Sleman – Kemampuan berbahasa tidak ditentukan oleh bakat, melainkan kemauan untuk terus belajar. Sayangnya, banyak murid yang kerap menganggap dirinya tidak berbakat dalam berbahasa, sehingga kadang terlontar kalimat “Saya tidak berbakat menulis” atau “Sastra itu terlalu sulit.” Inilah yang mendorong Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) Bahasa Indonesia Madrasah Aliyah Daerah Istimewa Yogyakarta mengangkat growth mindset sebagai tema pertemuan rutin guru Bahasa Indonesia, Selasa (28/7/2026), di Pusat Sumber Belajar dan Bahasa (PSBB) MAN 3 Sleman.
Diikuti 48 guru Bahasa Indonesia MA se-DIY kegiatan MGMP bulan Juli ini mengangkat tema “Membangun Pola Pikir Bertumbuh (Growth Mindset) pada Murid dalam Proses Pembelajaran Bahasa Indonesia.” Ketua MGMP Bahasa Indonesia MA DIY, Azhariansah, S.S., M.Pd., M.A., mengatakan dalam sambutannya bahwa growth mindset kini menjadi bagian penting dalam implementasi Pembelajaran Mendalam sekaligus mendapat perhatian dalam instrumen akreditasi.
Azhariansah menggarisbawahi bahwa guru tidak cukup hanya menyampaikan materi semata apalagi di era dimana sumber informasi tersebar luas di dunia maya. “Yang jauh lebih penting adalah menumbuhkan keyakinan kepada murid bahwa mereka mampu berkembang melalui proses belajar, latihan, dan ketekunan. Itulah esensi growth mindset yang ingin kita bangun bersama,” ujar Azhariansah.
Materi utama disampaikan oleh Dr. Purwati Zisca Diana, M.Pd., dosen Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Ahmad Dahlan. Dosen yang kerap disapa Zisca ini menjelaskan bahwa kemampuan membaca, menulis, berbicara, dan menyimak merupakan keterampilan yang berkembang melalui proses, bukan kemampuan yang ditentukan sejak lahir. Pada kesempatan ini Zisca mengajak guru menanamkan empat prinsip utama growth mindset, yakni berani mencoba, belajar dari kesalahan, tidak mudah menyerah, serta terbuka terhadap umpan balik. “Murid-murid juga perlu dibiasakan dengan afirmasi positif, seperti “Saya belum bisa, tetapi saya akan belajar,” agar lebih percaya diri menghadapi tantangan belajar,” terang Zisca.

Selain membedah karakteristik fixed mindset dan growth mindset yang kerap muncul dalam pembelajaran Bahasa Indonesia, Zisca juga membagikan berbagai strategi yang dapat diterapkan guru, mulai dari memberikan umpan balik formatif, membiasakan refleksi diri, menerapkan scaffolding, hingga mengembangkan pembelajaran kolaboratif. Menurutnya, strategi tersebut dapat diterapkan pada seluruh keterampilan berbahasa sehingga para murid lebih berani mencoba, tidak takut melakukan kesalahan, dan terus berkembang.
Usai mengikuti kegiatan, salah satu guru Bahasa Indonesia MAN 1 Yogyakarta yang mengikuti kegiatan tersebut Listya Sulastri Wulan K, M. A., menilai materi yang disampaikan sangat relevan dengan kebutuhan pembelajaran saat ini.” Guru tidak hanya mengajarkan materi, tetapi juga menumbuhkan keyakinan bahwa setiap murid mampu berkembang. Ketika growth mindset tumbuh, mereka akan lebih berani mencoba, tidak takut salah, dan menikmati proses belajar,” ungkap Wulan bersemangat.
Melalui kegiatan ini, MGMP Bahasa Indonesia MA DIY berharap para guru semakin siap menghadirkan pembelajaran yang berpusat pada proses sekaligus membangun karakter peserta didik yang tangguh, kreatif, dan adaptif sejalan dengan semangat Pembelajaran Mendalam. (wk)
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com - Syarat dan Ketentuan - Kebijakan Privasi - Panduan Komunitas - Disclaimer








































































