Ilmu pengetahuan bukanlah sekedar tumpukan informasi atau kumpulan angka statis, melainkan sebuah upaya sistematis manusia untuk mengejar kebenaran melalui metode ilmiah. Namun, dalam proses itu, penyelidikan ilmiah sering kali terjebak dalam ketegangan antara subjektivitas dan objektivitas. Ketegangan ini terasa nyata ketika kita membedah salah satu isu lingkungan paling krusial di Indonesia saat ini, yaitu laporan mengenai Tempat Pembuangan Sampah Terpadu (TPST) Bantargebang di Bekasi yang kini menjadi penyumbang emisi gas metana terbesar kedua di dunia.
Jika dilihat dengan logika penyelidikan ilmiah, fenomena Bantargebang bukan hanya persoalan gunungan sampah setinggi 20 lantai, melainkan sebuah studi kasus tentang bagaimana data objektif berinteraksi dengan interpretasi subjektif dalam ruang publik. Dalam filsafat ilmu, objektivitas merupakan sikap atau pandangan yang berlandaskan pada fakta, data, dan kenyataan empiris tanpa dipengaruhi pendapat atau perasaan pribadi. Laporan berjudul ‘Spotlight on the Top 25 Methane Plumes in 2025: Landfills’ yang dirilis oleh UCLA School of Law merupakan manifestasi nyata dari upaya pencapaian objektivitas ini. Laporan tersebut tidak disusun berdasarkan asumsi semata, namun melalui pemantauan teknologi mutakhir menggunakan satelit Tanager-1 milik Planet Labs dan perangkat EMIT milik NASA yang terpasang di Stasiun Luar Angkasa Internasional (ISS).
Secara objektif, data ini menunjukkan bahwa TPST Bantargebang “menyemburkan” gas metana murni sebanyak 6,3 ton per jam. Angka ini bersifat universal, dapat diuji kembali, dan dihasilkan menggunakan metode ilmiah yang simetris, yang merupakan ciri utama dari objektivitas dalam ilmu pengetahuan. Penjelasan ilmiah dari para pakar, seperti Hanifrahmawan Sudibyo dari Universitas Gadjah Mada (UGM) dan Wahid Dianbudiyanto dari Universitas Airlangga (UNAIR) memperkuat fondasi objektif ini dengan membedah mekanisme biologis di balik emisi tersebut.
Pembentukan metana (CH4) di Bantargebang terjadi melalui proses dekomposisi bahan organik dalam kondisi anaerobik atau lingkungan minim suplai oksigen. Di dalam gunungan sampah yang luasnya mencapai 117 hektare itu, tumpukan sampah organik bercampur dengan kelembapan tinggi dan curah hujan, menciptakan ruang-ruang kedap udara yang menjadi surga bagi mikroorganisme. Pemeran utamanya adalah arkea metanogenik, kelompok mikroba anaerob yang mengonversi senyawa sederhana hasil pembusukan menjadi gas metana. Fakta biokimia ini merupakan realitas objektif yang tidak terbantahkan, seperti kebenaran yang dihasilkan dari observasi dan eksperimen ilmiah yang netral.
Meski ilmu pengetahuan mengutamakan objektivitas, subjektivitas tetap hadir dan memiliki peran dalam proses penyelidikan. Subjektivitas adalah cara pandang yang dipengaruhi oleh perasaan, pengalaman, dan opini seseorang, sehingga hasilnya bisa berbeda setiap individu. Dalam isu emisi metana Bantargebang, subjektivitas hadir dalam bagaimana berbagai pihak menafsirkan dan menanggapi data “6,3 ton per jam” tersebut.
Sebagai contoh, reaksi Menteri Koordinator Bidang Pangan, Zulkifli Hasan, saat mengunjungi lokasi tersebut menunjukkan sisi subjektif dari fenomena sampah yang setinggi gedung 20 lantai dan memberikan pernyataan politik bahwa masalah tersebut dapat diselesaikan dalam satu tahun jika ia diberi kewenangan melalui instruksi presiden. Di sini, masalah objektif yaitu kelebihan kapasitas sampah dan emisi gas dibungkus dalam narasi subjektif yang dipengaruhi oleh posisi politik, tanggung jawab jabatan, dan pengalaman pribadi sang menteri.
Subjektivitas juga terlihat pada bagaimana masyarakat sekitar Bantargebang merasakan dampak emisi tersebut. Bagi ilmuan, metana merupakan senyawa hidrokarbon yang lebih kuat dibanding karbon dioksida. Namun, menurut warga setempat metana merupakan pengalaman subjektif dalam bentuk bau busuk yang menyengat, gangguan kesehatan seperti mual, pusing, hingga detak jantung lebih cepat. Perbedaan perspektif ini membuktikan bahwa realitas yang sama dapat diinterpretasikan secara berbeda berdasarkan nilai dan kepentingan individu, yang merupakan hakikat dari subjektivitas.
Logika Penyelidikan Ilmiah mengajarkan bahwa subjektivitas perlu dikendalikan agar tidak mengaburkan kebenaran ilmiah. Hal ini dilakukan dengan cara berpikir kritis dan menggunakan metode yang tepat. Kasus Bantargebang memberikan pelajaran tentang bagaimana menghindari bias dalam menyikapi data.
Wahid Dianbudiyanto memberikan catatan terhadap satelit Carbon Mapper menangkap gumpalan gas (plume) di Bantargebang, lokasi lain seperti TPA Benowo di Surabaya justru tidak terdeteksi dalam radar meski volumenya besar. Secara objektif, hal ini dikarenakan TPA Benowo telah menerapkan teknologi gasifikasi dan penangkapan landfill gas (LFG) untuk pembangkit listrik, sehingga metana yang lepas ke atmosfer lebih sedikit. Di sini, objektivitas ilmu pengetahuan membantu kita untuk tidak hanya panik melainkan mencari tahu penyebab dasarnya melalui perbandingan data yang simetris.
Namun, di sisi lain, ilmu pengetahuan juga mengakui bahwa subjektivitas yang positif dapat menjadi inovasi. Pemikiran untuk mengubah “ancaman” menjadi “peluang” energi alternatif adalah hasil dari proses interpretasi data yang kreatif. Gas metana secara objektif berbahaya jika menumpuk karena adanya risiko ledakan dan kebakaran, namun dapat dikelola secara subjektif sebagai komoditas sumber energi yang berpotensi menggantikan LPG melalui sistem biogas. Transformasi paradigma dari melihat sampah sebagai “limbah” menjadi “sumber daya” adalah hasil dari dialektika antara fakta objektif dan visi subjektif untuk kesejahteraan masyarakat.
Persoalan emisi metana di TPST Bantargebang adalah alarm darurat bagi tata kelola sampah Indonesia. Dari perspektif logika penyelidikan ilmiah, isu ini mengingatkan kita bahwa kebenaran hanya bisa dicapai jika kita mampu menyeimbangkan objektivitas data dengan kesadaran subjektivitas interpretasi. Data objektif dari satelit NASA dan analisis para pakar memberikan fondasi kuat bahwa Bantargebang berada pada level super-emitter yang membahayakan iklim global.
Namun, data tersebut tidak berarti jika tanpa tindakan yang dipandu oleh pemikiran kritis dan kebijakan yang bersih dari bias. Logika penyelidikan ilmiah menuntut kita untuk berpindah dari sekedar mengumpulkan data menuju langkah nyata, seperti pemilihan sampah organik dari sumbernya dan optimalisasi penangkapan gas di landfill. Sebagai masyarakat, kita harus memahami bahwa subjektivitas dan objektivitas bukanlah dua kutub yang saling meniadakan, melainkan saling melengkapi menuju solusi keberlanjutan. Bantargebang bukan hanya gunung sampah, ia adalah ujian bagi integritas logika ilmiah kita dalam menghadapi krisis lingkungan global.
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com - Syarat dan Ketentuan - Kebijakan Privasi - Panduan Komunitas - Disclaimer











































































