Mahasiswa Pendidikan Ekonomi, Universitas Negeri Padang
Perubahan kurikulum di Indonesia sering datang dengan semangat besar: meningkatkan kualitas pendidikan, memberi ruang kreativitas, dan membentuk generasi yang kritis. Namun, meskipun nama kurikulum terus berganti, suasana ruang kelas tetap terasa sama. Siswa masih duduk menghafal, guru masih dikejar administrasi, dan pembelajaran masih lebih sibuk mengejar nilai dibandingkan memahami makna.
Kurikulum Merdeka digagas untuk memberikan kebebasan, tetapi banyak sekolah justru merasakan hal sebaliknya. Format laporan bertambah, tuntutan pendampingan meningkat, dan guru semakin fokus pada dokumen daripada interaksi. Ironisnya, hal-hal yang seharusnya tumbuh rasa ingin tahu, keberanian bertanya, dan kemampuan berpikir kritis tidak selalu menjadi perhatian.
Masalah utamanya bukan pada konsep kurikulum, tetapi pada cara kita menerapkannya. Sistem pendidikan kita masih menilai kesuksesan dari angka, bukan proses. Setiap siswa dipaksa berjalan di jalur yang sama, padahal mereka datang dari latar belakang, kemampuan, dan minat yang berbeda-beda.
Lalu apa langkah yang perlu dilakukan?
Pertama, berikan ruang bagi sekolah dan guru untuk memodifikasi pembelajaran sesuai realitas lingkungan mereka. Anak-anak tidak membutuhkan materi yang jauh dari kehidupan, mereka butuh belajar hal yang relevan dan bermakna.
Kedua, ubah paradigma penilaian. Nilai yang tercetak di kertas bukan satu-satunya indikator keberhasilan. Karakter, kreativitas, empati, tanggung jawab, dan rasa ingin belajar jauh lebih penting untuk masa depan.
Ketiga, bebaskan guru dari beban administrasi yang tidak esensial. Ketika guru diberikan kepercayaan, waktu, dan kebebasan, mereka bisa menghadirkan kelas yang hidup, bukan sekadar ruang hafalan.
Perubahan kurikulum akan selalu terjadi. Namun kualitas pendidikan hanya akan benar-benar meningkat jika kita berani memperbaiki hal-hal yang paling dekat: ruang kelas, hubungan guru–siswa, dan cara kita memandang proses belajar. Pendidikan bukan soal mengganti nama kurikulum, tetapi soal menciptakan pengalaman belajar yang membuat siswa tumbuh menjadi manusia yang berpikir dan berperan.
Tentang Penulis
Nama: Rima Rahmahwati
Nim: 24053162
Email: rimarahmah007@gmail.com
Mahasiswa Pendidikan Ekonomi, Universitas Negeri Padang
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com - Syarat dan Ketentuan - Kebijakan Privasi - Panduan Komunitas - Disclaimer











































































