Produk pangan tradisional seperti kerupuk seringkali menjadi pelengkap makanan. Namun, di tengah meningkatnya tuntutan pasar terhadap produk yang higienis, praktis, dan berkemasan rapi, banyak UMKM pangan masih menghadapi tantangan signifikan terutama pada tahap pengemasan.
Kondisi tersebut juga ditemui pada UMKM Kerupuk “Bu Lestari” di Desa Pandanarum, Kecamatan Pacet, Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur. Berdasarkan pengalaman kegiatan pengabdian kepada masyarakat yang dilaksanakan oleh mahasiswa Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) Surabaya pada Senin, 12 Januari 2026, melakukan inovasi alat pada tahap pengemasan yang menjadi salah satu kendala utama dalam proses produksi. Selama ini, produk kerupuk masih dikemas secara manual menggunakan tali rumput Jepang. Metode tersebut memakan waktu, membutuhkan tenaga lebih banyak, serta menghasilkan kemasan yang kurang rapi, tidak seragam, dan belum mencantumkan identitas produk. Hal ini berdampak langsung pada efisiensi produksi dan daya saing usaha.
Melalui Program pengabdian masyarakat, diterapkan inovasi berupa mesin press plastik dan stempel yang dirancang sekaligus sesuai kebutuhan dan skala UMKM Ibu Lestari. Inovasi ini termasuk kategori teknologi tepat guna yang sederhana, mudah digunakan, hemat energi, dan memiliki dampak langsung terhadap produktivitas. Mesin press plastik memungkinkan penyegelan kemasan yang lebih rapi dan konsisten, sedangkan penambahan stempel dapat membantu pencantuman identitas produk secara seragam.
Penerapan alat ini dapat membawa perubahan nyata dalam proses kerja dimana waktu pengemasan dapat berkurang secara signifikan, kualitas segel menjadi lebih kuat, dan tampilan produk terlihat lebih profesional. Dimana proses yang sebelumnya mengandalkan keterampilan manual kini menjadi lebih terstandar, sehingga risiko kesalahan dan kelelahan kerja dapat diminimalkan. Dampaknya tidak hanya terasa pada peningkatan kapasitas produksi, tetapi juga pada efisiensi biaya operasional jangka panjang.
Lebih dari sekadar alat bantu produksi, inovasi ini mendorong pelaku UMKM untuk mempertimbangkan kembali relevansi teknologi dalam pengembangan usaha. Kemasan tidak lagi dipandang sebagai tahap akhir yang hanya sebagai “pelindung produk,” melainkan sebagai komponen penting dari nilai produk yang menentukan posisinya di pasar. Kemasan yang lebih baik membuka peluang baru bagi kita untuk menjangkau pasar yang lebih luas.
Program pengabdian masyarakat di Desa Pandanarum menunjukkan bahwa pengabdian masyarakat dapat menjadi ruang kolaborasi antara dunia pendidikan dan pelaku usaha mikro. Mahasiswa berperan sebagai agen transfer teknologi dan pengetahuan, sementara UMKM menjadi mitra pembelajaran yang nyata. Kolaborasi ini menunjukkan bahwa memperkuat daya saing UMKM tidak selalu memerlukan teknologi mahal, melainkan solusi yang relevan, kontekstual, dan berkelanjutan.
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com - Syarat dan Ketentuan - Kebijakan Privasi - Panduan Komunitas - Disclaimer








































































