Bantul (MTsN 4 Bantul)–Di tengah hiruk pikuk kota Bantul yang mulai menggeliat sejak fajar, Nathan sudah melangkah mantap menuju madrasahnya. Ia adalah seorang murid kelas IX MTsN 4 Bantul, madrasah yang baginya bukan sekadar tempat belajar, melainkan ruang pembentukan jiwa. Setiap hari Jumat, rutinitas Nathan dimulai sejak pagi seperti hari-hari biasanya. Tepat pukul 06.00 WIB, ia sudah berada di lingkungan madrasah untuk mengikuti mujahadah.
Bagi Nathan, Jumat pagi memiliki makna tersendiri. Saat sebagian orang masih terlelap atau belum bersiap-siap melakukan aktivitas di luar rumah, masjid MTsN 4 Bantul telah dipenuhi murid-murid kelas IX yang duduk rapi, menyatu dalam suasana khusyuk. Kegiatan yang mereka ikuti adalah Mujahadah Usbu’iyyah, yaitu mujahadah yang dilakukan secara berjamaah dan dilaksanakan seminggu sekali. Kegiatan ini menjadi napas spiritual yang menguatkan langkah mereka dalam menjalani pekan demi pekan kehidupan sebagai pelajar.
Seperti firman Allah dalam QS. Al-‘Ankabut: 69:
وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا ۚ وَإِنَّ اللَّهَ لَمَعَ الْمُحْسِنِينَ
Artinya:
“Dan orang-orang yang berjihad (bersungguh-sungguh) untuk (mencari keridaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sungguh, Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik.”
Ayat ini menegaskan bahwa mujahadah, termasuk perjuangan batin dan pengendalian diri, akan dibalas oleh Allah Swt dengan petunjuk dan pertolongan-Nya.
Selain itu, Rasulullah ﷺ bersabda:
إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ إِذَا عَمِلَ أَحَدُكُمْ عَمَلًا أَنْ يُتْقِنَهُ
Artinya:
“Sesungguhnya Allah mencintai apabila salah seorang di antara kalian melakukan suatu pekerjaan, ia melakukannya dengan sungguh-sungguh.”
(HR. Al-Baihaqi)
Hadis ini menguatkan makna mujahadah sebagai kesungguhan hati dalam setiap amal, termasuk doa dan ibadah.
Inilah yang menguatkan langkah Nathan untuk mengikuti mujahadah yang dipimpin oleh M. Fatkhurahman, guru Fikih yang dikenal tenang dan bersahaja. Dengan suara yang lembut namun penuh keteguhan, beliau membimbing para murid melantunkan doa-doa dan dzikir. Nathan merasakan suasana yang berbeda setiap kali mujahadah dimulai. Riuh pikuk pikiran tentang tugas, ujian, dan pergaulan perlahan mereda, digantikan rasa tenteram yang sulit ia jelaskan dengan kata-kata.
Dalam mujahadah itu, Nathan belajar bahwa mujahadah bukan sekadar rangkaian bacaan, melainkan perjuangan sungguh-sungguh secara batiniah untuk mendekatkan diri kepada Allah Swt. Ia memahami bahwa mujahadah adalah ikhtiar hati, sebuah upaya memohon agar hajat dikabulkan dan langkah hidup diberi kemudahan. Di tengah doa-doa yang dipanjatkan, Nathan menyelipkan harapan sederhana: menjadi pribadi yang lebih baik, lebih sabar, dan lebih bertanggung jawab.
Seiring matahari yang mulai menampakkan sinarnya, mujahadah pun usai. Nathan bangkit dengan perasaan ringan namun penuh makna. Ia menyadari bahwa kegiatan ini bukan hanya rutinitas Jumat pagi, melainkan bekal spiritual yang menuntunnya menghadapi tantangan kehidupan di luar madrasah. Di MTsN 4 Bantul, Nathan tidak hanya belajar ilmu pengetahuan, tetapi juga belajar menata hati—dan mujahadah Jumat pagi menjadi salah satu jalannya.(mw)
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com - Syarat dan Ketentuan - Kebijakan Privasi - Panduan Komunitas - Disclaimer






























































