Apa arti menjadi “merdeka” bagi seorang pelajar hari ini? Apakah sekadar bebas memilih jurusan kuliah, bebas bersuara di media sosial, atau justru terjebak dalam tekanan tren, ekspektasi, dan standar semu? Pertanyaan ini terasa semakin relevan ketika kita menoleh pada sosok Raden Ajeng Kartini, perempuan muda dari Jepara yang lebih dari seabad lalu, sudah menggugat batas-batas yang membelenggu pikirannya.
Kartini tidak hidup di era internet. Ia tak mengenal algoritma, notifikasi, atau “likes”. Namun, kegelisahannya melampaui zamannya. Dalam surat-suratnya yang kemudian dibukukan menjadi Habis Gelap Terbitlah Terang, Kartini menulis tentang satu hal yang hingga kini masih relevan: kebebasan berpikir.
Bagi Kartini, pendidikan bukan sekadar jalan menuju pekerjaan, melainkan alat pembebasan. Ia melihat pendidikan sebagai pintu untuk memahami dunia, mempertanyakan ketidakadilan, dan yang terpenting membangun keberanian untuk berbeda.
Hari ini, pelajar hidup dalam lanskap yang jauh lebih kompleks. Informasi datang tanpa henti, tetapi tidak semuanya membawa pencerahan. Di tengah banjir konten, hoaks, dan budaya instan, tantangan terbesar bukan lagi akses terhadap pengetahuan, melainkan kemampuan untuk menyaringnya. Di sinilah nilai Kartini menemukan konteks barunya.
Pertama, berani berpikir kritis.
Kartini tidak menelan mentah-mentah tradisi yang membatasi dirinya. Ia bertanya, menggugat, dan mencari makna. Pelajar hari ini bisa memulai dari hal sederhana: tidak langsung percaya pada informasi viral, berani bertanya di kelas, dan tidak takut memiliki pandangan berbeda selama didasarkan pada nalar.
Kedua, menjadikan pendidikan sebagai alat, bukan beban.
Di tengah tekanan nilai, ranking, dan seleksi seperti SNBT, belajar kerap berubah menjadi rutinitas mekanis. Kartini mengingatkan bahwa esensi pendidikan adalah memerdekakan. Artinya, belajar bukan sekadar mengejar angka, tetapi memahami dan pada akhirnya, menemukan arah hidup.
Ketiga, membangun integritas di tengah godaan instan.
Zaman Kartini mungkin membatasi gerak fisik, tetapi zaman sekarang menguji ketahanan moral. Plagiarisme, “jalan pintas”, hingga pencitraan di media sosial adalah bentuk-bentuk baru dari kompromi nilai. Kartini mengajarkan satu hal penting: menjadi manusia utuh lebih penting daripada sekadar terlihat berhasil.
Keempat, berani bermimpi melampaui batas.
Kartini bermimpi tentang perempuan yang bisa belajar, berpikir, dan menentukan nasibnya sendiri, sesuatu yang pada masanya dianggap mustahil. Pelajar hari ini mungkin tidak lagi dibatasi oleh adat yang sama, tetapi seringkali terjebak dalam batasan baru: rasa takut gagal, takut tidak diterima, atau takut tidak “sesuai standar”. Padahal, keberanian untuk bermimpi adalah langkah pertama untuk mencapainya.
Namun, ada satu hal yang sering dilupakan ketika kita berbicara tentang Kartini: ia bukan hanya simbol, tetapi juga manusia. Ia ragu, ia gelisah, ia berjuang. Justru di situlah letak kekuatannya, Kartini tidak menunggu sempurna untuk mulai bersuara.
Bagi pelajar hari ini, mungkin perjuangan itu tidak lagi soal akses pendidikan. Tetapi soal mempertahankan makna pendidikan itu sendiri di tengah dunia yang serba cepat, serba instan, dan sering kali dangkal.
Maka, pertanyaannya bukan lagi “Siapa Kartini?”
Melainkan, “Apa yang akan kamu lakukan dengan kebebasan yang sudah diperjuangkan Kartini?”
Karena pada akhirnya, terang tidak datang begitu saja. Ia diperjuangkan oleh mereka yang berani berpikir, berani bersikap, dan berani menjadi dirinya sendiri.
Penulis: Deti Prasetyaningrum (Guru MAN 1 Yogyakarta)
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com - Syarat dan Ketentuan - Kebijakan Privasi - Panduan Komunitas - Disclaimer





























































