Stunting di Batanghari belum bisa dianggap selesai. Meski pemerintah daerah sudah menjalankan berbagai program, persoalan ini masih menunjukkan bahwa penanganannya belum benar-benar tuntas. Data tahun 2024 yang masih berada di angka 18,4 persen, dengan target turun menjadi 14,2 persen pada 2026, memperlihatkan bahwa pekerjaan rumah ini masih besar dan tidak bisa dikerjakan setengah hati.
Di titik inilah kepemimpinan daerah diuji. Stunting bukan sekadar soal ada program atau tidak, melainkan soal seberapa jauh kebijakan benar-benar berjalan dan menyentuh masyarakat yang membutuhkan. Kalau pemimpin hanya berhenti pada komitmen dan laporan, sementara hasil di lapangan berjalan lambat, maka masalah ini akan terus berulang dari tahun ke tahun.
Persoalan ini penting dibahas sekarang karena stunting menyangkut masa depan anak-anak. Ini bukan hanya soal tinggi badan yang kurang, tetapi juga soal tumbuh kembang, kecerdasan, dan kualitas generasi di masa mendatang. Anak yang mengalami stunting berisiko menghadapi hambatan dalam belajar dan kesehatan. Jika persoalan ini terus dibiarkan, daerah akan ikut menanggung dampaknya dalam jangka panjang.
Batanghari sebenarnya tidak berjalan tanpa usaha. Pemerintah daerah sudah menjalankan berbagai langkah, mulai dari pemantauan keluarga berisiko, intervensi gizi, hingga kerja sama lintas sektor. Dalam beberapa catatan, angka stunting juga sempat menunjukkan penurunan dibanding tahun sebelumnya. Capaian itu tentu patut diapresiasi. Namun, apresiasi tidak boleh berubah menjadi rasa cukup. Justru ketika hasil awal sudah terlihat, pemerintah harus bekerja lebih keras agar penurunannya benar-benar berkelanjutan.
Masalah yang sering muncul bukan selalu pada kurangnya program, tetapi pada lemahnya pengawalan. Program yang bagus bisa saja gagal memberi hasil kalau pelaksanaannya tidak konsisten. Koordinasi antardinas yang belum sepenuhnya solid, data keluarga berisiko yang belum tentu selalu akurat, dan pengawasan lapangan yang tidak rutin bisa membuat kebijakan tersendat di tengah jalan. Akibatnya, keluarga yang seharusnya menjadi sasaran utama justru tidak mendapat perhatian yang maksimal.
Karena itu, kepemimpinan yang tegas menjadi sangat penting. Kepala daerah tidak cukup hanya hadir dalam rapat atau menyampaikan komitmen di depan publik. Yang lebih dibutuhkan adalah keberanian untuk mengawal pelaksanaan sampai ke bawah. Seorang pemimpin harus mampu memastikan semua dinas bergerak dalam satu arah, dengan target yang jelas dan hasil yang bisa diukur. Dalam urusan stunting, ukuran kepemimpinan bukan terletak pada banyaknya slogan, tetapi pada seberapa jauh perubahan benar-benar terasa.
Selain itu, pendekatan kepada masyarakat juga perlu dibuat lebih sederhana dan dekat dengan kehidupan sehari-hari. Pemerintah tidak bisa hanya menyampaikan pesan dalam bahasa program yang kaku. Warga perlu mendapat penjelasan yang mudah dipahami tentang pentingnya gizi, sanitasi, pemeriksaan kehamilan, dan pola asuh anak. Kalau pesan yang disampaikan terlalu formal dan jauh dari keseharian masyarakat, maka keterlibatan warga juga akan sulit tumbuh. Padahal, penanganan stunting hanya bisa berhasil jika keluarga ikut terlibat sejak awal.
Ada beberapa langkah yang perlu diperkuat. Pertama, data keluarga berisiko harus benar-benar diperbarui agar bantuan dan intervensi tepat sasaran. Kedua, koordinasi lintas sektor harus dibuat lebih disiplin supaya tidak ada program yang berjalan sendiri-sendiri. Ketiga, pengawasan di lapangan harus lebih sering dilakukan agar pemerintah tahu apa yang sebenarnya terjadi di masyarakat. Keempat, partisipasi warga harus ditingkatkan, karena stunting tidak mungkin selesai hanya dengan kerja pemerintah.
Jika langkah-langkah itu dijalankan secara konsisten, penurunan stunting tidak hanya akan terlihat dalam angka, tetapi juga dalam kehidupan sehari-hari masyarakat. Di situlah ukuran keberhasilan pemimpin daerah yang sesungguhnya. Bukan pada banyaknya kegiatan yang diumumkan, melainkan pada seberapa nyata perubahan yang dirasakan warga.
Pada akhirnya, stunting yang belum tuntas menuntut kepemimpinan yang lebih tegas, lebih hadir, dan lebih konsisten. Sebab masa depan anak-anak tidak boleh dibangun dengan kerja yang setengah hati.
Biografi Penulis:Penulis adalah Mahasiswa Prodi Ilmu Pemerintahan UIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi.
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com - Syarat dan Ketentuan - Kebijakan Privasi - Panduan Komunitas - Disclaimer










































































