat dibagi berdasarkan kebutuhan utama, transportasi, keperluan kuliah, hiburan, tabungan, dan dana cadangan. Pembagian tersebut membantu mahasiswa mengetahui batas pengeluaran dan mencegah uang digunakan tanpa arah.
Mencatat pengeluaran juga menjadi langkah yang sering dianggap sepele, tetapi sebenarnya cukup efektif. Banyak orang merasa uangnya tiba-tiba habis tanpa mengetahui ke mana uang tersebut pergi. Dengan mencatat setiap pengeluaran, pola penggunaan uang akan lebih mudah terlihat. Dari sana dapat diketahui apakah pengeluaran terbesar berasal dari makanan, transportasi, belanja online, hiburan, atau kebutuhan lainnya.
Menabung juga tidak harus menunggu sampai memiliki penghasilan besar. Menyisihkan sebagian kecil uang secara rutin sudah dapat menjadi awal yang baik. Nilai yang ditabung mungkin belum besar, tetapi kebiasaan tersebut jauh lebih penting dalam tahap awal. Tujuannya adalah membangun disiplin agar tidak seluruh uang yang diterima langsung dihabiskan.
Namun, mengelola keuangan bukan berarti mahasiswa harus menghilangkan semua bentuk hiburan. Kehidupan kuliah juga membutuhkan keseimbangan. Berkumpul dengan teman, mencoba makanan baru, pergi ke suatu tempat, atau membeli barang yang disukai tetap boleh dilakukan selama disesuaikan dengan kondisi keuangan. Yang menjadi masalah bukan kegiatan tersebut, melainkan ketika seseorang memaksakan gaya hidup yang sebenarnya tidak sesuai dengan kemampuannya.
Di sinilah pentingnya memahami konsep hidup sesuai kemampuan. Tidak perlu merasa malu ketika tidak dapat mengikuti semua ajakan atau tren yang sedang berlangsung. Menolak suatu pengeluaran karena sedang mengutamakan kebutuhan lain bukan berarti tidak mampu menikmati kehidupan. Justru kemampuan menentukan prioritas menunjukkan bahwa seseorang mulai memiliki kendali terhadap keuangannya sendiri.
Kebiasaan tersebut akan semakin penting ketika mahasiswa memasuki dunia kerja. Memiliki penghasilan sendiri bukan berarti semua masalah keuangan otomatis selesai. Ketika pendapatan meningkat, biasanya kebutuhan dan tanggung jawab juga ikut bertambah. Tanpa kemampuan mengelola uang, kenaikan pendapatan justru dapat diikuti oleh kenaikan gaya hidup.
Karena itu, literasi keuangan seharusnya tidak dianggap sebagai sesuatu yang baru perlu dipelajari setelah memiliki pekerjaan. Mahasiswa sudah dapat memulainya dari hal-hal sederhana dalam kehidupan sehari-hari. Membuat anggaran, mencatat pengeluaran, menabung, membedakan kebutuhan dan keinginan, serta berhati-hati dalam menggunakan fasilitas kredit merupakan kebiasaan yang dapat dibangun sejak sekarang.
Pada akhirnya, persoalan keuangan bukan hanya mengenai seberapa besar uang yang dimiliki, tetapi bagaimana seseorang menggunakannya. Uang yang terbatas tetap dapat dikelola dengan baik apabila digunakan berdasarkan prioritas. Sebaliknya, uang yang lebih banyak juga dapat habis apabila tidak disertai perencanaan.
Menjadi mahasiswa bukan berarti harus hidup serba kekurangan dan menolak semua kesenangan. Yang diperlukan adalah keseimbangan antara menikmati masa muda dan bertanggung jawab terhadap kondisi keuangan sendiri. Kemampuan untuk mengatakan “tidak dulu” ketika kondisi belum memungkinkan mungkin terlihat sederhana, tetapi kebiasaan tersebut dapat menjadi bekal penting untuk menghadapi kehidupan yang lebih mandiri di masa depan.
Penulis : Khofifah Azzahra
Mahasiswa Universitas Pamulang
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan, foto, gambar, ilustrasi, apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com - Syarat dan Ketentuan - Kebijakan Privasi - Panduan Komunitas - Disclaimer







































































