Emosi, Stres, dan Banyak tekanan
Nonsuicidal Self-Injury atau NSSI adalah perilaku sengaja melukai tubuh tanpa niat
untuk mengakhiri hidup (American Psychiatric Association, 2013). Bentuknya dapat berupa memotong, membakar diri, menggaruk secara berlebihan, atau menekan kulit secara ekstrem. Fenomena ini sering ditemukan pada remaja hingga dewasa muda yang masih sulit meregulasi emosi, mudah stres, dan banyak tekanan. Dalam praktik klinis, NSSI umumnya dipahami sebagai strategi maladaptif untuk mengatur emosi yang intens atau tidak nyaman. Banyak individu yang melakukan perilaku ini melaporkan adanya perasaan lega, tenang, atau merasa lebih “hidup” setelah melakukan tindakan tersebut.
Namun, masih menjadi pertanyaan apakah perilaku NSSI termasuk dalam kategori adiksi atau tidak. Meskipun NSSI tidak dikategorikan sebagai gangguan adiktif secara resmi, beberapa karakteristiknya, seperti dorongan kuat dan pengulangan perilaku, mirip dengan pola perilaku adiktif. Dalam perspektif neurosains dan biopsikologi
, perilaku ini dapat dipelajari melalui cara otak memproses reward, regulasi emosi, dan impulsivitas. Memahami dasar biologis NSSI membantu menjelaskan mengapa perilaku ini sering berulang dan sulit dihentikan, dan bagaimana mekanisme otak berperan dalam proses tersebut.
NSSI dalam Perspektif Diagnostik
Menurut Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders edisi kelima (DSM 5),
NSSI termasuk dalam Nonsuicidal Self-Injury Disorder (NSSID) yang masih berada di section III untuk kondisi yang memerlukan penelitian lebih lanjut (American Psychiatric Association, 2013). Artinya, NSSI diakui sebagai perilaku klinis yang bermasalah, tetapi belum dikategorikan sebagai gangguan adiktif. Kriteria diagnostik NSSID menekankan pada frekuensi perilaku, tujuan regulasi emosi, serta dampak pada kehidupan sehari-hari. Dengan kata lain, fokus utama diagnosis NSSI adalah pada fungsi psikologis tertentu, bukan pada status adiktifnya. Namun, pemahaman biologis dan neuropsikologis tetap penting untuk menjelaskan mengapa perilaku ini dapat muncul secara berulang.
Aspek Biopsikologi dan Neurosains
1. Sistem Reward Otak
Salah satu mekanisme biologis utama yang mendasari NSSI adalah keterlibatan
sistem reward di otak. Saat seseorang melukai diri, tubuh melepaskan endorfin, yaitu zat kimia alami yang menurunkan rasa sakit fisik dan emosional serta menimbulkan sensasi lega (Bresin dan Gordon, 2013). Sensasi ini mirip dengan efek yang terjadi pada perilaku adiktif, sehingga perilaku NSSI dapat diulang karena otak “menginginkan” sensasi lega tersebut.
Selain endorfin, neurotransmitter lain seperti dopamin berperan dalam motivasi
dan pengalaman reward, sedangkan serotonin terkait dengan regulasi mood dan kontrol impuls. Ketidakseimbangan atau disregulasi neurotransmitter ini dapat membuat seseorang lebih rentan untuk menggunakan NSSI sebagai strategi mengatasi emosi negatif.
2. Korteks Prefrontal dan Kontrol Impuls
Korteks prefrontal adalah bagian otak yang bertanggung jawab untuk pengambilan keputusan, perencanaan, dan kontrol impuls. Pada individu yang melakukan NSSI, fungsi korteks prefrontal kadang tidak maksimal, terutama ketika mengalami stres atau emosi yang kuat. Akibatnya, dorongan untuk melukai diri sendiri sulit dikendalikan.
Dengan kata lain, otak yang sedang mengalami stres atau ketidakseimbangan
neurotransmiter lebih rentan untuk “memilih” NSSI sebagai strategi coping. Dariperspektif biopsikologi, hal ini menunjukkan hubungan langsung antara struktur otak, kontrol perilaku, dan regulasi emosi.
3. Amigdala dan Sistem Limbik
Amigdala merupakan bagian otak yang memproses emosi, termasuk rasa takut,
stres, dan kemarahan. Aktivitas amigdala yang tinggi dapat meningkatkan ketegangan
emosional. NSSI sering digunakan sebagai cara untuk mengurangi ketegangan ini, sehingga otak menerima sinyal lega. Dengan kata lain, perilaku NSSI berfungsi sebagai mekanisme biologis untuk menyeimbangkan respons emosional yang berlebihan.
4. Penguatan dan Pola Perilaku Berulang
Dalam biopsikologi, penguatan perilaku menjelaskan mengapa NSSI bisa berulang. Efek lega yang dihasilkan setelah melukai diri sendiri menjadi penguatan negatif, karena menurunkan emosi yang tidak nyaman. Pada sebagian individu, intensitas
atau frekuensi NSSI meningkat seiring waktu, mirip dengan fenomena toleransi pada adiksi. Hal ini menunjukkan interaksi kompleks antara otak, neurotransmitter, dan
perilaku yang membuat NSSI sering kali sulit dihentikan.
Perbandingan dengan Adiksi
Secara resmi, NSSI tidak dikategorikan sebagai adiksi. Namun, beberapa karakteristik NSSI menyerupai perilaku adiktif. Contohnya adalah dorongan kuat (craving), kesulitan menghentikan perilaku, dan pengulangan perilaku meskipun menyadari risiko. Perbedaan utamanya terletak pada tujuan perilaku. Adiksi biasanya bertujuan untuk mencari kesenangan atau euforia, sedangkan NSSI berfokus pada pengurangan emosi negatif dan regulasi afek. Dari perspektif biopsikologi, hal ini menekankan pentingnya memahami NSSI sebagai perilaku yang melibatkan interaksi kompleks antara otak, neurotransmitter, dan lingkungan psikologis.
Implikasi Klinis
Pemahaman NSSI dari perspektif neurosains membantu dalam merancang intervensi
yang lebih efektif. Dialectical Behavior Therapy (DBT) menjadi salah satu pendekatan utama karena berfokus pada regulasi emosi, keterampilan coping, dan pengendalian dorongan. Terapi ini menggunakan prinsip dialektika, yaitu menggabungkan penerimaan (menerima diri sendiri dan emosi saat ini) dan perubahan (berupaya merubah perilaku dan emosi yang tidak sehat) sehingga sangat efektif digunakan untuk mengatasi regulasi emosi. Teknik yang digunakan dalam terapi adiksi, seperti menghadapi dorongan tanpa melakukan perilaku kompulsif juga
dapat diterapkan. Pendekatan ini menggabungkan pemahaman biologis dan psikologis untuk membantu individu mengelola dorongan NSSI dengan cara yang lebih sehat.
Kesimpulan
Nonsuicidal Self-Injury atau NSSI bukan termasuk adiksi menurut DSM-5. Namun, dari perspektif biopsikologi dan neurosains, perilaku ini melibatkan sistem reward otak,
neurotransmitter, dan mekanisme regulasi emosi yang memungkinkan perilaku muncul berulang. Sensasi lega akibat pelepasan endorfin dan interaksi korteks prefrontal dengan amigdala menjelaskan mengapa perilaku ini sulit dihentikan. Pemahaman ini penting untuk membantu merancang strategi intervensi yang efektif bagi individu yang melakukan NSSI.
Daftar Pustaka
American Psychiatric Association. (2013). Diagnostic and statistical manual of mental disorders
(5th ed.).
Blasco Fontecilla, H., Jaussent, I., Steeg, S., dan Baca García, E. (2016). The addictive model of
self harming (non suicidal and suicidal) behaviors. Frontiers in Psychiatry, 7, 8.
Bresin, K., dan Gordon, K. H. (2013). Endogenous opioids and nonsuicidal self injury: A
mechanism of affect regulation. Clinical Psychology Review, 33(1), 121–132.Nock, M. K. (2009). Why do people hurt themselves? New insights into the nature and function
of self injury. Current Directions in Psychological Science, 18(2), 78–83
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com dan klaim apa pun yang timbul dari publikasi tersebut, termasuk, namun tidak terbatas pada, klaim pencemaran nama baik, pelanggaran privasi, pelanggaran hak cipta, merek dagang, nama dagang atau pelanggaran paten, berita palsu, atau klaim lain apa pun yang didasarkan pada perbuatan melawan hukum atau kontrak, atau berdasarkan undang-undang negara Republik Indonesia
Selain itu, setiap penulis setuju, untuk membebaskan siaran-berita.com dari semua klaim (baik yang sah maupun tidak sah), tuntutan hukum, putusan, kewajiban, ganti rugi, kerugian, biaya, dan pengeluaran apa pun (termasuk penilaian biaya pengacara yang wajar) yang timbul dari atau disebabkan oleh publikasi berita apa pun yang dipublikasikan oleh penulis.”




































































