Pernah nggak, lagi kumpul bareng temen, tiba-tiba mereka ngomong bahasa aneh yang agak asing sama kita? kayak “gue lowkey capek banget hari ini.” atau “getting sendy with my food.” Pasti di saat itu kamu kebingungan sekaligus takut mereka judge kamu karena kamu kurang update. Don’t worry, artikel ini akan bahas tentang slang bahasa Inggris, terutama di sosial media yang makin marak popularitasnya di kalangan remaja, dan bagaimana mereka bisa mendunia.
The Power of Slang
Slang ini nggak cuma sekadar gaya bicara, tapi juga perlahan membentuk cara remaja saling berkomunikasi, mengekspresikan diri, bahkan membangun identitas mereka, digital maupun tidak. Fenomena penyebaran slang bahasa Inggris khususnya sangat dipengaruhi oleh fitur-fitur sosial media seperti re-tweet dan re-post.
Proses penyebarannya dimulai dari komunitas global, lalu diadaptasi oleh komunitas lokal. Kreator atau pengguna sosial media yang punya banyak engagement akan sering jadi trendsetter. Ketika sebuah slang terasa relatable atau punya makna seru atau lucu, pengguna sosial media lain bakal ikut-ikutan pakai slang itu di tweet, post, atau chat sehari-hari. Fenomena ini disebut sebagai efek snowball.
Efek snowball (bola salju) adalah proses di mana suatu fenomena kecil makin lama makin membesar karena adanya penambahan faktor atau partisipan secara bertahap, serupa bola salju yang menggelinding dan semakin besar (Nurdiani, 2014). Proses penyebaran slang di media sosial mempercepat efek snowball ini karena memungkinkan setiap individu menyebarkan istilah baru kepada pengguna lain dengan cepat.
Salah satu kekuatan penyebaran slang di aplikasi X adalah format singkat dan viralnya informasi di platform ini, ditambah adanya fitur trending topic atau thread. Pasti bagi fans selebriti tertentu gak asing dengan istilah “stan”. Isitlah “stan” dari “super fan” ini merupakan bukti dari kuatnya penyebaran slang bahasa Inggris di aplikasi X dengan cepat berkat aksi re-tweet dan quote-retweet yang membuat maknanya berkembang sesuai kreativitas pengguna.
Nggak cuma lewat text, meme, dan video pendek, GIF juga jadi media buat nyebarin slang baru. Misalnya meme “rizz” buat ngomongin karisma seseorang. Slang ini bisa ramai dalam semalam setelah diangkat akun viral. Bahkan, kadang istilah slang di X digabung dengan bahasa Indonesia, kayak “ngabers” (ngab + bers), atau “auto vibes”.
Efek snowball dalam penyebaran slang di media sosial ini membuktikan kalau Gen-Z di Indonesia cenderung cepat menangkap dan mengadaptasi slang bahasa Inggris karena mereka aktif online, mengonsumsi konten global tinggi, dan selalu ingin up-to-date dengan dunia luar. Mereka juga sering jadi pelopor slang baru dengan nyampurin istilah Inggris dan istilah lokal, seperti “pewe” (comfortable/posisi enak) atau “dighosting doi”.
Dari Komunitas Kecil ke Viral
Slang juga sering menyebar lewat komunitas, di mana sebuah istilah bisa dibuat, dipelesetkan, atau dijadikan hashtag bersama-sama. Efek komunitas ini bikin slang jadi ciri khas satu kelompok, lalu perlahan menular ke kelompok lain.
Yang unik, beberapa slang bahasa Inggris di X akhirnya masuk ke bahasa obrolan offline. Slang ini jadi bahan bercandaan di kampus, tempat nongkrong, bahkan di keluarga (walaupun kadang orang tua juga suka nggak paham istilahnya). Perpindahan antara online dan offline inilah yang bikin istilah Inggris semakin bertahan dalam komunikasi anak muda.
Slang Dari Perspektif Linguistik dan Sosiokultural
Dari sisi linguistik, proses formasi slang juga menarik. Ada yang berupa akronim (FOMO, YOLO), clipping (fam, sis) dan blending (hangry). Proses adaptasi ini membuktikan kreativitas luar biasa anak muda di era digital.
Fungsi utama slang bukan hanya untuk “kelihatan gaul”, tapi juga bisa menjadi indentitas kelompok, dan ekspresi mood. Di sisi lain, penyebaran slang dalam sosial media ini bisa dipandang sebagai fenomena perubahan bahasa yang dibentuk dan dibawa arus globalisasi dan teknologi komunikasi.
Terus… Apa Hubungannya Sama Program Studi Sastra Inggris?
Nah, di sinilah posisi mahasiswa Bahasa dan Sastra Inggris menjadi krusial. Dalam program studi ini, fenomena seperti penyebaran slang dalam media sosial ini merupakan hal yang dibahas nggak hanya dari aspek bahasa inggrisnya doang, tapi juga mendalami aspek linguistik dan sosiokulturalnya. Fenomena ini sangat menarik untuk dikasji dari sudut pandang mahasiswa Bahasa dan Sastra Inggris. Mahasiswa program studi ini bisa meneliti bagaimana kosakata asing diadopsi massal dalam komunikasi anak muda. Program studi Bahasa dan Sastra Inggris tak hanya mempelajari tekstual klasik, tapi juga dinamika bahasa dan budaya yang selalu mengalami perubahan di era globalisasi ini.
Jadi, siapa bilang belajar di Program studi Bahasa dan Sastra Inggris itu cuma belajar tentang Shakespeare doang?
Back to Our Topic!
So… slang bahasa Ingris di sosial media itu memang menyebar bukan cuma karena ingin terlihat keren dan tetap relevan, tapi juga ada dorongan dari berbagai aspek, seperti komunitas dan efek snowball dari interaksi sosial yang intens di dunia maya. Platform sosial media seperti X jadi laboratorium hidup buat slang internasional yang melekat ke identitas digital anak muda. Fenomena ini juga merupakan suatu kajian yang dipelajari di program studi Bahasa dan Sastra Inggris yang semakin kontekstual dan relevan dengan isu kekinian.
References
Nurdiani, N. (2014) ‘Teknik Sampling Snowball Dalam Penelitian Lapangan’, ComTech, 5(2), pp. 1110–1118. Diakses pada 9 November 2025, dari https://media.neliti.com/media/publications/165822-ID-teknik-sampling-snowball-dalam-penelitia.pdf
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com - Syarat dan Ketentuan - Kebijakan Privasi - Panduan Komunitas - Disclaimer









































































