Yogyakarta, 8 Maret 2026 – Bagi sebagian orang, gunung hanyalah tumpukan tanah dan batu menjulang tinggi. Namun, bagi Nathanael Syiar Damaiputra, mahasiswa kedokteran berusia 22 tahun asal Bandung, gunung adalah “tempat pulang—di mana pikiran menjadi tenang dan hati kembali menemukan keseimbangan.
“Sebagai mahasiswa di salah satu universitas ternama di Yogyakarta, Nathanael aktif dalam dunia kesehatan, penelitian medis, dan pendidikan kedokteran. Di tengah jadwal padat akademik, ia menemukan pelarian sempurna melalui pendakian gunung. “Keindahan alam Indonesia luar biasa: hutan tropis lebat, jalur menantang, dan puncak yang tak ada habisnya untuk dikagumi,” ujarnya.
Pendakian menjadi cara Nathanael melarikan diri dari hiruk-pikuk kota. “Di kota, semuanya cepat—jadwal padat, kebisingan, rutinitas yang melelahkan. Tapi di gunung, waktu berjalan lambat, hanya ada suara angin dan napas yang mengikuti irama langkah,” ceritanya. Gunung juga mengajarkannya menghargai proses, di mana setiap tanjakan panjang membangun ketahanan fisik dan mental.
Perjalanan pendakiannya dimulai dari Gunung Api Purba Nglanggeran di Yogyakarta, setinggi sekitar 600 mdpl. Meski relatif kecil, gunung ini sangat berkesan. “Pendakian pertama penuh penasaran. Saat sampai puncak dan melihat hamparan alam, ada perasaan sulit dijelaskan. Sejak itu, saya jatuh cinta,” kenang Nathanael.Seiring waktu, tantangannya meningkat. Salah satu pencapaian terbesar adalah menaklukkan Gunung Sumbing (3.371 mdpl). “Jalur panjang, medan curam, cuaca tak bersahabat—seperti ujian fisik dan mental. Tapi pemandangan lautan awan dan gunung lain di kejauhan membayar semua lelah,” tambahnya antusias.
Pendakian tak pernah sendirian bagi Nathanael. Ia punya tim inti: Samuel dan Gilgal. “Bersama mereka, setiap perjalanan berarti. Kami saling menguatkan saat lelah, berbagi cerita di tenda malam hari, dan merayakan langkah kecil,” jelasnya. Di gunung, pertemanan terasa murni—tanpa formalitas, hanya kejujuran, kerja sama, dan saling percaya.
Tak hanya tim inti, Nathanael bertemu sahabat baru dari komunitas pendaki. “Gunung punya cara unik mempertemukan orang ber-semangat sama: pencinta alam yang menghargai perjalanan dan cerita di balik setiap puncak,” katanya.
Nathanael berbagi tips emas untuk pemula. Persiapkan fisik dengan jogging atau hiking, gunakan perlengkapan tepat seperti sepatu gunung dan sleeping bag, pelajari jalur serta cuaca, bawa logistik cukup, dan terapkan etika “leave no trace” untuk jaga ekosistem.
Lebih dari petualangan, pendakian memberi pelajaran hidup. “Gunung ajarkan kesabaran—tak ada puncak instan; kerendahan hati—alam selalu lebih besar; dan ketekunan—langkah kecil konsisten lebih berharga,” tegasnya. Kutipan favorit: “Gunung tidak menantang kita untuk menang, ia hanya menunggu apakah kita cukup sabar untuk sampai.
“Pada akhirnya, bagi Nathanael, pendakian adalah perjalanan mengenal alam, orang lain, dan diri sendiri. Ia mengajak generasi muda, khususnya mahasiswa, untuk coba. “Bukan soal taklukkan gunung, tapi taklukkan diri sendiri—dapatkan perspektif baru di tengah kesibukan.”
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com - Syarat dan Ketentuan - Kebijakan Privasi - Panduan Komunitas - Disclaimer









































































