Apa Itu Ikan Sapu-Sapu?
Ikan sapu-sapu yang secara sistematika termasuk dalam famili Loricariidae, kelas Actinopterygii dan ordo Silurifomes diduga sudah ada sejak tahun 1970 di Indonesia. Namun baru tercatat keberadaannya sejak tahun 1900-an. Sejumlah peneliti melaporkan temuan ikan sapu-sapu di sungai Ciliwung sebagai hasil kegiatan observasi dan identifikasi jenis-jenis ikan yang mereka lakukan. Ikan sapu-sapu yang lebih dikenal dengan istilah pleco ini, merupakan salah satu ikan yang berasal dari Amerika Selatan, tepatnya dari sungai Amazon ikan ini merupakan ikan asli sungai Amazon yaitu sungai terpanjang kedua di dunia setelah sungai Nil. Ikan sapu-sapu dikenal sebagai penghuni dasar perairan yang sering terlihat menempel di batu atau dinding sungai. Bentuknya unik, dengan tubuh keras dan mulut pengisap yang membuatnya dijuluki “pembersih” alami (Elfidasari, 2020).

(Sumber: Friastuti, 2026).
Ikan sapu-sapu merupakan spesies invasif yang memiliki kemampuan adaptasi tinggi terhadap lingkungan perairan, termasuk perairan yang tercemar. Populasinya berkembang cepat karena memiliki sedikit predator alami dan mampu bersaing dengan ikan lokal dalam memperoleh makanan serta habitat. Keberadaan ikan ini juga dapat meningkatkan kekeruhan air akibat aktivitasnya di dasar perairan sehingga berpotensi mengganggu keseimbangan ekosistem sungai dan danau (Hasrianti, 2021).
Ada Risiko Tersembunyi di Balik Kemelimpahan
Meski terlihat sebagai solusi bahan pangan murah, ada sisi lain yang perlu dicermati. Ikan sapu-sapu sering ditemukan hidup di perairan yang tercemar, seperti sungai dengan limbah rumah tangga atau industri. Dari sinilah muncul potensi masalah. Ikan ini dapat menyerap dan menumpuk zat berbahaya dari lingkungannya, termasuk logam berat seperti merkuri (Hg), timbal (Pb), dan kadmium (Cd). Jika ikan yang berasal dari lingkungan tercemar ini dikonsumsi secara terus-menerus, zat-zat tersebut dapat berdampak pada kesehatan tubuh. Dampaknya bisa berupa gangguan pada sistem saraf, ginjal, atau fungsi tubuh lainnya. Namun perlu digaris bawahi ikan sapu-sapu tidak otomatis berbahaya. Risikonya sangat bergantung pada kondisi lingkungan tempat hidupnya. Jika berasal dari perairan bersih, tentu tingkat keamanannya berbeda (Aris dkk., 2021).

(Sumber: Prihatini, 2026).
Selain logam berat, ikan sapu-sapu yang hidup di perairan tercemar juga berpotensi mengalami bioakumulasi zat pencemar dalam tubuhnya. Proses ini terjadi ketika zat berbahaya dari air dan sedimen terus menumpuk di jaringan ikan dalam jangka waktu lama. Semakin tinggi tingkat pencemaran perairan, maka semakin besar pula risiko kontaminasi pada ikan yang dikonsumsi manusia. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa kandungan logam berat pada ikan dapat melebihi ambang batas keamanan pangan dan berisiko menimbulkan gangguan kesehatan apabila dikonsumsi secara terus-menerus (Anwar dkk., 2022).
Realita di Lapangan: Antara Murah dan Minim Informasi
Penggunaan ikan sapu-sapu dalam makanan olahan masih menghadapi berbagai tantangan. Pengawasan terhadap bahan baku makanan, terutama di sektor informal, masih terbatas. Di sisi lain, konsumen sering kali tidak mendapatkan informasi yang jelas mengenai bahan yang digunakan dalam produk yang mereka beli. Harga yang murah menjadi daya tarik utama. Bagi produsen, ini bisa menjadi cara untuk menekan biaya. Namun bagi konsumen, kondisi ini bisa menjadi “jebakan” jika tidak diimbangi dengan informasi yang cukup (Putri dkk., 2022).

(Sumber: Taufik, 2026).
Peningkatan pengawasan keamanan pangan menjadi hal penting untuk mencegah penggunaan bahan baku ikan yang tidak layak konsumsi dalam produk olahan. Kurangnya informasi mengenai asal bahan pangan dapat membuat konsumen sulit membedakan produk yang aman dan tidak aman. Selain itu, pengawasan pada sektor pangan informal masih menghadapi berbagai kendala, seperti keterbatasan pengawasan mutu dan minimnya edukasi keamanan pangan kepada masyarakat (Febrianis, 2023).
Alternatif Pemanfaatan Ikan Sapu-Sapu
Pemanfaatan ikan sapu-sapu (Pterygoplichthys sp) sebagai pakan ternak alternatif merupakan solusi inovatif untuk mengatasi tingginya harga pakan komersial. Ikan predator ini memiliki kandungan nutrisi yang sangat potensial, dengan kadar protein mencapai 52,7% dalam bentuk tepung dan 75,5% pada bagian dagingnya. Penggunaan sumber daya lokal ini diestimasi mampu menekan biaya produksi budidaya ternak secara signifikan, yakni sekitar 70% hingga 80%. Meskipun bermanfaat, tingkat adopsi peternak di wilayah Danau Soppeng masih rendah karena berbagai hambatan teknis dan persepsi masyarakat. Masalah utama yang dihadapi meliputi kulit ikan yang keras sehingga sulit ditangani (73%), ketidaktahuan mengenai cara pengolahan (83,3%), serta pandangan bahwa ikan ini hanyalah hama yang tidak memiliki nilai jual (86,7%). Oleh karena itu, diperlukan intensitas penyuluhan yang lebih masif untuk mengubah limbah perairan ini menjadi produk pakan yang bernilai ekonomis dan berkelanjutan (Abdullah dkk., 2025).
Penulis : Ajeng Sabrina Putri, Armellia Franciska, Aurora Putri Airy, Berliana Yunia Rozi, Dara Permata Sari, Fernando Miroslav, Jennita Rahma Putri
instansi= Universitas Lampung
Daftar Pustaka
Abdullah, A., Hastang, Lahai, N., Aprisal, K., Dharmawan, A., Mutmainnah, dan Utami, S. W. 2025. Hambatan adopsi pemanfaatan ikan sapu-sapu sebagai pakan ternak di perairan Danau Kabupaten Soppeng. Jurnal Peternakan Indonesia. 27(3): 209–215.
Anwar, C., Wonggo, D., dan Mongi, E. 2022. Logam Berat Timbal (Pb) dan Kadmium (Cd) pada Beberapa Jenis Ikan Demersal di Perairan Teluk Manado, Sulawesi Utara. Media Teknologi Hasil Perikanan. 10(3): 198-202.
Aris, M., Ibrahim, T. A., dan Nasir, L. 2021. Kontaminasi logam nikel (Ni) pada struktur jaringan ikan. Budidaya Perairan. 9(1): 64–72.
Elfidasari, D. 2020. Yuk Mengenal Ikan Sapu-Sapu sungai Ciliwung. Pustaka Rumah C1nta. Magelang.
Febrianis, A. 2023. Pengawasan keamanan pangan jajanan anak sekolah (PJAS) di Kota Solok tahun 2023. Innovative: Journal Of Social Science Research. 3(3): 9631-9643.
Hasrianti, H. 2021. Identifikasi Jenis Ikan Sapu-Sapu (Loricariidae) Berdasarkan Karakteristik Pola Abdomen Di Perairan Danau Sidenreng. Jurnal Sains dan Teknologi Perikanan. 1(2): 56-65.
Putri, H. D., Haninah, Elfidasari, D., dan Sugoro, I. 2022. Kandungan Nutrisi Abon Ikan Sapu-Sapu (Pterygoplichthys pardalis) Asal Sungai Ciliwung, Indonesia. Jurnal Pengolahan Pangan. 7(1): 14–19.
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com - Syarat dan Ketentuan - Kebijakan Privasi - Panduan Komunitas - Disclaimer











































































