Tradisi Peusijuk masih menjadi bagian penting dalam prosesi pernikahan masyarakat Aceh. Tradisi yang diwariskan secara turun-temurun ini dipercaya sebagai bentuk doa dan restu bagi pasangan yang akan memulai kehidupan rumah tangga. Proses bersandingnya calon pengantin resmi adalah sebuah tradisi yang membawa semangat doa, semangat kebersamaan, dan kekuatan warisan leluhur yang telah diwariskan dari generasi ke generasi.
Peusijuek, atau yang kerap disebut tepung tawar di berbagai daerah Nusantara, adalah sebuah tradisi pemberian doa dan berkah yang sudah mengakar dalam budaya Aceh. Tradisi ini tidak hanya menjadi bagian dari rangkain adat pernikahan, tetapi juga menjadi simbol dukungan, doa, dan harapan dari keluarga serta masyarakat kepada pasangan pengantin.
“Peusijuek itu doa yang dibasahkan,” ujar Nurhayati (50), seorang ibu rumah tangga dari Bayu yang sejak puluhan tahun tak pernah melewatkan tradisi ini dalam setiap hajat perkawinan di keluarganya. Menurutnya, melalui Peusijuek kaeluarga menyampaikan doa dan restu kepada pengantin agar kehidupan rumah tangga mereka berjalan dengan baik.
Foto 2: Beragam perlengkapan Peusijuek: air, tepung tawar, beras padi, dan daun-daunan dalam wadah khusus
Hal serupa dirasakan oleh hampir setiap masyarakat Aceh. Bagi sebagian masyarakat Aceh, Peusijuek merupakan salah satu prosesi yang memiliki makna mendalam karena menjadi sarana penyampaian doa dan harapan bagi kedua mempelai. Sebab di sinilah, orang tua, tokoh adat, dan kerabat terdekat duduk melingkari pengantin yang baru saja sah menjadi suami istri, lalu membisikkan doa lewat butiran air dan taburan beras.
Pelaksanaan Peusijuek sendiri fleksibel, namun sarat makna. Tradisi ini bisa dilakukan sebelum akad nikah sebagai pelepas doa sebelum memasuki gerbang sakral, atau bisa pula sesudah akad nikah sebagai syukur sekaligus restu untuk langkah baru. Apapun waktunya, esensinya tetaplah sama: mendamaikan, membersihkan, dan memberkahi.
Foto 3: Tokoh adat memercikkan air tepung tawar ke telapak tangan pengantin
Prosesi Peusijuek begitu sederhana namun penuh kelenturan batin. Pengantin laki-laki dan perempuan duduk berdampingan dengan tenang di hadapan keluarga. Seseorang yang dituakan—bisa orang tua kandung, bisa pula tokoh adat—lalu memercikkan air yang telah dicampur dengan tepung tawar ke ubun-ubun, pundak, dan telapak tangan pengantin. Seraya itu, beras padi kuning ditaburkan perlahan, melambangkan kemakmuran yang terus bertumbuh. Daun-daunan tertentu juga diusapkan lembut, sebagai simbol penolak bala sekaligus penyejuk hati di tengah badai rumah tangga kelak.
Tidak ada yang dilakukan dengan tergesa-gesa. Semua gerak diatur oleh rasa hormat dan harapan. Dalam hening yang khidmat, iringan doa dipanjatkan dalam bahasa Aceh yang lembut, memohon agar kedua mempelai menjadi keluarga yang sakinah, mawaddah, warahmah—damai, penuh cinta, dan diberkahi.
Foto 4: Ibu Nurhayati 50 Tahun (dokumentasi Peusijuk dipraktekkan secara langsung)
Di tengah gempuran budaya instan dan modernisasi yang kerap melupakan akar, tradisi Peusijuek justru berdiri kokoh. “Masih sering dilakukan, terutama dalam acara perkawinan adat Aceh,” ujar Nurhayati. Baginya, tradisi ini bukanlah beban, melainkan pakaian kebanggaan yang diwariskan dari ibu ke anak, dari kampung ke kampung.
Menurut Nurhayati, Peusijuek perlu terus dijaga karena merupakan warisan budaya yang mengandung nilai doa dan kebersamaan. “Rumah tangga tidak hanya dibangun oleh dua orang, tetapi juga oleh dukungan, doa, dan harapan dari keluarga serta masyarakat sekitar. Melalui Peusijuek, nilai-nilai tersebut diwariskan dari generasi ke generasi,” ujarnya.
Tradisi ini masih terus dilestarikan oleh masyarakat Aceh. Dari kalangan orang tua hingga generasi muda yang mulai berkeluarga, Peusijuek tetap menjadi simbol restu dan harapan bagi pasangan pengantin.
Hingga saat ini, Peusijuek masih dipertahankan sebagai warisan budaya Aceh yang mengandung nilai kebersamaan, penghormatan terhadap tradisi, serta doa bagi kehidupan rumah tangga yang harmonis.
Narasumber:
1. Nurhayati, 50 tahun — Ibu Rumah Tangga, warga Bayu (Orang Tua/ Tokoh yang dituakan dalam keluarga)
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com - Syarat dan Ketentuan - Kebijakan Privasi - Panduan Komunitas - Disclaimer











































































