JAKARTA – Kalian pernah engga si uang saku cepet banget habis? Baru awal bulan, tahu-tahu sudah akhir bulan dan tabungan masih nol
Nah, kabar baiknya, menabung tidak harus berhenti bersenang-senang atau hidup serba hemat. Ada beberapa tips yang harus di coba untuk menabung tanpa harus mengorbankan kesenangan, Dengan kita mengetahui cara mengatur uang yang benar kita tetap bisa nongkrong atau bahkan bersenang senang.
Mengapa Mahasiswa Perlu Mulai Sekarang?
Kebiasaan keuangan terbentuk sejak dini dan masa kuliah adalah waktu yang tepat untuk melatihnya. Data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) lewat Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) 2026 mencatat indeks literasi keuangan pelajar dan mahasiswa sebesar 62 persen, masih di bawah rata-rata nasional. Jumlah penduduk usia pelajar dan mahasiswa mencapai sekitar 88 juta orang, atau sekitar 30 persen dari seluruh penduduk Indonesia (Infobank News, 2026).
Artinya, banyak orang sudah memakai layanan keuangan, tetapi belum sepenuhnya paham cara memanfaatkannya dengan bijak. Bagi mahasiswa, celah ini bisa berujung pada kebiasaan boros, terjerat pinjol atau tertipu investasi ilegal.
1. Mahasiswa perlu mencatat jumlah pemasukan dan pengeluaran
Jumlah pemasukan dan pengeluaran di catat setiap bulan agar dapat mengetahui ke mana uang digunakan. Pemasukan dapat berasal dari uang saku, beasiswa, pekerjaan paruh waktu, atau sumber lainnya. Setelah mengetahui jumlah pemasukan, mahasiswa dapat membagi uang berdasarkan kebutuhan, keinginan, dan tabungan.
2. Membedakan Kebutuhan dan Keinginan
Salah satu penyebab sulitnya menabung adalah kebiasaan membeli sesuatu berdasarkan keinginan tanpa mempertimbangkan kebutuhan. Oleh karena itu, mahasiswa perlu memahami perbedaan antara kebutuhan dan keinginan.
Kebutuhan merupakan sesuatu yang harus dipenuhi karena berkaitan dengan kehidupan sehari-hari atau kegiatan utama. Contohnya adalah makanan, transportasi, biaya kuliah, buku, dan perlengkapan perkuliahan. Sementara itu, keinginan merupakan sesuatu yang ingin dimiliki tetapi sebenarnya masih dapat ditunda, seperti membeli pakaian karena mengikuti tren, mencoba makanan yang sedang populer, atau membeli barang tertentu karena melihat promosi di media sosial.
Membedakan kebutuhan dan keinginan bukan berarti mahasiswa tidak boleh memenuhi keinginannya. Mahasiswa tetap dapat membeli barang yang diinginkan atau menikmati hiburan selama pengeluaran tersebut sudah diperhitungkan. Dengan demikian, mahasiswa tidak merasa terlalu dibatasi dan tetap dapat menjalani gaya hidup secara wajar.
3. Pakai aturan 50/30/20 versi mahasiswa
Berikut penerapan uang saku 2.000.000 per bulan:

4. Menabung di awal, bukan menunggu uang sisa
Kebiasaan yang sering dilakukan adalah menggunakan uang untuk berbagai kebutuhan terlebih dahulu dan baru menabung apabila terdapat sisa. Cara tersebut sering membuat jumlah tabungan tidak konsisten. Oleh karena itu, strategi yang dapat diterapkan adalah menyisihkan uang untuk tabungan segera setelah menerima pemasukan.
Sebagai contoh, ketika mahasiswa menerima uang saku bulanan, sebagian uang dapat langsung dipindahkan ke rekening tabungan. Jumlahnya dapat disesuaikan dengan kemampuan masing-masing. Tidak perlu memaksakan jumlah yang terlalu besar karena yang paling penting adalah konsistensi.
Dengan menabung di awal, mahasiswa akan belajar menyesuaikan pengeluaran dengan uang yang tersisa. Kebiasaan ini dapat membantu membangun disiplin finansial dan mengurangi kemungkinan menghabiskan seluruh uang untuk kebutuhan yang kurang penting.
5. Memanfaatkan Teknologi untuk Mengatur Keuangan
Perkembangan teknologi memberikan banyak kemudahan dalam mengelola keuangan. Mahasiswa dapat menggunakan aplikasi pencatat keuangan untuk mencatat pemasukan dan pengeluaran. Dengan mencatat transaksi secara rutin, mahasiswa dapat mengetahui kebiasaan pengeluarannya.
Selain itu, rekening atau dompet digital dapat dimanfaatkan untuk memisahkan uang berdasarkan tujuan. Misalnya, satu tempat digunakan untuk kebutuhan sehari-hari dan tempat lainnya digunakan khusus untuk tabungan. Pemisahan tersebut dapat mengurangi kemungkinan uang tabungan digunakan untuk keperluan yang tidak direncanakan.
Namun, kemudahan pembayaran digital juga harus digunakan secara bijak. Transaksi yang mudah dapat membuat seseorang lebih sering membeli sesuatu tanpa berpikir panjang. Oleh karena itu, mahasiswa perlu tetap mempertimbangkan kebutuhan sebelum melakukan transaksi.
6. Catat dan Evaluasi Sebulan Sekali
Catatan di ponsel atau lembar kerja sederhana sudah cukup. Di akhir bulan, lihat tiga hal: ke mana uang paling banyak mengalir, pengeluaran apa yang tidak terasa manfaatnya, dan apakah target tabungan tercapai. Evaluasi ringan ini membuat Anda tahu persis di mana kebocoran terjadi tanpa harus berhemat berlebihan.
7. Tambah Pemasukan, Bukan Hanya Kurangi Pengeluaran
Ada batas seberapa jauh pengeluaran bisa ditekan, tetapi pemasukan bisa terus dikembangkan. Beberapa jalur yang cocok untuk mahasiswa antara lain mengajar privat, menjadi asisten dosen atau laboratorium, menulis dan desain lepas, berjualan kecil-kecilan, atau mengikuti lomba dan beasiswa. Pastikan aktivitas tersebut tidak mengganggu prioritas utama, yaitu kuliah.
Penulis: Enjelina Tresnawati, Prima Adristi Salsabila, Muzdalifah – Universitas Pancasakti Tegal
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan, foto, gambar, ilustrasi, apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com - Syarat dan Ketentuan - Kebijakan Privasi - Panduan Komunitas - Disclaimer






































































