Sheyla Riana Dewi, Mahasiswa Universitas Brawijaya, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Jurusan Psikologi 2025.
Pernahkah Anda terlibat dalam sebuah diskusi, lalu lawan Anda melontarkan pernyataan pamungkas “Ini sih hanya soal akal sehat, semua orang juga tahu itu benar! ” ? Tiba-tiba, suasana diskusi terasa terhenti. Pernyataan itu seolah jampi yang menghentikan proses berpikir. Seolah-olah, jika banyak orang percaya bahwa sesuatu itu “normal”, maka hal itu otomatis dianggap “benar”.
Namun, mari kita ambil waktu sejenak untuk merenungkan. Jika kita melihat sejarah, bukankah dahulu kala “normal” jika bumi dianggap sebagai pusat alam semesta? Inilah ironi yang ada akal sehat sering kali bukanlah puncak dari logika, melainkan “kuburan” bagi pemikiran kritis. Sebagai mahasiswa, kita bertanggung jawab secara moral untuk merenungkan Apakah akal sehat kita benar benar sehat, atau justru sekumpulan prasangka yang disetujui banyak orang?
Penjara “Autopilot” Intelektual
Dari sudut pandang psikologis, otak manusia cenderung memilih jalur mental yang singkat untuk memahami dunia yang kompleks. Albert Einstein pernah berkomentar bahwa akal sehat hanyalah sekumpulan prasangka yang diperoleh manusia sejak usia delapan belas tahun. Dalam filsafat pengetahuan, kita sering kali terjebak dalam Naive Realism keyakinan bahwa kita melihat dunia secara objektif sebagaimana adanya, padahal pandangan kita selalu melewati kacamata bias yang disebut “kewajaran”.
Selain itu, filsuf Gaston Bachelard menyebut fenomena ini sebagai Epistemological Obstacle (Hambatan Epistemologis). Menurut pandangannya, pengetahuan ilmiah tidak bisa dibangun di atas akal sehat. Faktanya, pengetahuan yang baru hanya bisa muncul jika kita berani melakukan “pemutusan” (epistemological break) terhadap apa yang kita anggap sebagai kebenaran sehari-hari yang telah mapan.
Logika Mayoritas vs. Kebenaran
Dalam epistemologi, suatu keyakinan dapat dianggap sebagai pengetahuan jika disertai justifikasi yang sah. Masalahnya, akal sehat sering kali melewatkan hal ini. Justifikasinya cenderung terjebak dalam kesalahan Argumentum ad Populum keyakinan bahwa kebenaran ditentukan oleh banyaknya dukungan.
Filsuf Inggris, Bertrand Russell, dalam The Problems of Philosophy, mengingatkan bahwa kecenderungan kita untuk bergantung pada induksi yang dangkal hanya karena suatu hal terjadi berulang kali, kita menganggapnya sebagai hukum alam bisa menyesatkan. Hanya karena suatu tindakan dianggap “umum” dalam masyarakat, bukan berarti ia memiliki validitas moral atau logika. Kenormalan sering kali disalahartikan sebagai kebenaran, padahal dalam logika, jumlah orang yang percaya pada suatu kesalahan tidak menjadikan kesalahan tersebut sebagai fakta.
Ketika “Wajar” Menjadi Ketidakadilan Epistemik
Risiko terbesar muncul saat “kewajaran” digunakan untuk mempertahankan status quo. Miranda Fricker, seorang filsuf kontemporer, mengemukakan istilah Epistemic Injustice (Ketidakadilan Epistemik). Ini terjadi ketika individu atau kelompok diabaikan suaranya hanya karena mereka tidak sejalan dengan skema “akal sehat” yang berlaku.
Mari kita lihat contoh senioritas atau victim blaming. Sering dianggap “normal” jika junior harus patuh tanpa mengeluh, atau “normal” untuk menyalahkan pakaian korban dalam kasus kekerasan seksual. Dalam konteks ini, masyarakat mengalami Hermeneutical Injustice kegagalan kolektif untuk memahami pengalaman korban karena kita tidak memiliki kerangka berpikir yang adil, karena pikiran kita sudah “dijajah” oleh konsep konsep lawas yang dianggap normal.
Mahasiswa sebagai Penjaga Nalar
Di era media sosial, penjara ini semakin kedap suara oleh algoritma echo chamber. Kita sering kali tertipu oleh viralitas, menganggap bahwa sesuatu yang populer adalah sesuatu yang benar. Sebagai mahasiswa, tugas kita adalah mempraktikkan Intellectual Humility (Kerendahan Hati Intelektual) kesadaran bahwa pengetahuan kita terbatas dan setiap “kebenaran umum” seharusnya selalu siap untuk diuji kembali.
Dunia tidak akan pernah berkembang jika setiap orang hanya mengikuti apa yang dianggap biasa. Transformasi yang signifikan selalu dimulai dari mereka yang berani mempertanyakan segala sesuatu dengan skeptisisme yang sistematis seperti yang diterapkan René Descartes: meragukan semua hal yang tidak memiliki dasar logika yang kuat.
Mari kita hentikan penggunaan “akal sehat” sebagai alasan untuk malas berpikir. Saatnya kita menilai setiap “hal yang wajar” dengan analisis logika yang kritis. Seperti yang dikatakan oleh Socrates, “Hidup yang tidak diuji tidak layak untuk dijalani. ” Kebenaran mungkin tidak selalu disukai, namun lebih berharga dibanding kenyamanan semu dalam pelukan massa yang tidak berpikir kritis.
Penutup
Pada akhirnya, mengkritisi common sense bukanlah tanda menjadi sinis, melainkan sebuah bentuk kebebasan berpikir. Kita tidak boleh membiarkan logika kita terjajah oleh ungkapan “semua orang juga tahu”. Kemajuan peradaban tidak muncul dari kepatuhan yang membuta, tetapi dari keberanian untuk mempertanyakan norma yang lemah logikanya. Sudah saatnya kita tidak lagi mengikuti suara terbanyak dan mulai setia pada kebenaran yang telah terbukti. Sebab, akal yang sehat adalah akal yang berani bertanya, bukan hanya setuju karena takut berbeda.
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com - Syarat dan Ketentuan - Kebijakan Privasi - Panduan Komunitas - Disclaimer






























































