TANGERANG SELATAN – Pernah merasa hidup terasa berhenti saat kuota internet habis atau aplikasi favorit sedang error? Bagi banyak anak muda masa kini, hal itu bukan sekadar gangguan kecil, melainkan ancaman nyata bagi eksistensi mereka. Di era sekarang, smartphone bukan cuma alat komunikasi. Benda ini adalah perpanjangan tangan yang menyimpan seluruh isi kehidupan. Mulai dari belanja kebutuhan bulanan di marketplace, belajar, bekerja, hingga mencari hiburan lewat aplikasi streaming, semuanya bisa selesai dalam beberapa ketukan jari.
Teknologi digital memang luar biasa. Ia mengubah cara orang berinteraksi dan membuat segalanya jadi sangat praktis. Namun, bagi Generasi Z, layanan digital bukan sekadar alat untuk mempermudah hidup. Ada makna yang lebih dalam di sana. Konsumsi digital, entah itu berlangganan aplikasi musik, film, atau berbelanja produk terbaru, telah menjadi cermin identitas. Banyak yang membeli sesuatu bukan semata karena butuh, tetapi karena produk atau layanan tersebut mencerminkan siapa diri mereka, aspirasi mereka, dan bagaimana mereka ingin dilihat oleh lingkungan sosial.
Masalahnya, dunia digital dirancang dengan sangat cerdas oleh algoritma. Aplikasi yang dipakai tahu betul apa yang disukai penggunanya. Mereka merekam perilaku dan terus menerus menyodorkan konten atau barang yang relevan sehingga tanpa sadar, banyak orang terjebak dalam perilaku konsumsi impulsif. Dari hasil survei kecil terhadap 51 responden Generasi Z, sebanyak 88 persen sepakat bahwa layanan digital sudah menjadi bagian yang sangat krusial dalam kehidupan. Bagi mereka, ini bukan lagi soal gaya gayaan, tapi sudah berubah menjadi kebutuhan primer.
Kehadiran fintech atau layanan keuangan digital semakin memperkeruh sekaligus mempermudah situasi ini. Bayar apa pun sekarang rasanya semudah mengedipkan mata. Tinggal klik, pilih metode pembayaran, selesai. Sisi baiknya, segalanya menjadi praktis. Namun, sisi buruknya, kemudahan ini membuat banyak orang kehilangan kontrol. Sebanyak 64,7 persen responden mengaku sering kebablasan dalam pengeluaran digital. Memang benar, uang digital itu rasanya jauh lebih ringan daripada uang fisik. Saat mengeluarkan uang lewat aplikasi, otak sering tidak sadar bahwa saldo di bank sedang menipis dengan cepat.
Lalu, apa yang terjadi ketika ekonomi sedang sulit? Apakah orang orang lantas berhenti menggunakan layanan digital? Hasilnya cukup mengejutkan. Ternyata, tekanan ekonomi tidak membuat Generasi Z langsung berhenti menggunakan layanan digital. Data menunjukkan bahwa meski kondisi finansial sedang mepet, layanan digital yang sudah dianggap sebagai identitas ini sangat sulit untuk ditinggalkan.
Banyak yang memilih untuk tetap berlangganan Spotify, Netflix, atau aplikasi lainnya meski harus mengorbankan pengeluaran lain. Alih alih memutus akses digital, orang orang justru lebih memilih menggeser pengeluaran lain demi mempertahankan kursi mereka di ruang digital. Fenomena ini menunjukkan seberapa dalam teknologi sudah berakar dalam definisi diri. Ada perasaan bahwa dengan tetap terhubung secara digital, seseorang tetap merasa relevan dengan dunia di luar sana.
Tentu saja, kesadaran finansial tetap ada. Sebagian besar orang masih mendahulukan kebutuhan pokok seperti makan dan biaya transportasi dibandingkan harus berlangganan aplikasi yang sebenarnya bisa ditunda. Namun, tarik ulur ini menciptakan dilema. Generasi muda terjepit antara kebutuhan untuk tetap terlihat eksis dan relevan di dunia digital, serta realita ekonomi yang mengharuskan mereka untuk lebih bijak.
Memang tidak mudah menjaga saldo tetap aman di tengah godaan notifikasi belanja dan langganan bulanan. Namun, penting untuk diingat bahwa setiap keputusan pembelian adalah kendali pribadi. Memilih mana aplikasi yang benar benar menunjang produktivitas dan mana yang hanya sekadar pelarian sesaat adalah kunci. Menjadi dewasa di era digital ternyata bukan soal seberapa canggih teknologi yang digunakan, melainkan seberapa bijak seseorang mengelola prioritas agar dompet tetap aman dan pikiran tetap tenang di masa depan.
Oleh: Zaskya Kiranni Putri, Mahasiswa Akuntansi Universitas Pamulang
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com - Syarat dan Ketentuan - Kebijakan Privasi - Panduan Komunitas - Disclaimer











































































