Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga (FK UNAIR) terus membuktikan kualitasnya dalam mencetak lulusan-lulusan unggul yang tidak hanya kompeten secara akademik, tetapi juga memiliki karakter tangguh dan jiwa pengabdian yang tinggi. Salah satu kisah inspiratif datang dari Dr. dr. Romaniyanto, Sp.OT(K)Spine., MARS, seorang Alumnus Program Doktor (S3) FK UNAIR Angkatan 2018.
Lahir dan tumbuh di sebuah desa sederhana sebagai anak bungsu dari tujuh bersaudara, dr. Romaniyanto berhasil membuktikan bahwa keterbatasan latar belakang ekonomi dan geografis bukanlah penghalang untuk meraih mimpi tertinggi di dunia kedokteran.
Ditempa Nilai Disiplin dan Kesederhanaan Keluarga
Dibesarkan oleh seorang ayah yang merupakan anggota TNI dan seorang ibu yang tangguh, dr. Romaniyanto kecil ditempa dalam lingkungan yang sarat akan nilai kejujuran, disiplin, tanggung jawab, dan ketulusan doa. Kehidupan masa kecil yang jauh dari kemewahan justru membentuk mentalitas pantang menyerah dalam dirinya.
“Pada masa kecil, saya tidak pernah membayangkan akan menjadi seorang dokter. Dunia kedokteran terasa begitu jauh dari kehidupan seorang anak desa, terlebih profesi ini identik dengan biaya pendidikan yang besar. Namun, saya percaya Tuhan memiliki rencana yang besar,” ungkapnya.
Menyadari tantangan ekonomi dan akademik yang menghadang di setiap jenjang pendidikan, ia memilih jalan kerja keras. Tanpa fasilitas yang mewah, ia melampaui keterbatasan dengan belajar sungguh-sungguh demi membuktikan bahwa anak desa memiliki kesempatan yang sama untuk sukses.
Menempa Ilmu di Kampus Terbaik: FK UNAIR
Perjuangan panjang tersebut akhirnya mengantarkan dr. Romaniyanto memasuki dunia kedokteran hingga berhasil menyelesaikan studi doktoralnya di salah satu kampus kedokteran terbaik dan terunggul di Indonesia, yakni Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga pada angkatan 2018.
Bagi Dokter Spesialis Ortopedi dan Traumatologi Konsultan Tulang Belakang ini, seluruh pencapaian yang diraihnya merupakan buah dari ketekunan, dukungan keluarga, serta tradisi akademik di FK UNAIR yang terus mendorong mahasiswanya untuk belajar sepanjang hayat (long-life learner).
“Seluruh pencapaian yang saya raih bukanlah hasil dari keberuntungan semata, melainkan buah dari kerja keras, disiplin, ketekunan, doa orang tua, dukungan keluarga, serta semangat untuk terus belajar,” tutur dokter yang juga menyandang gelar MARS ini.
Esensi Tertinggi Kedokteran: Pengabdian untuk Sesama
Perjalanan dari desa menuju kota bagi dr. Romaniyanto bukan sekadar perpindahan geografis, melainkan sebuah transformasi besar untuk mengubah keterbatasan menjadi pengabdian yang nyata bagi masyarakat. Ia menegaskan bahwa esensi menjadi seorang dokter bukan sekadar meraih gelar atau profesi terhormat, melainkan memikul amanah besar untuk menolong sesama.
“Pada akhirnya, hidup yang bermakna bukanlah tentang seberapa tinggi posisi yang berhasil diraih, melainkan seberapa besar manfaat yang dapat diberikan kepada orang lain. Itulah makna pengabdian yang terus saya pegang hingga hari ini,” pungkasnya.
Kisah sukses Dr. dr. Romaniyanto, Sp.OT(K)Spine., MARS ini diharapkan dapat menjadi lecutan motivasi bagi seluruh mahasiswa dan civitas akademika FK UNAIR untuk terus berprestasi, mendobrak batasan, dan selalu membawa nama baik almamater dalam pengabdian kesehatan bagi bangsa dan negara.
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com - Syarat dan Ketentuan - Kebijakan Privasi - Panduan Komunitas - Disclaimer


































![Blok M Jadi Surga Nongkrong Gen Z di Jakarta Selatan 34 Kepadatan pengunjung kawasan Blok M
[Sumber Foto : Dokumentasi Pribadi]](https://siaran-berita.com/wp-content/uploads/2026/06/1000862511-360x180.jpg)







































