Kabupaten Pidie Jaya tidak hanya dikenal denganbentang alamnya yang asri, tetapi juga dengankekayaan adat istiadat yang masih terjaga rapat di dalam gampong-gampongnya. Di tengah gempurantren pernikahan ala Barat dan minimalis, sebuahtradisi kuno bernama Preh Linto Baroe tetap berdirikokoh sebagai simbol M kehormatan bagi masyarakatAceh. Pada sebuah kesempatan di tanggal 8 April 2026, kami beruntung dapat berbincang dengan Bapak Anwar, seorang petani berusia 56 tahun yang juga berperan sebagai tokoh adat di Desa Dayah Baroh, Kecamatan Ulim.
Melalui penuturannya, kita diajak menyelamilebih dalam mengapa sebuah prosesi menyambutpengantin pria bisa menjadi begitu sakral dan emosional bagi warga setempat. Sebuah PanggungPenghormatan Bagi masyarakat di Gampong Dayah Baroh, pernikahan bukan m sekadar penyatuan dua insandalam ikatan legalitas agama. Ini adalah perhelatanbudaya yang melibatkan seluruh desa.
Tradisi utama yang masih sangat eksis adalah Preh Linto Baroe (menyambut pengantin pria) dan Intat Linto (mengantar pengantin pria). “Tradisi inidilakukan saat ada acara pesta perkawinan di gampong, khususnya di rumah warga yang sedangmembuat pesta,” ujar Pak Anwar menjelaskan waktupelaksanaan tradisi tersebut. Prosesnya dimulai dengan persiapan matang dari kedua belah pihak, baik keluarga mempelai wanita (dara baro) maupun mempelai pria (linto baro). Puncak dari kegembiraan ini terjadi saat rombongan linto baro tiba di depan rumah tuan rumah.
Di sanalah, sebuah tata krama yang sangat halus dimainkan. Tuan rumah bukan hanya menyambut secara fisik, tetapi juga menerima berbagai barang hantaran yang dibawa sebagai bentuk penghargaan keluarga pria kepada keluarga wanita. Filosofi di Balik “Ranup dalam Bate”Salah satu momen paling krusial dalam tradisi ini adalah penukaran ranup. Ranup atau sirih diletakkan di dalam bate (wadah khusus) dan dipertukarkan antara perwakilan kedua belah pihak. “Perwakilan pihak linto baro melakukan prosesi penukaran ranup dalam bate,” ungkap Pak Anwar. Secara filosofis, penukaran sirih ini adalah simbol pembuka jalan, permintaan izin, sekaligus tanda bahwa kedua keluarga telah sepakat untuk saling menghormati dalam ikatan kekeluargaan yang baru.
Keterlibatan tokoh-tokoh penting gampongmenambah bobot kesakralan acara ini. Tidak sembarang orang bisa memimpin prosesi ini; biasanya melibatkan: Geuchik Gampong (Kepala Desa). Tuha Peuet atau tokoh masyarakat yang dituakan. Perwakilan khusus yang mahir dalam prosesi penukaran ranup. Para pemuda gampong yang bertugas menyambut hidangan hantaran dan mendampingi rombongan tamu. Ruang, Estetika, dan perubahan zaman untuk menggelar tradisi ini, diperlukan perlengkapan khusus yang telah dipersiapkan jauh-jauh hari. Selain pelaminan yang megah, harus tersedia ruang khusus untuk menjamu rombongan tamu serta meja khusus sebagai tempat prosesi serah terima secara adat.
Namun, Pak Anwar tidak menutup mata terhadapperubahan. Ia mencermati adanya pergeseran dalam sisi visual tradisi ini. “Perubahan terjadi, misalnya dalam bidang pakaian adat dan pelaminan karena adanya penyesuaian dengan perkembangan zaman modern saat ini,” tuturnya. Meski bentuk pakaian mungkin lebih modis atau dekorasi pelaminan lebih kekinian, nilai-nilai inti di dalamnya tetap diupayakan tidak bergeser.
Warisan yang tak boleh padam mengapa tradisi ini begitu penting untuk dipertahankan? Bagi Pak Anwar, jawabannya sederhana: identitas dan persatuan. Tradisi ini adalah cara masyarakat desa merayakan kesatuan dan mempererat silaturahmi antarwarga gampong. “Menurut saya, tradisi memang kebiasaan suatu wilayah dan salah satu kebanggaan wilayah karena adanya budaya adat istiadat tersebut,” tegas Pak Anwar. Ia pun menitipkan pesan bagi generasi muda agar bersikap logis dan nyaman dalam menjalankan tradisi ini. Baginya, anak muda adalah penyambung lidah nenek moyang agar “resam” atau aturan adat ini terus berkelanjutan. Menutup perbincangan, Pak Anwar menyampaikan harapannya yang tulus agar tradisi Preh Linto Baroe terus mengakar di bumi Pidie Jaya, menjadi pengingat bagi generasi mendatang bahwa mereka memiliki akar budaya yang sangat mulia.
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com - Syarat dan Ketentuan - Kebijakan Privasi - Panduan Komunitas - Disclaimer









































































