Perang pada saat sekarang bukan hanya konflik langsung yang terjadi di lapangan, tetapi juga terjadi di ruang media, baik itu di layar televisi maupun media sosial. Di era yang serba cepat seperti sekarang, media telah menjadi salah satu kekuatan besar yang mampu membentuk opini publik.
Contohnya saja seperti dua konflik besar yang sedang berlangsung saat ini, yaitu konflik Rusia-Ukraina dan konflik Israel-Palestina, dua konflik antar negara ini menjadi contoh yang mencerminkan perbedaan framing dari media yang ada, artinya tidak semua penderitaan yang dialami diperlakukan dan diberitakan sama di kamera media Barat.
Pada saat Rusia melakukan invasi besar-besaran ke Ukraina pada 2022, media Barat merespons hal tersebut dengan begitu masif. Hal ini dapat dilihat dengan bagaimana media-media yang ada menyiarkan laporan langsung yang terjadi di jalanan Kyiv dengan raut wajah yang begitu sedih. Korban-korban sipil yang ada di Ukraina ditampilkan secara nyata sebagai korban dari jahatnya perang dan penderitaan yang mereka alami memang nyata adanya.
Akan tetapi, di sisi lain ketika membuka berita soal Palestina, keadaan ini justru berbanding terbalik. Bahasa yang media Barat gunakan terkesan lebih dingin. Mereka lebih menggambarkan kondisi yang ada di Palestina merupakan “operasi keamanan”, alih-alih menyebut adanya korban sipil, kata yang paling sering ditemukan justru adalah kata “terorisme”. Padahal penderitaan yang dialami oleh masyarakat sipil Palestina tidak berbeda dengan penderitaan yang dialami masyarakat sipil Ukraina. Namun liputan yang sama hampir tidak ditemukan.
Dua framing yang berbeda ini lah yang menentukan siapa yang dipandang sebagai korban, siapa yang dianggap sebagai pihak yang bersalah, dan penderitaan dari pihak mana yang dianggap layak mendapatkan perhatian publik global.
Mengapa hal ini dapat terjadi? Pertama, karena adanya kedekatan kultural dan identitas. Kebanyakan orang dibalik layer dari media Barat merasa memiliki kedekatan emosional dengan masyarakat Ukraina karena berada dalam rumpun yang sama. Kedua, adanya kepentingan geopolitik. Negara-negara Barat memiliki kepentingan agenda yang lebih strategis dan jelas dalam konflik yang terjadi di Ukraina, sehingga framing media yang muncul tidak terlepas dari hal tersebut. Ketiga, kepemilikan media. Kebanyakan jaringan berita besar Barat dimiliki oleh korporasi yang memiliki jaringan kepentingan bisnis dan politik yang luas. Meskipun netralitas penuh terdengar sangat ideal, namun dalam praktiknya hal tersebut sangat susah untuk terwujud.
Dampak dari perbedaan peliputan ini dapat dirasakan secara langsung. Publik dapat ikut menilai sebuah konflik berdasarkan narasi yang dibentuk oleh media. Jika informasi yang disajikan seimbang, maka cara pandang publik pun ikut seimbang, begitu pun sebaliknya. Simpati yang seharusnya ditampilkan justru menjadi pilih-pilih, hal ini bukan karena hati nurani yang tidak adil, tetapi karena informasi yang sampai ke masyarakat memang sedari awal tidak adil.
Karena pada akhirnya, setiap nyawa yang menjadi korban, baik dalam konflik Rusia-Ukraina maupun Israel-Palestina nilainya sama. Tidak ada satupun penderitaan yang lebih layak diberitakan dibandingkan penderitaan lainnya. Sebagai pembaca kita sudah seharusnya pandai memilih untuk lebih kritis lagi dan lebih peka terhadap setiap penderitaan yang diberitakan.
Kamera memang tidak pernah berbohong. Tetapi ia selalu memilih ke mana ia akan diarahkan.
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com - Syarat dan Ketentuan - Kebijakan Privasi - Panduan Komunitas - Disclaimer







































































