Bengkulu adalah salah satu provinsi yang ada di pulau Sumatera. Saat ini Bengkulu sedang terjepit diantara pesona alam dan ancaman banjir tahunan yang semakin ekstrem. Baru-baru ini di bulan April 2026 tepatnya tanggal 4 terjadi bencana alam dikarenakan curah hujan yang deras dan intensitas waktu yang lama mengakibatkan banjir di sejumlah wilayah Bengkulu terutama di Kota Bengkulu itu sendiri. Banjir bukanlah hal yang baru di Bengkulu, curah hujan sedikit saja sudah menyebabkan di beberapa wilayah Bengkulu terkena banjir terutama di wilayah yang datarannya rendah seperti kelurahan Rawa Makmur dan Tanjung Agung. Kali ini ternyata bukan satu atau dua kelurahan yang terdampak dari banjir melainkan wilayah-wilayah yang biasanya tidak terkena banjir pun akhirnya terkena banjir karena curah hujan yang deras dan lama. Terdapat 2.881 rumah yang terendam akibat bencana banjir (BNPB, 2026). Hal ini menimbulkan pertanyaan, mengapa wilayah yang biasanya tidak terdampak banjir kali ini terdampak banjir ? apakah ada yang salah dengan ekosistem lingkungan di Bengkulu ?. Pertanyaan-pertanyaan tersebut dapat dijawab jika kita mengamati dan memahami lingkungan di Bengkulu. Ternyata belum banyak ditemukan penelitian terhadap integrasi pendidikan lingkungan melalui kearifan lokal pada pembelajaran fisika SMA di wilayah Bengkulu khususnya pada permasalahan bencana banjir ini.

Sumber : https://gis.bnpb.go.id/
Dengan demikian, timbulah peluang untuk mengintegrasikan pendidikan lingkungan pada pembelajaran fisika SMA di wilayah Bengkulu dengan kearifan lokal yang ada di wilayah ini agar bencana banjir yang terjadi dapat teratasi dan dicegah dengan baik. Salah satu kearifan lokal Bengkulu yakni ”Rumah Bubungan Lima”. Namun, ditengah modernisasi saat ini arsitektur jenius yang secara fisik dirancang untuk berdamai dengan air justru mulai terlupakan. Padahal di balik tiang panggungnya, tersimpan prinsip fisika murni yang mampu menjadi benteng literasi lingkungan bagi generasi muda. Tetapi zaman modernisasi telah sulit untuk menemukan rumah-rumah yang masih berbentuk rumah bubungan lima tersebut.

Sumber : https://www.indonesia.travel/gb/en/travel-ideas/heritage/rumah-bubungan-lima/
Melihat banyaknya kejadian bencana alam yang baru terjadi di Bengkulu saat ini seperti banjir. Banjir merupakan salah satu fenomena alam yang biasa terjadi di suatu kawasan yang banyak oleh dialiri sungai (Mulyana, 2023). Maka pendidikan dan literasi lingkungan yang harus dimiliki oleh elemen masyarakat terkhususnya siswa bukan lagi sekedar pilihan, melainkan keharusan untuk bertahan hidup ditengah krisis iklim yang dapat datang tanpa terduga. Pada salah satu mata pelajaran di SMA seperti fisika banyak kaitannya pada lingkungan. Seringkali pembelajaran fisika terasa abstrak dan jauh dari realitas kehidupan yang dialami oleh siswa. Padahal, fenomena lingkungan seperti banjir bandang dan kenaikan permukaan air laut dapat disebut sebagai laboratorium fisika raksasa.
Pembelajaran fisika dan bencana banjir memiliki kaitan erat karena banjir merupakan fenomena alam yang bekerja berdasarkan hukum-hukum mekanika fluida, termodinamika, dan energi. Di Bengkulu, kearifan lokal salah satunya adalah ”Rumah Bubungan Lima” yang merupakan contoh nyata aplikasi fisika lingkungan yang relevan. Rumah bubungan lima adalah rumah adat dari provinsi Bengkulu yang memilik model seperti rumah panggung yang ditopang oleh beberapa tiang penopang (Wikipedia, n.d.). Secara fisik, bentuk panggung pada rumah tradisional ini bukan sekadar estetika, melainkan strategi adaptasi terhadap lingkungan basah dan rawan banjir di pesisir Sumatera. Mengintegrasikan konsep ini ke kelas fisika berarti menghidupkan kembali identitas daerah sekaligus membangun kesadaran ekologis siswa. Sehingga apabila guru membawa permasalahan banjir dalam pembelajaran fisika yang mengaitkannya dengan kearifan lokal Bengkulu maka pembelajaran tersebut akan menghasilkan pembelajaran yang kontekstual dan terasa nyata oleh siswa.
Berdasarkan hasil observasi yang telah dilakukan dengan mengumpulkan dan menganalisis artikel-artikel nasional dan internasional yang bereputasi. Ditemukan sebuah fakta yang menarik yakni adanya peningkatkan risiko bencana akibat lingkungan di wilayah Bengkulu yang dipengaruhi oleh perubahan tata guna lahan dan kebutuhan akan edukasi lingkungan yang lebih kontekstual. Selain itu, terdapat data yang menunjukkan bahwa koefisien limpasan pada DAS Air Bengkulu sebesar 0,306 yang berarti melebihi tutupan lahan saat ini yang menyebabkan salah satu seringnya terjadi banjir (Sulistyo et al., 2024). Hal itu terjadi dikarenakan penurunan luas hutan dan perluasan pemukiman dan perkebunan menjadi kontribusi dari peningkatan koefisien limpasan DAS itu sendiri.
Kemudian ditemukan pula sudah banyak penerapan integrasi lingkungan pada pendidikan formal diberbagai tingkat pendidikannya tetapi belum ditemukan integrasi lingkungan pada pendidikan formal khususnya di SMA Bengkulu pada mata pelajaran fisika yang berorientasi pada kearifan lokal. Padahal integrasi pendidikan lingkungan yang berorientasi kearifan lokal sangatlah penting ada di dalam pembelajaran fisika khususnya di SMA Bengkulu.
Pada kajian literature yang telah dilakukan ternyata pembelajaran dengan kearifan lokal (etnosains) dapat meningkatkan pengetahuan siswa dan juga dapat meningkatkan kemampuan berpikir kritis siswa karena siswa merasa pembelajaran yang didapatkannya itu dekat dengan kehidupan nyata di sekelilingnya. Selain membantu pemahaman konsep abstrak, tetapi juga membangun kesiapsiagaan bencana melalui pendekatan kontekstual (Adelia Fitri et al., 2024). Pembelajaran yang terintegrasi dengan isu lingkungan dan kearifan lokal memungkinkan siswa untuk melakukan pengamatan langsung terhadap lingkungannya dimana kegiatan itu sangat efektif untuk memperkuat retensi informasi dan kesadaran lingkungan (Wayan Sukarjita et al., 2015).
Kearifan lokal Bengkulu yakni, Rumah Bubungan Lima jika dikaitkan dengan dengan konteks fisika dapat dianalisis melalui beberapa hukum seperti Hukum Pascal dan Tekanan Hidrostatis. Tinggi panggung pada rumah harus dibuat melampaui titik banjir tertinggi, sehingga apabila banjir datang di wilayah itu maka rumah tidak akan terendam banjir karena posisi rumah yang lebih tinggi dari permukaan air. Hal ini sangat relevan mengingat wilayah Bengkulu memiliki curah hujan tahunan yang tinggi hingga 2.900 mm dan kerentanan yang besar terhadap bencana hidrometeorologi (Sulistyo et al., 2024). Selain itu adapula hukum Termodinamika, yakni karena rumah panggung dibuat tinggi dengan bagian bawah kosong maka terdapat sirkulasi udara di bagian lantai panggung yang dapat mengurangi kelembapan serta menciptakan efisiensi energi alami bagi penghuninya sehingga hal tersebut bagus untuk keberlangsungan kehidupan.
Penemuan terbaru menunjukkan bahwa integrasi kearifan lokal seperti ini ke dalam pembelajaran fisika sangat krusial untuk meningkatkan literasi lingkungan siswa, terutama daerah yang rawan banjir seperti di daerah Bengkulu. Struktur rumah panggung ini juga merupakan bentuk mitigasi bencana yang adaptif terhadap karakteristik wilayah Bengkulu yang sering mengalami banjir di beberapa wilayahnya akibat penutupan lahan dan peningkatan koefisien limpasan (runoff) di daerah aliran sungai (Adelia Fitri et al., 2024)
Bengkulu memiliki beragam kearifan lokal yang sangat spesifik untuk dijadikan sumber belajar di dalam kelas maupun secara mandiri. Rumah Bubungan Lima, hal ini dapat menjadi peluang untuk mengintegrasikan kearifan lokal Bengkulu ke dalam pembelajaran fisika. Dengan kejadian bencana banjir dan rumah-rumah warga yang berbentuk bubungan lima pada wilayah rawan banjir maka rumah tersebut tidak akan terendam banjir sebagai bentuk dari mitigasi bencana serta dalam pembelajaran fisika, siswa berpeluang meningkatkan kemampuan berpikir kritis dan literasi lingkungan dengan membedah hukum-hukum fisika yang relevan (Zuhriyah & Rokhman, 2025). Selain itu, juga dapat meningkatkan kreativitas dan hasil belajar siswa apabila diintegrasikan dengan keunikan kearifan lokal yang ada di suatu daerah (Hikmah et al., 2025).
Namun, implementasi di lapangan masih menghadapi tantangan signifikan, terutama terkait keterbatasan perangkat ajar yang mengintegrasikan nilai kearifan lokal secara sistematis ke dalam kurikulum khususnya dalam pembelajaran fisika. Guru seringkali kesulitan dalam merancang asesmen berbasis HOTS yang selaras dengan kearifan lokal serta ketersedian fisik Rumah Bubungan Lima yang asli di lingkungan Bengkulu mulai berkurang sehingga menjadi kendala bagi penerapan model pembelajaran observasi langsung.
Fisika bukan sekadar angka di atas kertas, melainkan napas dari kearifan lokal yang telah menjaga leluhur kita selama berabad-abad. Rumah Bubungan Lima adalah bukti bahwa teknologi masa lalu menyimpan kunci mitigasi masa depan yang pro terhadap pendidikan lingkungan. Saatnya para guru, sekolah, dan pembuat kebijakan di Bengkulu berkolaborasi untuk mengembalikan sains ke akarnya. Jika kita tidak mengajarkan literasi lingkungan berbasis kearifan lokal hari ini, maka kita sedang membiarkan generasi mendatang hanyut ditelan banjir yang sebenarnya bisa kita jinakkan dengan ilmu.
Daftar Pustaka :
Adelia Fitri, E., Johan, H., Karyadi, B., & Putriani, E. (2024). Integrated Physics E-Booklet Model of Tsunami Disaster Mitigation in Outer Islands of The West Coast Sumatra for High School Level. https://doi.org/10.21009/1
Aditama, P. W., Yanti, C. P., & Sudipa, I. G. (2023). TEKNOLOGI AUGMENTED REALITY (AR) PADA LONTAR PRASI BALI. Sonpedia Publishing Indonesia.
BNPB. (2026). Geoportal Data Bencana Indonesia. https://gis.bnpb.go.id/
Hikmah, N., Herayanti, L., & Gummah, S. (2025). Development of Ethnoscience-Based Teaching Materials on Fluid Dynamics to Enhance Students’ Creativity. Jurnal Pendidikan Fisika Dan Teknologi, 11(1a), 140–147. https://doi.org/10.29303/jpft.v11i1a.9575
Ilham, A. Z., & Rauff, W. (2025). Inovasi Pembelajaran Berbasis Multimedia. Mafy Media Literasi Indonesia.
Mulyana, E. (2023). MITIGASI BENCANA (Pemahaman Literasi Informasi Bencana di Indonesia). Widina.
Sulistyo, B., Adiprasetyo, T., Murcitro, B. G., Purwadi, A. J., & Listyaningrum, N. (2024). Runoff Coefficient in the Air Bengkulu Watershed and the Evaluation of the Existing Spatial Planning. Indonesian Journal of Geography, 56(2), 277–287. https://doi.org/10.22146/ijg.91397
Wayan Sukarjita, I., Ardi, M., Rachman, A., Supu, A., & Dirawan, G. D. (2015). The integration of environmental education in science materials by using MOTORIC learning model. International Education Studies, 8(1), 152–159. https://doi.org/10.5539/ies.v8n1p152
Wikipedia. (n.d.). Rumah Bubungan Lima. Retrieved April 14, 2026, from https://id.wikipedia.org/wiki/Rumah_Bubungan_Lima
Zuhriyah, A., & Rokhman, N. (2025). UTILISING DISASTER MITIGATION EDUCATIONAL VIDEOS TO IMPROVE THE UNDERSTANDING OF STUDENTS IN REDUCING ENVIRONMENTAL PROBLEM SOLVING. Journal of Sustainability Science and Management, 20(1), 122–138. https://doi.org/10.46754/jssm.2025.01.007
Daftar Sumber Gambar
https://gis.bnpb.go.id/. Diunduh pada tanggal 10 April 2026 pukul 16.00 WIB
https://www.indonesia.travel/gb/en/travel-ideas/heritage/rumah-bubungan-lima/. Diunduh
pada tanggal 10 April 2026 pukul 18.00 WIB
Deswinta Triani*, Mahasiswa S2 Pendidikan Fisika UNP
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com - Syarat dan Ketentuan - Kebijakan Privasi - Panduan Komunitas - Disclaimer





























































