Apakah kita benar-benar hidup di era informasi, atau justru di era kebingungan yang terorganisir?
Indonesia kini memiliki 221,5 juta pengguna internet 79,5 persen dari total populasi, berdasarkan data APJII 2024. Tapi di saat yang sama, tingkat kepercayaan publik terhadap media massa justru turun dari 39 persen menjadi 35 persen antara 2021 hingga 2024, menurut Digital News Report dari Reuters Institute.
Dua angka itu dibaca bersamaan seharusnya mengusik: semakin banyak orang online, semakin sedikit yang percaya pada apa yang mereka baca. Dan pertanyaan yang jarang diajukan adalah siapa yang bertanggung jawab atas jurang itu?
Jawaban yang paling mudah selalu menyalahkan pembaca. “Masyarakat kita tidak kritis.” Tapi argumen itu terbalik. Pembaca tidak lahir pasif. Mereka dilatih untuk pasif oleh media yang selama bertahun-tahun mengutamakan kecepatan klik di atas akurasi, dan oleh platform yang merancang algoritma untuk memperkuat keyakinan yang sudah ada, bukan menantangnya.
Media Memilih Klik, Bukan Kepercayaan
Reuters Institute mencatat bahwa redaksi di banyak negara tengah dihimpit tekanan berlapis: biaya operasional naik, pendapatan iklan turun, dan trafik dari media sosial anjlok. Dalam tekanan itu, pilihan editorial bergeser judul yang memancing reaksi lebih menguntungkan daripada laporan yang membutuhkan waktu dan verifikasi.
Ini bukan tuduhan tanpa dasar. Ini adalah konsekuensi logis dari model bisnis yang mengukur keberhasilan dengan jumlah klik, bukan dengan dampak informasi.
Hasilnya: koreksi datang terlambat dan tenggelam. Laporan setengah jadi beredar jauh lebih luas dari klarifikasinya. Publik belajar secara tidak sadar bahwa media tidak selalu bisa dipegang. Dan ketika kepercayaan itu hilang, yang mengisi ruang kosongnya bukan kekosongan. Yang mengisinya adalah hoaks.
Kementerian Komunikasi dan Informatika mencatat lebih dari 12.547 konten hoaks yang ditangani sejak Agustus 2018. Angka itu bukan cerminan masyarakat yang bodoh. Itu cerminan ekosistem informasi yang gagal menyediakan alternatif yang cukup kuat untuk dipercaya.
Platform Bukan Saluran Netral
Satu faktor yang terus dilewatkan dari perdebatan ini: platform teknologi bukan sekadar saluran distribusi berita. Mereka adalah kurator aktif yang menentukan berita mana yang dilihat jutaan orang dan mana yang tidak.
Algoritma dirancang bukan untuk mencerdaskan, tapi untuk mempertahankan perhatian. Konten yang memancing emosi kemarahan, ketakutan, kejutan selalu menang dalam perebutan ruang umpan berita. Media yang ingin bertahan dalam ekosistem itu harus bermain dengan aturan yang sama, atau menerima bahwa konten mereka tidak akan dilihat.
Ini adalah konflik kepentingan struktural yang belum pernah benar-benar diselesaikan dan selama platform tidak diminta bertanggung jawab atas dampak algoritmanya, ekosistem informasi tidak akan berubah hanya karena pembaca diminta “lebih kritis.”
Yang Dibutuhkan Bukan Imbauan, Tapi Perubahan Struktural
Survei Kompas 2023 mencatat 70,2 persen responden masih memercayai media arus utama. Modal kepercayaan itu masih ada tapi ia tidak akan bertahan jika terus dikuras oleh praktik editorial yang memprioritaskan trafik di atas integritas.
Tiga hal yang perlu terjadi secara bersamaan:
Pertama, media harus berhenti menjadikan kecepatan sebagai satu-satunya ukuran relevansi. Akurasi dan verifikasi bukan pilihan itu prasyarat untuk mempertahankan kepercayaan yang tersisa.
Kedua, platform perlu didorong melalui regulasi atau tekanan publik yang terorganisir untuk membuka transparansi atas cara algoritma mereka bekerja dan dampaknya terhadap distribusi informasi.
Ketiga, literasi media perlu diajarkan sebagai keterampilan konkret, bukan slogan. Bukan “jadilah pembaca yang kritis” tanpa panduan tapi latihan spesifik: cara memeriksa sumber, cara membaca judul versus isi, cara mengenali pola disinformasi.
Kepercayaan publik terhadap media tidak akan pulih hanya dengan mengimbau pembaca untuk lebih berhati-hati. Ia butuh media yang berubah, platform yang bertanggung jawab, dan kebijakan yang mendukung keduanya.
Jika tidak ada satu pun dari itu yang bergerak, angka 35 persen itu akan terus turun dan kita semua yang menanggung akibatnya.
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com - Syarat dan Ketentuan - Kebijakan Privasi - Panduan Komunitas - Disclaimer











































































