Sidoarjo, Senin, 11 Agustus 2025 Tabligh pendidikan yang digelar SD Mica pada Senin siang di Aula Lantai 3 berubah menjadi momen kebudayaan dan pendidikan yang menyentuh ketika sebuah pembacaan puisi oleh peserta didik penyandang disabilitas dijawab langsung dengan bacaan sastra dari narasumber.
Kegiatan bertema “Penguatan karakter guru Muhammadiyah, merangkul budaya dalam pendidikan abad-21” tersebut menghadirkan Kyai Kusen, S.Ag., M.A., PhD., Wakil Ketua Lembaga Seni Budaya Pimpinan Pusat Muhammadiyah, dan diikuti seluruh guru, karyawan serta mahasiswa yang sedang melaksanakan magang di SD Mica. Acara berlangsung pukul 13.30–15.30 WIB dan memuat tausiyah, sesi tanya jawab, serta pengarahan praktis mengenai penguatan karakter bagi pendidik.
Momen istimewa berlangsung saat Jauza Ashalina Mashuda peserta didik dari kelas 5 Umar bin Khattab yang merupakan penyandang disabilitas, membacakan puisi berjudul “Budaya dalam Pendidikan Muhammadiyah.” Dalam bait-baitnya, Jauza menggambarkan kebiasaan-kebiasaan kecil di sekolah yang menyimpan harapan besar, doa yang ditiupkan saat membuka buku, serta keyakinan bahwa keterbatasan bukanlah akhir melainkan cara lain melihat dunia. Pembacaan berlangsung tenang namun penuh makna sehingga ruangan sejenak hening, menyisakan gema kata dan perasaan.
Sebagai respons, Kyai Kusen memilih menjawab dalam bentuk seni. Alih-alih pidato, ia membacakan beberapa puisi di antaranya berjudul “Merahnya Merah” dan “Kakekku Pahlawan, Cucunya” yang menjadi pelengkap dialog batin yang dimulai Jauza. Dalam setiap bacaan, Kyai Kusen menenun pesan-pesan keagamaan, nilai-nilai inklusivitas, serta ajakan konkret agar sekolah menjadi ruang yang memuliakan semua anak.
Kepala SD Mica, Pristiandi Teguh Cahya, S.Pd., M.PSDM., menanggapi peristiwa itu sebagai pengingat penting bagi pendidik dan orangtua. “Balasan puisi ini juga menunjukkan bahwa di mata Kiai Kusen, Jauza adalah seorang penyair, bukan hanya seorang ‘siswa bertalenta khusus.’ Ini adalah pesan penting yang harus dipahami oleh seluruh guru, siswa, dan orang tua: bahwa setiap anak berhak diperlakukan sebagai individu yang utuh, dengan bakat dan potensi yang tak terbatas,” ujarnya.
Selain dialog puisi, rangkaian acara diisi tausiyah, diskusi penguatan karakter bagi guru Muhammadiyah, dan pengarahan praktis agar seluruh tenaga pendidik menanamkan nilai tanggung jawab kepada anak sejak usia dini. Menutup kegiatan, Kyai Kusen menuturkan dongeng berjudul “Burung pak Hasan” yang mengingatkan agar pendidik tidak merusak mental anak dengan memanjakan terus-menerus; sebaliknya, pendidikan hendaknya membentuk ketangguhan dan tanggung jawab sehingga anak tumbuh menjadi pribadi berani dan bertanggung jawab.
Kejadian berbalas puisi di Aula Lantai 3 itu, meskipun singkat, meninggalkan kesan mendalam bagi civitas SD Mica terutama bagi Jauza, yang tampil penuh keberanian. Pihak sekolah menegaskan komitmen untuk terus memperkuat praktik inklusif sehingga setiap anak merasa di rumah di lingkungan pendidikannya.
Penulis : M.iffan fadhillah
Editor : erine Hilda A.
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com - Syarat dan Ketentuan - Kebijakan Privasi - Panduan Komunitas - Disclaimer











































































