BENGKULU – Gelombang penggunaan kecerdasan buatan ArtificialIntelligence (AI) dalam industri kreatif saat ini bukan lagi sekadar tren, melainkan sudah menjadi strategi utama banyak perusahaan. Iklan, visual kampanye, hingga video promosi kini dapat diproduksi dalam hitungan menit tanpa melibatkan banyak waktu dantenaga kreatif manusia. Di tengah euforia efisiensi ini, muncul satu pertanyaan yang jarang dibahas secara serius, bagaimana ketika mesin mengambil alih proses kreatif, apa yang tersisa dari seni itu sendiri?
Penggunaan AI dalam industri kreatif terutama oleh perusahaan besar bukan sekadar inovasi, melainkan bentuk pergeseran yang berpotensi mereduksi nilai seni menjadi sekadar produk instan. Ini membuat kreativitas manusia tidak hanya terpinggirkan, tetapi juga perlahan kehilangan maknanya. Jika dibiarkan, hal ini dapat mengancam eksistensi seni sebagai medium ekspresi manusia dan menggantikannya dengan karya yang hampa tanpa adanya makna dan emosi.
Realitas di lapangan menunjukkan bahwa efisiensi telah menjadi alasan utama di balik adopsi AI.Efisiensi sini bukan hanya sekedar penghematan biaya, tapi tampak praktis dan lebih mudah dipergunakan tanpa mengeluarkan waktu yang lama yang membuat perusahaan besar seperti Coca-Colamenggunakan AI untuk kampanye nya pada natal 2024: Rekreasi iklan 1990-an “Holidays are Coming”, (Company 2024). Jika kita lihat ini patut dipuji sebagai inovasi, tetapi saat dilihat dan dikritisi hal ini malah akan berdampak besar salah satunya sebagai bentuk pengurangan ruang bagi pekerja kreatif, bahkan hasil survei Jobstreet by SEEK tahun 2024, sebanyak 68% pekerja di Indonesia percaya pekerjaan dan tugas mereka akan terdampak generative artificial intelligence, (Putra 2024) . Bahkan bukan hanya pengurangan peran manusia tapi di balik visual yang menarik, ada proses yang hilang, yaitu proses manusia berpikir, merasakan, dan menciptakan setiap emosi yang mereka rasakan.
Jika dilihat dari ilmu sosiologi teknologi, kondisi ini menunjukkan bahwa teknologi tidak hanya berfungsi sebagai alat, tetapi juga sebagai kekuatan yang membentuk struktur sosial. Pemikiran Herbert Blumermenegaskan bahwa makna lahir dari interaksi manusia. Namun, ketika karya dihasilkan oleh AI, makna tersebut tidak lagi berasal dari pengalaman sosial, melainkan dari pengolahan data. Seni yang seharusnya menjadi medium ekspresi manusia berubah menjadi sekadar hasil kalkulasi algoritma.Dalam ilmu sosiologi fenomena ini disebut sebagai rasionalisasi, sebuah kondisi di mana efisiensi dan kalkulasi lebih diutamakan dibandingkan nilai-nilai kemanusiaan. Logika ini sejalan dengan pemikiran Max Weber, yang melihat modernitas sebagai proses yang cenderung “mendinginkan” kehidupan manusia menjadi serba terukur dan fungsional. Penggunaan AImembuat suatu produk atau Brand kehilangan maknanya, seni pada produk tersebut tidak lagi dipandang sebagai ekspresi, tetapi sebagai komoditas yang harus cepat diproduksi dan mudah dijual. Karya yang dihasilkan AI sering dianggap kurang memiliki kedalaman emosional dibandingkan karya manusia. Bahkan, sebagian masyarakat mulai meragukan keaslian dan nilai autentik dari konten yang dihasilkan oleh mesin. Ini menunjukkan bahwa meskipun AI unggul dalam kecepatan, ia belum mampu menggantikan “rasa” yang menjadi inti dari seni itu sendiri. Masalahnya menjadi lebih serius ketika perusahaan besar yang memiliki sumber daya justru memilih menggantikan manusia dengan AI. Ini bukan lagi soal teknologi, tetapi soal etika. Ketika efisiensi dijadikan prioritas utama, maka yang dikorbankan adalah ruang bagi manusia untuk berkarya. Jika kondisi ini terus dibiarkan, maka industri kreatif berisiko berubah menjadi industri yang miskin maknapenuh visual menarik, tetapi kosong secara emosional.
Penggunaan AI dalam industri kreatif tidak bisa dilihat sebagai kemajuan tanpa konsekuensi. Di balik efisiensi yang ditawarkan, terdapat proses penghilangan makna seni dan peran manusia dalam menciptakan karya. Jika kita tidak hati-hati, seni yang seharusnya menjadi cerminan jiwa manusia akan berubah menjadi sekadar produk algoritma yang dingin dan tanpa jiwa.
Kita tentu tidak bisa menghentikan perkembangan teknologi. Namun, kita masih bisa menentukan bagaimana teknologi itu digunakan. Jika AI terus dijadikan pengganti manusia dalam berkarya, maka yang hilang bukan hanya lapangan pekerjaan, tetapi juga esensi dari seni itu sendiri. Sudah saatnya kita mempertanyakan: apakah kita ingin dunia yang penuh karya instan, atau dunia yang masih memberi ruang bagi manusia untuk merasakan, berpikir, dan menciptakan?
Oleh: Syahwa Sestika, Sosiologi, Universitas Bengkulu.
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com - Syarat dan Ketentuan - Kebijakan Privasi - Panduan Komunitas - Disclaimer

































































