SUKOHARJO – Ruang kebebasan berekspresi kembali dibuka lebar bagi 50 anak, remaja, dan sahabat disabilitas di Kabupaten Sukoharjo. Pada Sabtu (7/3/2026), Sanggar Kasih Sayang Bunda di Desa Wirun, Kecamatan Mojolaban, menjadi saksi transformasi karya seni rupa menuju seni pertunjukan yang hidup melalui agenda “Workshop V – Teater dan Ekspresi Tubuh Dasar”. Kegiatan ini merupakan fase pendalaman dari Program Pemanfaatan Hasil Kelola Dana Abadi Kebudayaan Tahun 2025 yang diinisiasi oleh Yayasan Kiblat Abinaya Indonesia.
Setelah sukses merumuskan naskah cerita fabel kolaboratif pada pekan sebelumnya, para peserta kini menghadapi tantangan baru: menerjemahkan teks literasi tersebut ke dalam bahasa gerak dan gestur fisik. Sesi olah tubuh ini dipandu secara komprehensif oleh Ketua Sanggar Budaya Nirwana Arcapadha, Muhammad Afan Jaffar.
Menggunakan pendekatan somatik yang perlahan dan adaptif, Afan mengajak seluruh peserta untuk mengenali postur, kesadaran ruang spasial, hingga teknik pernapasan teater dasar. Proses ini dilakukan di ruang latihan yang telah didesain sebagai safe space (ruang aman), memungkinkan anak-anak berkebutuhan khusus mengeksplorasi motorik kasar mereka secara leluasa tanpa rasa takut.
“Ketika wajah kita tertutup oleh topeng limbah kertas yang sudah kalian buat, maka seluruh tubuh—mulai dari bahu, tangan, hingga pijakan kaki—harus mengambil alih peran untuk berbicara. Gestur tubuh tidak bisa berbohong,” jelas Muhammad Afan Jaffar di tengah sesi latihan. “Jika karakter fabel kalian adalah hewan penjaga hutan yang tangguh, maka busungkan dada kalian. Di atas panggung nanti, setiap tarikan napas dan gerakan sekecil apa pun memiliki makna yang kuat.”
Bagi peserta penyandang disabilitas, metode teater gerak ini terbukti menjadi medium pembebasan berekspresi yang sangat efektif. Tim instruktur memberikan modifikasi gerak (adaptive movement) sehingga hambatan fisik tidak menjadi penghalang bagi peserta untuk menunjukkan kedalaman penjiwaan karakter mereka.
Merespons capaian adaptif tersebut, Ketua Yayasan Kiblat Abinaya Indonesia, Fadhel Moubharok Ibni Faisal, menegaskan bahwa seni pertunjukan inklusif sengaja dirancang untuk meruntuhkan sekat-sekat keterbatasan verbal yang sering kali meminggirkan kelompok disabilitas.
“Dalam ruang ekosistem inklusif yang kita bangun ini, kita sangat memahami bahwa tidak semua anak memiliki kemampuan wicara yang sama untuk melafalkan dialog naskah. Oleh karena itu, kita memfasilitasi mereka sepenuhnya dengan teater gerak,” urai Fadhel Moubharok Ibni Faisal. “Ekspresi tubuh adalah bahasa universal yang paling jujur. Ketika seorang anak penyandang disabilitas mengangkat tangannya dan menggerakkan topengnya seirama dengan alur cerita, ia sejatinya sedang berdialog secara lantang dengan semesta. Inilah esensi kesetaraan mutlak yang ingin kita capai dalam program ini.”
Suasana lokakarya yang sarat akan aktivitas fisik ini ditutup dengan momen kehangatan keluarga yang menyentuh. Muhammad Afan Jaffar memandu metode mirroring (cermin gerak), di mana para orang tua pendamping diundang ke tengah ruang latihan untuk berhadapan dan saling menirukan gestur teatrikal anak-anak mereka. Sesi interaktif ini memancing tawa kebahagiaan sekaligus melatih empati kognitif yang secara signifikan mempererat ikatan psikologis keluarga.
Berbekal fondasi olah tubuh yang kokoh dari Workshop V, ke-50 peserta dinilai telah memiliki kesiapan fisik dan mental yang matang. Mereka kini bersiap melangkah ke tahapan lokakarya koreografi tari untuk menyempurnakan harmoni gerak kolektif menjelang pementasan agung pada bulan Mei mendatang.
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com - Syarat dan Ketentuan - Kebijakan Privasi - Panduan Komunitas - Disclaimer

































































