Setiap generasi tumbuh dalam tantangan zamannya sendiri. Generasi muda hari ini hidup di tengah arus informasi yang deras, nyaris tanpa jeda. Dalam satu hari, mereka dapat menyaksikan perang, bencana kemanusiaan, hiburan, hingga kekerasan dari satu layar yang sama. Dunia seolah terlipat dalam genggaman, tetapi tidak semua yang terlihat dapat benar-benar dipahami. Informasi datang begitu cepat, sementara kedewasaan dalam menyaring makna tidak selalu mengikuti. Di tengah kondisi ini, banyak remaja menyerap potongan realitas tanpa bimbingan utuh. Mereka meniru, tanpa benar-benar mengerti batas.
Contoh peristiwa yang viral belakangan ini, ketika beberapa siswa SMA melakukan tindakan tidak pantas terhadap gurunya yang kebetulan seorang perempuan, menjadi tamparan keras bagi dunia pendidikan kita. Mereka mengacungkan jari tengah sebagai simbol penghinaan terhadap orang lain yang dalam hal ini adalah gurunya sendiri. Reaksi publik pun mengemuka, marah, kecewa, sekaligus cemas. Namun, berhenti pada kemarahan saja tidak akan menyelesaikan persoalan. Kita perlu bertanya lebih dalam, bagaimana seorang anak bisa kehilangan batas adab terhadap gurunya sendiri. Apa yang luput dalam proses pendidikan kita, sehingga relasi yang seharusnya dijaga dengan kehormatan justru dilanggar oleh anak-anak yang mengenyam pendidikan karakter.
Sebagai pendidik, kadang kita menyaksikan bagaimana batas antara candaan dan pelecehan agak kabur di ruang kelas. Padahal Islam dengan tegas mengajarkan penjagaan diri dan kehormatan dalam setiap interaksi, sehingga menjaga adab dalam bercanda adalah sebuah kewajiban. Allah berfirman: ““Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain… dan janganlah kamu saling mencela dan saling memanggil dengan gelar-gelar yang buruk…” (QS. Al-Hujurat: 11)
Ayat-ayat ini menegaskan bahwa batas moral tidak boleh dinegosiasikan. Candaan yang melanggar, gestur yang tidak pantas, atau sikap yang merendahkan, semuanya adalah pintu menuju kerusakan yang lebih besar jika dibiarkan. Dari hal-hal kecil ini bila dibiarkan suatu saat mereka akan berani melakukan hal-hal yang besar bahkan tidak senonoh.
Remaja memang sedang berada dalam fase pencarian jati diri. Namun, pencarian ini menjadi berbahaya ketika dibentuk oleh lingkungan digital yang seringkali menormalisasi perilaku tidak pantas. Konten yang merendahkan, candaan yang vulgar, hingga pelecehan yang dibungkus humor perlahan mengikis sensitivitas moral. Allah telah mengingatkan:
“Sesungguhnya orang-orang yang ingin agar perbuatan keji itu tersebar di kalangan orang beriman akan mendapat azab yang pedih…” (QS. An-Nur: 19)
Ketika keburukan menjadi tontonan yang dianggap biasa, maka hati pun perlahan kehilangan kepekaannya. Allah mengancam orang-orang yang gemar menyebarkan tontonan yang tidak mendidik bahkan keji dengan azab yang berat.
Sebagai orang dewasa, khususnya pendidik, kita tidak boleh menutup mata bahwa remaja bukanlah miniatur orang dewasa. Mereka masih belajar memahami batas, mengelola dorongan, dan menimbang konsekuensi. Untuk itu, pendidikan tidak cukup hanya menyampaikan aturan, tetapi juga menanamkan kesadaran. Remaja perlu diajak berdialog, dipandu memahami, dan dilatih merasakan, bukan hanya dihakimi saat melakukan kesalahan.
Sesungguhnya karakter berawal dari rumah. Orang tua adalah penanam norma-norma kebaikan yang pertama dan utama. Karakter tidak sepenuhnya tumbuh dari berbagai teori kebaikan. Karakter muncul dari kebiasaan baik yang selalu diulang. Bisa dikatakan, rumah adalah fondasi utama pendidikan. Anak-anak belajar dari apa yang mereka lihat setiap hari. Cara orang tua berbicara, bersikap, dan memperlakukan orang lain menjadi cermin yang ditiru.
Sekolah memiliki peran strategis dalam membentuk kesadaran ini. Ruang kelas tidak hanya menjadi tempat transfer ilmu, tetapi juga ruang pembentukan adab. Relasi antara guru dan murid harus dibangun di atas penghormatan, bukan sekadar formalitas. Rasulullah SAW bersabda:“Bukan termasuk golongan kami orang yang tidak menyayangi yang muda dan tidak menghormati yang tua serta tidak mengetahui hak orang yang berilmu.” (HR. Musnad Ahmad dan Sunan al-Tirmidzi). Hadits ini mengajarkan bahwa keberhasilan belajar sangat erat kaitannya dengan penghormatan kepada orang tua dan guru karena ketika adab runtuh, maka keberkahan ilmu pun terancam hilang.
Perlu jujur mengakui bahwa generasi ini tumbuh dalam kelelahan sosial pasca pandemi. Interaksi yang terbatas membuat sebagian anak kehilangan kesempatan belajar empati secara langsung. Mereka mungkin cakap secara digital, tetapi belum tentu matang secara emosional. Ini bukan pembenaran atas kesalahan, melainkan pengingat bahwa tantangan yang dihadapi generasi ini berbeda dan membutuhkan pendekatan yang lebih bijak.
Generasi muda hari ini tampak kehilangan arah, mungkin itu bukan karena mereka tidak ingin menjadi baik, tetapi karena mereka belum menemukan panduan yang tepat. Dan di sinilah tanggung jawab kita sebagai orang dewasa diuji. Alih-alih hanya menghukum dan melabeli, kita perlu menjadikan peristiwa ini sebagai momentum muhasabah bersama. Remaja perlu dibimbing untuk memahami kesalahan, menyadari dampaknya, dan memperbaiki diri.
Mendidik generasi beradab bukan pekerjaan instan. Ia membutuhkan kesabaran, keteladanan, dan kesungguhan. Luka yang terjadi hari ini seharusnya tidak hanya melahirkan kemarahan, tetapi juga kesadaran, bahwa kita semua memiliki peran dalam membentuk masa depan mereka. Dengan menguatkan adab, menjaga iman, dan menghadirkan pendidikan yang manusiawi, kita berharap generasi ini tidak hanya tumbuh cerdas, tetapi juga berakhlak mulia dan menjaga kehormatan sesamanya.
Penulis: Lilis Ummi Fa’iezah, S.Pd., MA. (Guru MAN 1 Yogyakarta)
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com - Syarat dan Ketentuan - Kebijakan Privasi - Panduan Komunitas - Disclaimer

































































