Hal ini awalnya diketahui ketika KDM datang ke SMP di kota subang untuk melakukan pengecekan ke setiap sekolah yang ada di jawa barat, hingga pada akhirnya KDM mendapati 1 siswa yang sering merokok.
Mulanya, KDM bertanya kepada seorang siswa tentang berapa banyak rokok yang sudah ia konsumsi sehari hari, kemudian beliau bertanya lagi tentang matematika dasar kepada siswa tersebut.
“saya tanya, 1500×5 berapa?” tanya kdm
“8000” jawab siswa
“1000×5 berapa?” tanya kdm lagi
“7” jawab siswa
setelah beberapa pertanyaan dan jawaban dari siswa, KDM menghimbau kepada para guru yang sedang berada diruangankalau matematika dasar di smp tersebut terbilang lemah, karena terlalu mengejar kurikulum.
beliau kemudian melanjutkan kalau hal tersebut mengancam masa depan anak bangsa, mengapa? Karena para calon pekerjaan yang ada di bidang teknik industri otomotif, industri elektrik, khususnya jawa barat rata rata tes matematika nya tidak lulus.
lantas, mengapa banyak anak anak Indonesia yang lemahdalam pelajaran calistung?
berdasarkan berbagai penelitian yang telah dilakukan, baikdari dalam maupun luar negeri, menunjukkan bahwakemampuan berhitung dan matematika siswa Indonesia masihtergolong rendah. hasil dari studi besar seperti TIMSS dan PISA, ditambah sejumlah riset akademik nasional, mengindikasikan bahwa masalah ini dipicu oleh banyakfaktor, antara lain yaitu social ekonomi, lingkungan sekolah, hingga metode pembelajaran yang diterima terbilang belumcukup efektif.
dalam laporan Trends in International Mathematics and Science Study (TIMSS), prestasi matematika siswa Indonesia tercatat masih berada jauh di bawah rata-rata dunia. hal serupajuga terlihat pada hasil Programme for International Student Assessment (PISA), yang selama beberapa tahun terakhir terusmenempatkan kemampuan numerasi siswa Indonesia pada level rendah.
adapun riset terbaru dari Mulia Sari Dewi, dosen UIN SyarifHidayatullah Jakarta, yang menemukan bahwa keterbatasanfasilitas belajar di sekolah maupun di rumah memberikanpengaruh besar terhadap kemampuan matematika siswa. Menggunakan data TIMSS 2015, penelitian tersebut mencatatbahwa minimnya sarana pembelajaran, rendahnya pendidikanorang tua, serta kurangnya minat dan rasa percaya diri siswaterhadap matematika berkontribusi menurunkan hasil belajar.
penelitian lain hasil dari M. Mujiya Ulkhaq dari Universitas Diponegoro juga menegaskan pentingnya faktor sosial-ekonomi dan suasana kelas. siswa dari keluarga dengankondisi ekonomi kurang mampu umumnya memiliki aksesterbatas terhadap fasilitas belajar di rumah, termasukperangkat digital yang sebenarnya bisa membantu merekaberlatih matematika.
kalau sudah begini, bagaimana solusi yang dapat kita lakukansupaya hal ini tidak berkelanjutan ke generasi generasiselanjutnya? guna memperbaiki kualitas anak bangsaIndonesia.
adapun saran yang bisa kita ikuti dari beberapa peneliti, yaitu:
1. meningkatkan kualitas pengajaran dan kurikulum
banyak peneliti menekankan perlunya metode pembelajaranyang lebih interaktif, seperti pendekatan berbasis masalah(problem-based learning) dan pembelajaran kontekstual.
mengadakan pelatihan kepada guru guru yang lebih intensif, terutama agar guru mampu mengajar matematika dengan carayang mudah dipahami murid murid sesuai jenjang nya dan relevan dengan kehidupan sehari-hari.
peninjauan ulang kurikulum agar tidak terlalu padat, lebihfokus pada pemahaman konsep, bukan sekadar hafalan rumus.
2. penguatan fasilitas dan sumber belajar
mengacu pada temuan Mulia Sari Dewi, sekolah perlumenyediakan lebih banyak media belajar, seperti alat peragaseperti sempoa, buku latihan, hingga perangkat digital guna mempermudah pembelajaran.
pemerintah dan sekolah bisa bekerja sama menyediakan aksesteknologi, terutama untuk sekolah di daerah terpencil.
penyediaan ruang belajar yang nyaman, karena lingkunganfisik sangat memengaruhi fokus siswa.
3. penguatan dukungan dari keluarga
banyak riset (termasuk TIMSS 2015) menunjukkan bahwa:
orang tua perlu dilibatkan melalui pendampingan belajar di rumah.
edukasi bagi orang tua tentang cara mendukung anak belajarmatematika, meski mereka bukan ahli matematika.
program sosialisasi atau workshop singkat untuk orang tuaagar memahami pentingnya numerasi.
4. mengatasi ketimpangan social ekonomi
mengikuti temuan M. Mujiya Ulkhaq dan studi PISA:
pemerintah perlu memperluas bantuan fasilitas belajar bagisiswa dari keluarga ekonomi lemah.
pengadaan laptop, akses internet murah, atau pusat belajarberbasis komunitas.
program beasiswa atau subsidi untuk fasilitas pendukungbelajar.
5. membangun iklim kelas yang positif, peneliti menekankanbahwa setiap kelas perlu menjadi ruang yang mendorongsiswa berani bertanya dan mencoba, bukan takut salah.
guru perlu menerapkan strategi pengelolaan kelas yang mendorong kolaborasi.
mengurangi tekanan berlebihan yang membuat siswa cepatkehilangan motivasi.
Disusun oleh :
Siti Nursyabani
Antoneta Bili
Dosen pembimbing :
IRENNE PUTREN S.Pd. , M.Pd.
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com dan klaim apa pun yang timbul dari publikasi tersebut, termasuk, namun tidak terbatas pada, klaim pencemaran nama baik, pelanggaran privasi, pelanggaran hak cipta, merek dagang, nama dagang atau pelanggaran paten, berita palsu, atau klaim lain apa pun yang didasarkan pada perbuatan melawan hukum atau kontrak, atau berdasarkan undang-undang negara Republik Indonesia
Selain itu, setiap penulis setuju, untuk membebaskan siaran-berita.com dari semua klaim (baik yang sah maupun tidak sah), tuntutan hukum, putusan, kewajiban, ganti rugi, kerugian, biaya, dan pengeluaran apa pun (termasuk penilaian biaya pengacara yang wajar) yang timbul dari atau disebabkan oleh publikasi berita apa pun yang dipublikasikan oleh penulis.”





































































