Langkah kecil itu tampak ragu-ragu. Seorang anak digendong ibunya, kakinya perlahan dibersihkan sebelum menyentuh tanah untuk pertama kalinya. Di sekelilingnya, keluarga berkumpul, bukan sekadar menyaksikan tetapi mengiringi dengan doa dan harapan yang tak terucap.
Tradisi itu dikenal sebagai tedhak siten, sebuah upacara adat dari Jawa yang masih dijaga hingga kini. Secara harfiah, tedhak siten berarti “menapakkan kaki ke tanah” atau “turun ke bumi.” Namun, di balik makna sederhana itu, tersimpan filosofi kehidupan yang dalam.
“Tedhak siten itu momen pertama anak benar-benar turun ke bumi,” ujar seorang warga. Ia menjelaskan bahwa tradisi ini bukan sekadar seremoni, melainkan penanda penting dalam fase tumbuh kembang anak.
Bagi masyarakat Jawa, momen seorang anak mulai belajar berjalan bukan hanya soal perkembangan fisik. Itu adalah simbol kesiapan menghadapi kehidupan. “Tujuannya sebagai tanda kesiapan anak menghadapi hidup, tentu dengan berkah Tuhan dan bimbingan orang tua,” jelasnya.
Lebih dari itu, tedhak siten juga menjadi bentuk syukur orang tua. Setelah melewati masa-masa awal kehidupan anak, langkah pertama itu terasa seperti pencapaian besar. Sebuah harapan pun disematkan agar anak tumbuh mandiri, kuat, dan mampu menjalani kehidupan dengan baik. Rangkaian prosesi dalam tedhak siten pun sarat makna simbolis. Salah satu tahap awal adalah mencuci kaki anak sebelum menginjak tanah. Maknanya sederhana, tetapi dalam: memulai hidup dengan hati yang suci.
Selanjutnya, anak akan berjalan di atas tujuh warna jadah atau tetel, mulai dari warna gelap hingga terang. Prosesi ini melambangkan bahwa hidup penuh rintangan, namun selalu ada jalan menuju kebaikan. “Hidup itu penuh warna dan rintangan, dari gelap ke terang pasti ada jalan keluarnya,” katanya.
Anak kemudian menaiki tangga dari tebu, simbol harapan agar kehidupannya kelak manis dan terus meningkat. Ada optimisme yang ditanamkan sejak dini bahwa setiap langkah bisa membawa perubahan ke arah yang lebih baik.
Momen yang paling menarik terjadi saat anak dimasukkan ke dalam kurungan yang berisi berbagai benda, seperti mainan, alat tulis, dan uang. Benda yang dipilih anak dipercaya menjadi gambaran minat atau bakatnya di masa depan. “Benda yang diambil anak dipercaya jadi gambaran minat atau bakatnya kelak,” ujarnya.
Prosesi ditutup dengan penyebaran udhik-udhik, yaitu campuran beras kuning, bunga, dan koin. Tradisi ini melambangkan harapan agar anak tumbuh menjadi pribadi yang dermawan serta memiliki rezeki yang lancar.
Di tengah kehidupan modern yang serba cepat, tradisi seperti tedhak siten mungkin terlihat sederhana. Namun, justru dalam kesederhanaannya, tradisi ini menyimpan nilai-nilai penting tentang kehidupan—tentang kesucian niat, keteguhan menghadapi rintangan, serta harapan orang tua terhadap masa depan anak.
Di balik langkah kecil seorang anak yang menyentuh tanah untuk pertama kalinya, tersimpan doa-doa besar yang terus hidup dan diwariskan dari generasi ke generasi. Sebuah tradisi yang mungkin tampak sederhana, tetapi tak pernah kehilangan maknanya.
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com - Syarat dan Ketentuan - Kebijakan Privasi - Panduan Komunitas - Disclaimer


































































