Sibuhuan Di tengah suasana sederhana Kota Sibuhuan yang tenang di pagi hari, seorang
mahasiswi bernama Hotnida (20) memulai harinya lebih awal dibandingkan banyak orang seusianya.
Saat sebagian orang masih beristirahat, ia sudah merombak rutinitas yang tidak ringan:
kuliah, membantu keluarga, dan berjuang memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.
Hotnida berasal dari keluarga sederhana. Ayah dan ibunya bekerja keras di kampung untuk
mencukupi kebutuhan keluarga. Kondisi inilah yang membuat belajar menjadi tidak hanya
fokus pada pendidikan, tetapi juga ikut memikirkan beban ekonomi di rumah.
Setiap pagi, Hotnida berangkat ke kampus dengan perjalanan yang terkadang tidak mudah.
Cuaca panas, hujan, atau jarak yang cukup jauh tidak menjadi alasan dia untuk tidak hadir
di kelas. Ia percaya bahwa pendidikan adalah jalan satu-satunya untuk memperbaiki masa depan
.
Setelah perkuliahan selesai, Hotnida tidak langsung memiliki waktu luang seperti pelajar
lainnya. Ia sering membantu pekerjaan rumah, mengurus kebutuhan keluarga, dan sesekali
mengambil pekerjaan kecil untuk menambah uang saku. Di sela-sela itu, ia juga harus
Menyelesaikan tugas-tugas kuliah yang sering menumpuk.
“Capek itu pasti ada, tapi kalau berhenti, saya takut semuanya jadi sia-sia,” kata Hotnida
dengan suara pelan sambil tersenyum kecil.
Malam hari menjadi waktu paling sunyi sekaligus paling sibuk baginya. Saat teman-temannya
mungkin beristirahat atau berkumpul, Hotnida hanya duduk di meja belajar sederhana, ditemani lampu kamar yang redup. Buku, catatan, dan tugas kuliah menjadi teman setianya hingga larut
malam.
Meski begitu, Hotnida tidak pernah benar-benar mengeluh. Ia sudah terbiasa dengan ritme
hidup yang padat sejak kecil. Baginya, setiap kesulitan adalah bagian dari proses yang harus
dijalani dengan sabar.
Sesekali, rasa lelah memang membuatnya ingin menyerah. Namun, ia selalu teringat wajahnya
orang tua yang berharap besar padanya. Harapan itulah yang menjadi dorongan utama untuk
terus melangkah, meskipun perlahan.
Di lingkungan tempat tinggalnya, Hotnida dikenal sebagai sosok yang ramah dan tidak banyak
mengeluh. Tetangga dan teman-temannya menganggapnya sebagai pribadi yang kuat dan tekun.
Namun di balik keteguhan itu, tersimpan perjuangan panjang yang tidak selalu terlihat orang
lain.
Kisah Hotnida menjadi potret nyata kehidupan banyak pelajar di daerah seperti Sibuhuan.
Mereka tidak hanya berjuang mengejar gelar sarjana, tetapi juga berjuang melawan keterbatasan
ekonomi, waktu, dan tenaga.
Di tengah segala keterbatasan itu, Hotnida tetap menyimpan satu keyakinan sederhana: suatu
hari nanti, semua pengorbanan ini akan menghasilkan hasil. Dan ketika hari itu tiba, ia ingin
menjadi bukti bahwa kerja keras dari kampung kecil pun bisa membawa seseorang meraih masa
depan yang lebih baik.
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com - Syarat dan Ketentuan - Kebijakan Privasi - Panduan Komunitas - Disclaimer











































































