Bagi sebagian murid, melihat nilai tryout yang terus berada di bawah target bisa menjadi alasan untuk menyerah. Namun tidak bagi Muhammad Naufal Azmi.
Murid kelas XII F MAN 1 Yogyakarta itu justru memilih tetap melangkah ketika keadaan belum menunjukkan tanda-tanda kemenangan. Hari ini, langkah panjang itu membawanya diterima di Program Studi Teknologi Informasi Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) melalui jalur SNBT 2026.
Jika perjalanan tersebut dijadikan sebuah buku, Naufal sudah menyiapkan judulnya: 404: Menyerah Not Found. Judul itu bukan sekadar kalimat yang terdengar keren. Ia lahir dari pengalaman berbulan-bulan menghadapi ketidakpastian, kelelahan, dan keraguan yang nyaris datang setiap hari.
Titik balik terbesar dalam perjalanannya terjadi ketika pengumuman SNBP menyatakan dirinya tidak lolos. Kekecewaan itu menjadi tamparan yang mengubah cara pandangnya. Tidak ada banyak waktu untuk larut dalam kesedihan. Ia sadar bahwa satu-satunya pilihan adalah bangkit dan mempersiapkan diri untuk SNBT.
Sejak saat itu, hari-harinya berjalan dengan pola yang hampir sama. Belajar, mengerjakan tryout, mengevaluasi hasil, lalu mengulang semuanya lagi keesokan hari. Rutinitas tersebut berlangsung dari pagi hingga malam dengan waktu istirahat yang sangat terbatas.
Di balik kesibukan itu, ada satu ketakutan yang jarang ia tunjukkan kepada orang lain: tidak diterima di perguruan tinggi negeri mana pun. Ketakutan itu semakin terasa ketika hasil tryout yang dikerjakannya berkali-kali belum juga mencapai passing grade jurusan yang diinginkan. Bahkan dua hari sebelum UTBK, nilainya masih belum memenuhi target pilihan pertama maupun kedua.
Banyak orang mungkin akan mulai menurunkan harapan pada kondisi seperti itu. Namun Naufal memilih bertahan.
Ia menganggap setiap hasil tryout bukan sebagai vonis, melainkan petunjuk tentang apa yang harus diperbaiki. Baginya, latihan soal tidak akan berarti tanpa evaluasi yang jujur terhadap kesalahan-kesalahan yang dibuat.
Di tengah perjuangan tersebut, ada satu kebiasaan sederhana yang selalu ia lakukan: mencatat. Menurut Naufal, kebiasaan yang sering dianggap sepele itu justru menjadi salah satu senjata terbaiknya. Catatan membantunya kembali memahami materi yang terlupa dan menjadi pengingat ketika harus menghadapi soal-soal serupa di kemudian hari.

Meski dikenal memiliki daya juang tinggi, bukan berarti perjalanan itu selalu mudah. Ada masa ketika ia merasa cukup pintar karena berada di kelompok atas kelas. Namun saat melihat kemampuan murid-murid lain, ia menyadari masih banyak yang harus dipelajari. Kesadaran itu tidak membuatnya patah semangat, justru menjadi bahan bakar untuk terus berkembang.
Semangat tersebut tidak tumbuh sendirian. Di belakang Naufal ada orang tua, kakak, dan sahabat yang terus menjaganya agar tidak kehilangan arah. Mereka menjadi sumber energi ketika semangat mulai menurun dan alasan untuk terus bertahan ketika rasa lelah datang.
Maka ketika tulisan “lulus” akhirnya muncul di layar pengumuman SNBT, orang pertama yang terlintas di pikirannya adalah kedua orang tuanya. Mereka yang selama ini menunggu kepulangannya setelah belajar hingga malam, membiayai bimbingan belajar, membelikan buku-buku persiapan, dan tak pernah berhenti mendoakan yang terbaik.
Bagi Naufal, keberhasilan diterima di Teknologi Informasi ITS bukan hanya tentang berhasil masuk kampus impian. Lebih dari itu, keberhasilan tersebut menjadi bukti bahwa proses panjang tidak pernah mengkhianati usaha.
Sejak kecil, ia memang menyukai dunia teknologi. Dari televisi, robotika, coding, hingga perkembangan kecerdasan buatan yang dahulu hanya tampak seperti cerita fiksi. Ketertarikan itulah yang akhirnya mengantarkannya memilih Teknologi Informasi sebagai jalan masa depan.
Kini, setelah melewati seluruh proses itu, definisi sukses menurut Naufal pun berubah.
Sukses bukan lagi sekadar tentang hasil akhir atau tulisan “lulus” yang muncul di layar. Sukses adalah kemampuan untuk terus bertahan, tetap berjuang, dan tidak menyerah meski berkali-kali dihadapkan pada alasan untuk berhenti.
Dan mungkin itulah makna sebenarnya dari judul yang ia pilih untuk kisah hidupnya “404: Menyerah Not Found.”
Penulis: Deti Prasetyaningrum, S.Pd (Guru MAN 1 Yogyakarta)
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com - Syarat dan Ketentuan - Kebijakan Privasi - Panduan Komunitas - Disclaimer








































































