Seberapa sering kita menunda salat karena alasan “masih sibuk?”. Pertanyaan sederhana namun menyadarkan itulah yang coba dijawab melalui ceramah bertema “Meningkatkan Kesadaran Ibadah di Kalangan Masyarakat” yang digelar oleh mahasiswa kelas G738 Mata Kuliah Umum Agama Islam Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Jawa Timur di Masjid Baitul Ma’mur, Medokan Asri, Surabaya, di bawah bimbingan dosen pengampu Imroatul Ajizah, S.Pd.,M.Pd. Tim yang beranggotakan Rarasati, Jessica Amelia Maharani, Hanif Firmansyah, Mohammad Afar Tazannar, Nauval Yusuf Fathin, Milzam Samputra Ramadhan, dan Yazid Al Busthomy Achmad ini mengajak jamaah untuk kembali menghidupkan kesadaran salat lima waktu, tanpa kehilangan sikap toleransi terhadap sesama.
Kegiatan ini didasari oleh persoalan yang benar-benar terjadi di masyarakat, yaitu rendahnya kedisiplinan sebagai masyarakat, khususnya usia produktif, dalam menunaikan ibadah wajib, serta minimnya pemahaman akan pentingnya salat sebagai tiang agama. Ceramah dipilih sebagai media penyampaian secara langsung agar lebih komunikatif dan mampu menjangkau jamaah dari berbagai kalangan usia maupun latar belakang sosial.
Ceramah yang berlangsung sekitar 10 menit ini disampaikan secara interaktif dengan menyelipkan contoh-contoh nyata dari kehidupan sehari-hari, sehingga pesan yang disampaikan terasa lebih relevan bagi para jamaah. Seperti yang disampaikan oleh Hanif Firmansyah dalam ceramahnya, ia mengutip nasihat dari beberapa ulama yang menegaskan, “Salat adalah satu-satunya ikatan antara kita dengan langit, sekaligus satu-satunya penghubung antara seorang hamba dengan Allah. Maka, ketika seorang meninggalkan salat meski hanya sekali, sesungguhnya ia telah memutuskan ikatannya dengan Allah.” Pesan tersebut sontak menyentuh hati sebagain besar jamaah yang mendengarkannya. Usai sesi ceramah, dibuka pula sesi tanya jawab yang berlangsung antusias, mencerminkan tingginya minat jamaah untuk berdialog langsung dengan penceramah. Rangkaian acara ditutup dengan doa bersama serta ramah tamah yang mempererat silaturahmi anatarjamaah.
Tidak sebatas mengulas kewajiban salat, materi yang disampaikan juga menekankan sikap moderat dalam beragama, yakni tidak mudah menyalahkan atau menghakimi sesama muslim yang masih berproses dalam menjalankan ibadahnya. Dakwah tentang salat pun ditekankan harus disampaikan dengan cara yang santun dan persuasif, bukan dengan paksaan atau penghakiman, guna mencegah berkembangnya sikap fanatisme dan ekstremisme dalam beragama.
Antusiasme jamaah menjadi bukti nyata keberhasilan kegiatan ini. Mereka tampak semakin menyadari bahwa salat bukan sekadar kewajiban semata, melainkan sarana pembentukan akhlak, kedisiplinan, dan ketenangan jiwa. Rasa kebersamaan dan solidaritas antarjamaah pun turut tumbuh melalui interaksi yang terjalin selama kegiatan berlangsung.
Kegiatan ini menjadi lebih dari sekadar penyampaian materi keagamaan, tetapi menjadi langkah kecil dalam merawat kerukunan sekaligus kedisiplinan beribadah di tengah masyarakat. Di masa mendatang, kegiatan serupa diharapkan bisa menjadi agenda dakwah berkelanjutan dengan topik yang lebih variatif, termasuk menjangkau kalangan remaja masjid, sekaligus dipublikasikan secara luas melalui media sosial supaya manfaatnya dirasakan oleh masyarakat yang lebih luas.
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com - Syarat dan Ketentuan - Kebijakan Privasi - Panduan Komunitas - Disclaimer










































































