JAKARTA SELATAN – Di tengah ramainya kawasan Jakarta Selatan, berdiri sebuah usaha jasa pernikahan yang sudah dikenal luas oleh masyarakat, yaitu Lisli Royal Gallery. Dibalik kesuksesan bisnis yang mencakup rias pengantin, dekorasi, hingga katering ini, terdapat kisah kerja keras dan dedikasi seorang wanita tangguh bernama Ibu Dra. Lisli. Beliau bukan hanya sekadar pengusaha sukses, melainkan juga seorang pegiay budaya yang aktif memperkenalkan kain tradisional Indonesia ke berbagai kalangan.
Perjalanan karir Ibu Lisli bermula dari kesederhanaan kehidupan rumah tangga. Sebelum terjun sepenuhnya ke dunia bisnis, beliau lebih banyak mencurahkan waktunya untuk mengurus keluarga. Namun, rasa ingin tahu dan bakat alami yang dimilikinya di bidang seni tata rias membuatnya mulai mencoba menekuni bidang ini secara serius. Berbekal keahlian yang ia miliki, Ibu Lisli mulai merintis usaha kecil-kecilan pada tahun 2000.
Awalnya, jasa rias wajahlah yang menjadi andalan utamanya. Namun, karena kualitas hasil kerja yang memuaskan dan pelayanan yang ramah, permintaan klien semakin meningkat. Hal inilah yang kemudian memotivasi Ibu Lisli untuk memperluas layanannya.

“Awalnya saya hanya menyalurkan hobi dan keahlian merias. Tapi karena banyak yang berminat dan mempercayakan acara pentingnya kepada saya, saya memberanikan diri mengembangkan usaha ke bidang dekorasi hingga katering. Alhamdulillah, langkah ini berjalan lancar dan mendapat respon positif dari masyarakat,” ungkap Ibu Lisli.
Kini, nama Lisli Royal Gallery telah menjadi salah satu referensi warga Jakarta Selatan dalam menyelenggarakan pesta pernikahan. Kesuksesan ini tidak membuat Ibu Lisli berpuas diri. Di sela kesibukan mengelola usaha dan kuliner, beliau mencurahkan waktunya untuk bergabung dan aktif dalam Komunitas Cinta Berkain Indonesia (KCBI).
KCBI merupakan wadah berkumpulnya para perempuan yang memiliki visi mulia, yaitu melestarikan budaya Indonesia melalui penggunaan kain tradisional atau wastra Nusantara. Bagi Ibu Lisli dan rekan-rekannya, kain seperti batik, songket, tenun, dan kain daerah lainnya bukan sekadar bahan sandang, melainkan jati diri dan kekayaan budaya bangsa yang harus dijaga dan dilestarikan.

“Kami di KCBI ingin mengubah pola pikir masyarakat, bahwa kain tradisional itu tidak ketinggalan zaman dan tidak kaku. Kain Nusantara itu indah, modis, dan relevan dipakai sehari-hari, tidak hanya saat acara resmi atau kenegaraan saja,” ujar Ibu Lisli menjelaskan tujuan komunitasnya.
Berbagai kegiatan telah dilakukan KCBI. Mulai dari mengedukasi generasi muda agar mencintai produk dalam negeri, mendukung gerakan Bangga Buatan Indonesia (BBI) untuk mengangkat ekonomi UMKM pengrajin kain, hingga mengadakan pertemuan rutin yang mempertemukan perempuan dari berbagai latar belakang. Tak hanya di dalam negeri, gerakan ini juga merambah ke luar negeri, bekerja sama dengan diaspora Indonesia untuk mengenalkan kekayaan budaya Indonesia di mata dunia sebagai bentuk diplomasi budaya.
Bagi Ibu Lisli, berbisnis dan bergerak di bidang pelestarian budaya memiliki benang merah yang sama, yakni memberikan manfaat. Bisnis yang dibangun dengan kerja keras memberikan nafkah bagi keluarga dan karyawan, sementara kegiatan di KCBI memberikan kepuasan batin karena turut memelihara warisan bangsa agar tidak hilang ditelan zaman.
“Bagi saya, sukses itu adalah ketika bakat yang kita miliki bisa bermanfaat bagi orang lain, sekaligus bisa berkontribusi menjaga nilai-nilai budaya bangsa. Itulah kebanggaan terbesar yang bisa saya persembahkan,” tutup Ibu Lisli dengan penuh harapan.
Kisah Ibu Lisli menjadi bukti nyata bahwa dengan ketekunan dan visi yang luas, seorang wanita dapat mengembangkan potensi diri menjadi kesuksesan bisnis yang utuh, sekaligus tetap peduli dan aktif menjaga kelestarian budaya Indonesia.
Oleh: Anugrah Disa Meilita, Mahasiswa Universitas Siber Asia
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com - Syarat dan Ketentuan - Kebijakan Privasi - Panduan Komunitas - Disclaimer





































































