Di tengah kehidupan modern yang serba cepat, kesuksesan sering kali diukur dengan ukuran-ukuran material. Rumah megah, kendaraan mewah, jabatan tinggi, dan penghasilan besar menjadi simbol keberhasilan yang dipuja banyak orang. Tidak mengherankan jika sebagian besar manusia rela menghabiskan waktu, tenaga, bahkan nilai-nilai yang diyakininya demi mengejar pencapaian duniawi. Namun, di balik gemerlap kesuksesan tersebut, apakah manusia benar-benar memperoleh ketenangan dan keberkahan hidup?
Pertanyaan inilah yang secara halus namun tajam diangkat oleh A. Mustofa Bisri atau yang dikenal sebagai Gus Mus dalam cerpen Konvensi. Melalui kisah sederhana tentang seorang pemijat bernama Markum Zarqoni atau yang dikenal dengan nama profesional “Mr. Qoney”, Gus Mus mengajak pembaca merenungkan kembali makna kesuksesan yang sesungguhnya.
Cerita diawali dengan kegelisahan tokoh “aku” yang mengamati kehidupan orang-orang di Jakarta. Kota metropolitan itu digambarkan sebagai ruang yang penuh kesibukan, tempat manusia bergerak tanpa henti seperti gasing yang terus berputar. Semua orang tampak terburu-buru, seolah waktu selalu mengejar mereka. Gambaran tersebut tidak hanya merepresentasikan Jakarta, tetapi juga kehidupan masyarakat modern secara umum.
Di tengah suasana itulah muncul sosok Markum Zarqoni. Secara ekonomi, ia dapat dikatakan berhasil. Keahliannya sebagai pemijat membuatnya memiliki banyak pelanggan, mulai dari pejabat hingga warga negara asing. Bahkan, jasanya cukup terkenal di kalangan hotel-hotel besar. Namun, keberhasilan tersebut justru melahirkan kegelisahan dalam dirinya.
Sebagai seseorang yang pernah hidup di lingkungan pesantren, Zarqoni memiliki kesadaran religius yang kuat. Ia tidak hanya memikirkan apakah pekerjaannya menghasilkan uang, tetapi juga mempertanyakan apakah rezeki yang diperolehnya benar-benar membawa keberkahan. Kegelisahan itu muncul ketika pekerjaannya mengharuskannya berinteraksi dalam situasi yang menurut keyakinannya berpotensi mendekatkan diri pada hal-hal yang syubhat atau meragukan.
Di sinilah letak kekuatan cerpen Konvensi. Gus Mus tidak menghadirkan konflik besar atau peristiwa dramatis. Sebaliknya, ia mengangkat persoalan yang sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari, benturan antara tuntutan ekonomi dan idealisme moral. Banyak orang mungkin pernah berada dalam posisi seperti Zarqoni, yakni ketika pekerjaan yang mendatangkan penghasilan besar justru memunculkan kegelisahan dalam hati.
Melalui tokoh tersebut, Gus Mus seakan ingin mengingatkan bahwa kesuksesan tidak selalu identik dengan ketenangan. Seseorang dapat memiliki penghasilan yang cukup, pekerjaan yang mapan, bahkan penghargaan dari banyak orang, tetapi tetap merasa gelisah jika ada nilai-nilai yang dianggap penting terabaikan. Dalam konteks ini, keberkahan menjadi sesuatu yang berbeda dari sekadar keuntungan material.
Kritik sosial Gus Mus juga tampak dalam penggambaran masyarakat yang sibuk mengejar dunia, seakan lupa akan akhirat yang menanti. Manusia sering melupakan tujuan hidup yang lebih mendasar. Banyak orang mengaku beriman dan percaya bahwa rezeki telah diatur oleh Tuhan, namun dalam praktiknya mereka justru menghabiskan hampir seluruh hidup untuk mengejar dunia. Ibadah sering kali tersisih oleh target-target ekonomi yang tidak pernah selesai.
Fenomena tersebut masih sangat relevan hingga hari ini. Di era media sosial, ukuran kesuksesan bahkan semakin sempit. Kehidupan yang terlihat mewah dan pencapaian yang dipamerkan di ruang digital sering dijadikan standar kebahagiaan. Akibatnya, banyak orang merasa harus terus berlari agar tidak tertinggal. Tidak pernah merasa puas dan terus haus akan validasi sekitar. Padahal, semakin cepat berlari belum tentu semakin dekat dengan ketenangan hidup. Manusia kerap tidak menyadari batas kapasitas dirinya, padahal pencapaian orang lain tidak bisa dijadikan tolak ukur keberhasilan diri sendiri.
Cerpen Konvensi mengajak pembaca untuk mempertanyakan kembali definisi sukses yang selama ini diyakini. Apakah sukses hanya tentang banyaknya harta dan tingginya posisi sosial? Ataukah sukses juga mencakup ketenangan hati, kebermanfaatan hidup, serta keyakinan bahwa rezeki yang diperoleh membawa keberkahan?
Pada akhirnya, Gus Mus tidak memberikan jawaban yang menggurui. Ia justru menyodorkan cermin bagi pembacanya. Ia memberikan kebebasan bagi para pembaca untuk menjawab pertanyaan yang diberikan Zarqoni agar dapat menilai diri sendiri di dunia yang bersifat sementara. Apakah selama ini kita hanya mengejar kesuksesan lahiriah, ataukah juga berusaha mendapatkan keberkahan hidup?
Di tengah dunia yang terus berputar semakin cepat, pertanyaan itu mungkin menjadi semakin penting untuk dijawab. Sebab, manusia tidak hanya membutuhkan keberhasilan untuk hidup, tetapi juga ketenangan untuk menikmatinya.
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com - Syarat dan Ketentuan - Kebijakan Privasi - Panduan Komunitas - Disclaimer











































































