Ada yang lebih mengerikan dari tidak bisa membaca. Yaitu bisa membaca, tapi tak mengerti satu pun makna dari kalimat yang dibaca. Itulah kondisi jutaan pelajar Indonesia hari ini.
Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu’ti mengungkapkan fakta yang seharusnya mengguncang kita: sebanyak 75 persen anak usia 15 tahun di Indonesia memiliki kemampuan membaca, namun tidak memahami apa yang mereka baca. Kemampuan membaca mereka berada di bawah standar PISA level 2, artinya mereka kesulitan menangkap gagasan utama dari sebuah teks panjang. Ini bukan sekadar masalah pendidikan. Ini adalah alarm nasional.
Data demi data berbicara senada. UNESCO mencatat minat baca masyarakat Indonesia hanya 0,001 persen dari 1.000 orang Indonesia, hanya satu yang rajin membaca. Survei GoodStats pada awal 2025 terhadap 1.000 responden menemukan bahwa hanya 20,7 persen masyarakat Indonesia yang rutin membaca setiap hari. Sisanya membaca sesekali, jarang, bahkan hampir tidak pernah. Dalam penilaian PISA 2022, meski Indonesia naik 5 posisi dibanding 2018, negara kita masih bertengger di 11 peringkat terbawah dari 81 negara yang didata.
Yang membuat ironis, persoalan ini bukan karena kita kekurangan infrastruktur. Riset Central Connecticut State University menempatkan infrastruktur pendukung literasi Indonesia di atas banyak negara Eropa. Kita punya gedung perpustakaan, kita punya anggaran, kita bahkan memiliki lebih dari 100 juta pengguna aktif smartphone. Namun rata-rata siswa Indonesia hanya membaca 1-2 buku per tahun jauh di bawah standar internasional. Sementara waktu menatap layar gadget bisa mencapai 9 jam sehari. Ada sesuatu yang salah bukan pada fasilitas, melainkan pada budaya.
Akar masalahnya setidaknya berada di tiga lapis. Pertama, ekosistem sekolah yang tidak menumbuhkan budaya baca. Perpustakaan sekolah lebih sering berfungsi sebagai gudang buku ketimbang ruang eksplorasi. Guru pun yang semestinya menjadi teladan kerap lebih memilih berselancar di media sosial saat jam istirahat daripada membuka buku di perpustakaan. Literasi dianggap tugas eksklusif guru bahasa, bukan tanggung jawab semua mata pelajaran. Akibatnya, kebiasaan membaca tumbuh secara parsial, bukan menyeluruh.
Kedua, lingkungan keluarga yang belum menjadikan buku sebagai kebutuhan. Di banyak rumah tangga Indonesia, buku bukan prioritas belanja. Tidak ada sudut baca, tidak ada tradisi membaca bersama, tidak ada kebiasaan memberikan buku sebagai hadiah. Budaya lisan yang kuat di masyarakat kita memang kaya dan berharga, tetapi ia tidak bisa menjadi satu-satunya modal di era yang menuntut kemampuan analisis teks dan informasi tertulis.
Ketiga, tantangan era digital yang dipahami secara keliru. Banyak pihak mengira gempuran konten digital adalah musuh literasi. Padahal bukan. Musuh literasi adalah konten digital yang dangkal: video pendek, reels, caption tiga baris, dan berita kilat tanpa konteks. Jika teknologi diarahkan dengan bijak — menuju e-book, jurnal daring, artikel panjang bertanggung jawab ia justru bisa menjadi jalan masuk terbaik menuju budaya baca yang inklusif dan merata.
Lalu apa yang harus dilakukan? Program “Sabusami” (Satu Buku Satu Minggu) yang digagas Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah adalah langkah awal yang patut diapresiasi. Namun program semacam ini akan sia-sia tanpa ekosistem yang mendukungnya. Ada tiga hal mendesak yang perlu dibenahi secara bersamaan.
Pertama, guru harus menjadi pembaca aktif sebelum menuntut murid membaca. Pelatihan guru tidak cukup hanya soal metode mengajar, tetapi harus mencakup pembangunan identitas guru sebagai insan literat. Kedua, perpustakaan sekolah perlu direvitalisasi secara serius bukan sekadar penambahan koleksi, tetapi perubahan fungsi menjadi ruang yang hidup, nyaman, dan relevan bagi generasi muda. Ketiga, orang tua perlu dilibatkan lebih aktif: gerakan literasi keluarga, diskon buku yang masif, hingga integrasi buku dalam program bansos bagi keluarga kurang mampu bisa menjadi terobosan nyata.
Sastrawan Amerika Ray Bradbury pernah berkata, jika ingin menghancurkan suatu bangsa, hancurkan dulu kemampuan membacanya. Kita tidak perlu menunggu dihancurkan dari luar. Bila krisis literasi ini terus diabaikan, kita sedang menghancurkan diri sendiri perlahan, senyap, dan tanpa sadar. Indonesia Emas 2045 tidak akan pernah terwujud dari generasi yang bisa membaca kata demi kata, tetapi tidak memahami satu pun maknanya.
Penulis : Fais Al Muhajjir, Mahasiswa Universitas Tazkia
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com - Syarat dan Ketentuan - Kebijakan Privasi - Panduan Komunitas - Disclaimer

































































