Dalam novel Ronggeng Dukuh Paruk karya Ahmad Tohari, persoalan manipulasi dan hilangnya kebebasan terlihat jelas melalui tokoh Srintil. Sejak kecil, ia dipercaya memiliki “indang ronggeng” sehingga dianggap telah ditakdirkan menjadi ronggeng bagi masyarakat Dukuh Paruk. Kepercayaan tersebut membuat kehidupan Srintil tidak lagi sepenuhnya menjadi miliknya sendiri. Masa depan, peran sosial, bahkan tubuhnya seolah menjadi bagian dari kepentingan masyarakat yang menempatkannya sebagai simbol kebanggaan desa.
Terlihat dalam kutipan:
“Dukuh Paruk tanpa ronggeng bukanlah Dukuh Paruk. Srintil akan mengembalikan citra sebenarnya pedukuhan ini.” (hal. 17)
Selain itu, masyarakat Dukuh Paruk memandang ronggeng sebagai bagian penting dari kehidupan mereka:
“Bukankah ronggeng bisa membuat kita betah hidup?” (hal. 19)
Kedua kutipan tersebut menunjukkan bahwa Srintil diposisikan sebagai sosok yang harus memenuhi harapan masyarakat. Identitasnya sebagai ronggeng lebih dihargai daripada keinginannya sebagai individu. Ia memang memperoleh penghormatan dan status sosial, tetapi penghargaan tersebut dibayar dengan hilangnya kebebasan untuk menentukan jalan hidupnya sendiri. Dalam situasi ini, manipulasi tidak dilakukan melalui ancaman atau kekerasan, melainkan melalui tradisi, kepercayaan budaya, dan tekanan sosial yang membuat Srintil merasa harus menerima peran tersebut sebagai takdir.
Relevansi persoalan ini dapat dilihat pada kasus child grooming yang diungkap oleh Aurelie Moeremans melalui buku Broken Strings. Kasus tersebut menunjukkan bahwa manipulasi sering kali hadir secara halus melalui perhatian, kedekatan emosional, dan pemberian rasa aman sehingga korban sulit menyadari bahwa dirinya sedang dikendalikan. Pelaku secara perlahan membangun kepercayaan korban hingga korban menjadi bergantung secara emosional dan kehilangan kemampuan untuk mengambil keputusan secara bebas.
Sama seperti Srintil yang sejak kecil dibentuk oleh lingkungan untuk menerima perannya sebagai ronggeng, korban grooming juga mengalami proses pembentukan cara berpikir yang membuat mereka menerima keadaan tanpa banyak mempertanyakannya. Dalam kedua kasus tersebut, kebebasan individu berkurang karena adanya pengaruh kuat dari pihak lain yang memiliki kuasa lebih besar, baik berupa tradisi masyarakat maupun relasi yang manipulatif.
Melalui kisah Srintil, novel Ronggeng Dukuh Paruk mengingatkan bahwa manipulasi tidak selalu tampak dalam bentuk kekerasan fisik. Manipulasi dapat hadir melalui norma, harapan sosial, maupun kedekatan emosional yang perlahan mengendalikan pilihan seseorang. Oleh sebab itu, penting bagi setiap individu untuk memiliki kesadaran kritis dan kebebasan dalam menentukan jalan hidupnya sendiri agar tidak menjadi korban dari berbagai bentuk manipulasi yang membatasi hak dan kemerdekaan pribadi.
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com - Syarat dan Ketentuan - Kebijakan Privasi - Panduan Komunitas - Disclaimer










































































